Mencoba Pelayanan BPJS (Part II)


RS. Carolus Melayani Dari Hari Membangkitkan Harapan

Ok, setelah setengah harian antri di Faskes tingkat pertama Puskesmas Menteng dan siangnya lanjut ke RS Carolus untuk rujukan.

Sayangnya senin itu tidak ada praktik dokter untuk pasien BPJS, dan ada di hari selasa ke esokkannya. Ya sudah jalani dan ikuti peraturan yang berlaku. Memang nomor antrian dokter dapat diambil satu hari sebelum praktik tapi tetap pasien BPJS harus juga mengambil nomor rujukan di loket BPJS. 

Intinya adalah harus antri 2 kali, nomor BPJS dahulu lalu ke Polinya. Memang BPJS sistem antriannya ajaib. Selain letak loket mereka yang terpisah (berada di gedung lain) dari loket pelayanan umum.

Bertemu Dr. Maria Mayasari, SPB, KBD
Tapi untuk urusan dokter, BPJS patut diacungi jempol dan semoga demikian seterusnya. Meskipun tidak dapat memilih dokter, tetap dokter yang diberikan adalah yang terbaik. Setidaknya demikian menurut kami, berdasarkan pengalaman kami pertama konsultasi dengan beliau. Kami coba browsing namanya dan banyak tulisan tentang Dr Maria Mayasari ini. 

Dr. Maria (Sumber : Website. RS. Carolus)

Dari web  RS Carolus sendiri menjelaskan profil Dr Maria sebagai berikut :  "Dr. Maria Mayasari adalah ahli bedah dan konsultan bedah digestif. Setelah menyelesaikan pendidikan spesialis bedah umum di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2006, beliau menjalankan pendidikan lanjut subspesialisasi bedah konsultan bedah digestif di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan lulus tahun 2009. Beliau lalu mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan sebagai Clinical Fellow Hepato-Pancreato-Biliary Surgery di National University Hospital, Singapura selama 1 tahun pada 2010-2011.

Dr. Maria Mayasari aktif dalam berbagai pelatihan nasional dan internasional. Beliau terus memutakhirkan keilmuan dengan mengikuti pelatihan di bidang digestif seperti Workshop for Bariatric and Metabolic Surgery di Kaohsiung dan Clinical Nutrition Course:perioperative, ICU, diseases of the liver/pancreas, cancer di Bali.
Saat ini, beliau adalah anggota aktif dari Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI) dan Ikatan Ahli Bedah Digestif Indonesia (IKABDI)."

Setidaknya lebih dari 30 menit kami berbicara mengenai bedah digestif. Teknik bedah yang digunakan untuk mengangkat kantung empedu. Bahayanya dan pengobatannya.

Jadwal Praktek Dr Maria di RS. Carolus 

Untuk kasus istri saya.
Melihat fisik istri ketika berkonsultasi dengan beliau, memang tidak ditemukan tanda kuning di tubub atau dimata. Hmm pasti ini disebabkan kondisi billirubin yang sedang baik. Sementara ketika terjadi serangan dan terakhir cek darah billirubi naik ke angka 5 dari ukuran normal 1 (orang sehat).
Berdasarkan billirubin inilah, tindakan operasi menjadi panjang. Kuning di tubuh (yang terdapat dari cek darah) menandakan ada batu yang mungkin menyumbat di saluran empedu. Kalau ini benar maka batu yang di saluran dahulu di keluarkan. Nama tindakannya adalah endoskopi dengan memasukkan selang dari mulut terus ke pencernaan dan lanjut ke saluran empedu.

Oh iya nama penyakit yang diderita istri saya itu bahasa kedokterannya Cholelithiasis akut dengan riwayat Cholesititis. Bahasa sederhananya batu di kantung empedu yang sudah pernah kena serangan kolik. Jadi kalau lagi serangan batu empedunya, seperti orang kena sakit maag akut. Bahkan Dr Arnold Simanjutak, salah satu pakar (udah pensiun) penyakit ini juga menyatakan "memang kalau sedang kambuh sakitnya melebihi orang melahirkan, tapi kalau tidak ada serangan, seperti tidak memiliki suatu penyakit." Ia sendiri mendifinisikan penyakit ini sebagai penyakit TOMAT, Tobat kalau kumat.

Lanjut ya, untuk mengetahui apakah batu ada yang nyumbat disaluran empedu, maka diperlukan pemeriksaan darah dan MRI lengkap. Sayangnya pasien BPJS di RS. Carolus belum bisa diterima selain belum ada MRI yang dimaksud, jika pun ada diperlukan  lagi ahli endoskopinya. 

Maka dr. Maria merujuk kami ke RSCM karena disana lebih lengkap. Kecuali ada hasil darah yang menandakan tidak ada batu yang menyumbat di saluran empedu maka tindakan yang diambil hanya pengangkatan kantung empedu saja. Pun demikian pasien BPJS di RS Carolus penanganan paaien seperti ini masih menggunakan teknik bedah konvensional yaitu membuka perut dengan sayatan, tidak menggunakan bedah laparaskopi yang minim invasif.
Tapi memang beliau menyarankan, agar ditanyakan dahulu ke bagian BPJS nya apa bisa cost sharing jika pasien mau melakukan tindakan di Carolus. Karena pasien sendiri untuk kelas penginapannya harus naik di kelas VIP (minimal, dan pasti mehong cyin). Itu baru kelas buat tidur saja ya, belum llainnya seperti obat, jasa dokter dan lainnya, memang sich  kalau laparaskopi hanya butuh 3 hari perawatan saja lebih cepat ketimbang bedah biasa.
Tapi yang namanya operasi, membuat istri merinding disko juga. Baik itu laparaskopi atau bedah biasa. Sayangnya untuk penyakit batu di kantung empedu ini belumlah ada obatnya (selain operasi pengangkatan kantung empedu). Jadi pasien hanya diberikan obat penghilang rasa sakit saja mengatisipasi jika serangan sakit datang tiba-tiba. 

Dr. Maria sendiri mengkhawatirkan jika tidak segera dilakukan operasi, batu yang ada dikantung empedu bisa bergerak kemana-mana. Pergerakan inilah yang biasanya menimbulkan sakit luar biasa. Berdoa saja agar batu tidak masuk ke saluran Pankreas, ini yang sulit untuk ditindaklanjuti nantinya. 

Belum diketahui secara pasti pergerakan batu, tapi yang bisa dilakukan adalah mencegah kantung empedu kontraksi atau melakukan kegiatannya. Biasanya kantung empedu bekerja ketika ada unsur minyak yang masuk ke dalam pencernaan sehingga si kantung akan bergerak bersama dengan hati menghasilkan cairan empedu. Nah ketika bergerak itulah batu didalamnya akan bergerak atau keluar atau terkena dengan bagian lain dari kantung empedu ini yang membuat pasien sakit luar biasa.

Sebagian mengatakan, makan apel dapat membuat batu nya terbuang, dan ini hanya mitos yang belum terbukti uji klinisnya. Mengurangi sakitnya memang benar, tapi menghilangkan batunya adalah tidak benar. 

Hmm, lugas kan Dr. Maria menjelaskan detil penyakit Cholelithiasis. Jadi ini kami anggap sebagai second opinion kami dari dokter sebelumnya. Selain di Carolus, Dr Maria juga praktek di RS. Medistra. 

Yup, cukup hari ini di Carolus, karena kalau langsung ke RSCM, tidak bisa, harus menunggu keesokan hari lagi. 

Sempat juga tanya-tanya ke bagian perawatan jalur umum, suster hanya memberikan gambaran besar saja. Untuk tindakan Laparaskopi di bebankan biaya (jasa dokter saja) sekitar 22 juta, belum termasuk kamar dan obat-obatan ya. Dugaan suster untuk kamar jelas 3 yang seharinya Rp. 250.000,- dan perkiraan obat diperlukan sekitar 5-10 juta lagi. 

Dan seperti yang saya sudah sebut diatas, ada juga pembiayaan cost sharing sebagian BPJS tanggung sebagian lagi pasien tanggung. Tapi Carolus agak enggan untuk menerangkan secara detil pun pihak BPJS nya. Sambil menyarankan lakukan saja proses rujukannya. 

Ok... Puji Tuhan berjalan lancar hari ini....
Semoga besok juga ...
*orang baik rejekinya juga baik*

Tidak ada komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih