Melakukan Social Distancing, Dimulai dari Siapa? (Opini Pribadi)


Ilustrasi dari pixabay)dot)com


Wabah Virus Corona 19 sedang melanda dunia. Mengenai Virus Corona itu sendiri sudah banyak yang membahas dan menjelaskannya. Namun ada salah satu yang membuat saya gemas, geram dan gelisah. Dan mencoba menuangkannya ke dalam tulisan pendek ini.

Kami Saja Yang Diluar, Kamu Dirumah Saja Ya,
Ga ada yang salah dengan slogan diatas, bahkan saya sangat mendukung dan mengapresiasi penuh jika diucapkan oleh golongan yang berada di garda terdepan seperti Dokter, Perawat dan Tim Medis. Namun yang menjadi jengkel ketika ada yang memanfaatkan slogan tersebut untuk kepentingan diri sendiri dan golongannya mengatasnamakan eksistensi.

Halo, wabah Covid 19 ini bukan wabah yang main-main. Dari yang kemunculannya di Indonesia berawal dari 2 dua orang yang bertemu orang asing di sebuah acara. Selepas itu Corona Virus Disease 19 ini masuk ke Indonesia dari berbagai macam penularan dan interaksi. Dalam hitungan hari saja sudah merenggut beberapa nyawa.

Beberapa ahli mencoba menerka langkah yang akan diambil pemerintah melalui pengalaman beberapa negara yang sudah lebih dahulu mengalami virus Covid 19 ini. Yang lain menyarankan agar mengambil langkah Lockdown namun dari sisi pemerintah sendiri sepakat untuk tidak mengambil langkah itu dan memilih jalur lain yaitu Social Distancing.

Sederhananya alih-alih meniadakan kegiatan atau mengunci semua masyarakatnya dan berkegiatan seperlunya dengan adanya Social Distancing ini diharapkan warga yang tidak memiliki urgensi tertentu tidak beraktivitas terlebih dahulu.

Lalu Siapa Yang Harus Mentaati Himbauan Pemerintah.

Kalau untuk garda terdepan seperti yang sudah saya sebutkan diatas sudah titik, tidak perlu dibahas. Kehadiran mereka diperlukan untuk mengobati penyakit yang sedang mewabah ini. Bahkan di tengah keterbatasan perlengkapan yang ada mereka tetap bertugas dan hasilnya beberapa dari mereka dipaksa untuk menjadi pahlawan-pahlawan bangsa ini dan meninggalkan sanak dan keluarga yang mereka kasihi. Itu Belum termasuk petugas keamanan seperti TNI dan Polri yang juga harus siap siaga setiap saat menjaga keamanan dan gejolak yang akan terjadi.

Nah masalah muncul ketika himbauan ini berhadapan dengan orang-orang yang memang tidak bisa melaksanakan Social Distancing bahkan tinggal tetap selama 14 hari dirumah karena keadaan sebut saja driver gojek online, pedagang kaki lima dan sejenisnya. Akhirnya himbauan ini menjadi mentah kembali masih ada beberapa golongan yang akan tetap berada diluar dan mencari nafkah untuk keluarganya.

Sampai disini sudah ada 2 golongan yang memiliki tingkat  keterpaparan terhadap virus ini, yang pertama tim medis karena tindakannya sementara lainnya karena harus bertahan hidup.

Sementara itu ada golongan lain yang memang masih bisa untuk melaksanakan total himbauan Social Distancing ini tapi entah kenapa, apakah karena pekerjaan mereka tidak dapat ditunda atau kemungkinan kehilangan profit yang luar bisa kalau tidak beraktifitas, sehingga himbauan yang diberikan ya hanya dilaksanakan sebatas himbauan.

Yang lucunya (menurut saya)  sempat ada iklan tayangan masyarakat yang dibagian akhir ada bagian petugas kebersihan menyatakan statement diatas, biar kami yang diluar kalian dirumah saja. Dan ini dimanfaatkan bagi beberapa para petinggi untuk berucap, hey lihat petugas kebersihan itu saja bela-belain masuk bekerja untuk memberikan kontribusinya, loh mengapa kita memutuskan untuk berdiam diri dirumah.

Tidak dapat dipungkiri juga memang beberapa pegawai nakal memanfaatkan situasi ini untuk kepentingannya sendiri, bermalas-malasan dan tidak produktif untuk sementara waktu.

Dilema bukan…..

Lalu Siapa Yang Harus Memulai memberikan Contoh.

Saat ini yang saya lihat kita sedang berada di masa hendak menunjukkan eksistensi pekerjaan kita dan kontribusi kita. Seolah-olah kalau tidak bekerja pada saat ini, yang sedang kita lakukan adalah pekerjaan receh atau tidak bermakna. Seakan-akan terlihat keren dan hebat ketika dimasa yang lain dihimbau untuk tidak bekerja, kita harus masuk bekerja itu adalah sebuah pencapaian. Menandakan pekerjaan kita itu hebat atau luar biasa atau diatas rata-rata.

Meskipun sebagian lainnya memang dipaksa masuk oleh atasan masing-masing dan tidak punya kekuatan untuk menolak perintah tersebut.

Saya terhenyak ketika seorang sahabat bercerita bahwa ia hendak melakukan setoran terkait pekerjaannya ke salah satu bank pemerintah. Dan bank tersebut tutup tidak melayani customer yang walk in, semua transaksi dilakukan via online atau ATM. Sementara sahabat saya ini masih harus masuk kantor demi melaksanakan tugas setor tadi (yang mana bisa dilakukan via ATM) namun karena satu dan lain hal kehadirannya tetap diperlukan.

Lalu saya lihat kembali media terutama teman-teman jurnalistik layar kaca, masih mengundang narasumber langsung ke studio untuk dimintakan pendapat. Helllo, bahkan Najwa Shihab sendiri melakukan teleconference mencontohkan bagaimana kegiatan dapat dilakukan memanfaatkan teknologi. Namun beberapa media melakukan seperti yang ia lakukan. Banyak narasumber yang  tetap mau datang hadir ke studio dan memberikan penjelasan (maksudnya baik mengedukasi masyarakat). Namun ini akan kembali lagi menjadi pertanyaan,  kenapa kalian menghimbau untuk tetap dirumah dan menyatakan berbahaya untuk berada diluar. Sementara kalian berada diluar dan seolah-olah menyatakan berbahaya untuk kalian (masyarakat) tetapi tidak untuk kami (sebagai narasumber). Karena kami paham bagaimana menanggulanginya dan kami memang harus bekerja dalam rangka mengedukasi (nah kembali lagi, mereka merasa pekerjaan mereka lebih penting ketimbang yang lain bukan).

Kalau terus menerus seperti ini, artinya yang dapat memberikan contoh baik saja tidak memberikan contoh baik. Sama seperti orang tua yang melarang anaknya merokok sementara ia sendiri asik merokok.

Bukankah kita memandang sebuah ketakutan yang sama,  harapan yang muncul seharusnya adalah reaksi kita semua sama yaitu hendak berlindung, bersembunyi untuk sementara waktu hingga semua keadaan membaik, bukan. Tapi berbeda-beda bukan. Lihat bahkan jalanan pun tidak terlihat lengang dan masih ada kegiatan tidak darurat di beberapa lokasi.

Artinya hingga beberapa waktu kedepan kalau sebatas himbauan saja dan sifatnya tidak memaksa atau setidaknya tidak dicontohkan yang baik dari golongan orang hebat diatas sana, Saya kok jadi merasa pesimis ya, wabah ini akan berkurang.

Semoga jangan sampai Social Distancing yang digadang-gadang mampu mengurai keramaian dan kerumunan orang tidak mampu melakukan itu dan negara kita dipaksa (terpaksa) melakukan Lockdowwn.

Sekiranya Tuha Memberkati Indonesia.





57 komentar

  1. Ya ampun setuju banget sama poin; 'bekerja di saat orang lain disuruh tidak bekerja adalah sebuah pencapaian.' Nemu orang yg sok bertanggungjawab, cuma karena ga enak jadi tetap ngantor. Padahal cuma liat mantau doang, yg kerja orang lain tapi foto terussss seolah2 sibuk jadi volunteer. Terus dia dianggap berdedikasi gitu? Sorry to say, cari panggung, you are not a hero. Sori nyampah pak.hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beberapa jadi seperti itu ka amel... karena ada kebanggaan ketika bekerja disaat yg lain tidak bekerja... padahal yg bekerja saat ini adalah orang2 garda terdepan saja.. trus pada mau ikut2an berasa orang garda terdepan semuanya...

      Hapus
  2. Setuju banget jika "Kami Saja Yang Diluar, Kamu Dirumah Saja Ya" Ini diucapkan oleh para tenaga medis. Karena mereka adalah garda terdepan dalam menangani wabah ini. Jangan sampai slogan ini disalah gunakan. Sebab hal tersebut akan malah membuat kerja tenaga kesehatan semakin berat. Lebih baik di rumah demi kebaikan bersama.. .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak sulis... semakin banyak yg ga patuh semakin kewalahan tenaga medis kita.. ayo tetap dirumah saja

      Hapus
  3. Selama social distancing masih berupa himbauan, apalagi ga kompak dr pusat ke daerah-daerah pasti ada aja yang ga patuh. Tapi kalo udah berupa peraturan lain lagi ceritanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah..setuju ya kak.. biar seragam dirumah..status himbauan dinaikkan menjadi sebuah aturan yang harus dipatuhi dan ada sangsi jika tidak dilaksanakan

      Hapus
  4. Benar bang,
    Sebenarnya yg di rumah siapa,
    Paling anak sekolah, kuliah,
    Yang bekerja aja gak semua wfh,
    Duhhh
    Tapi semoga corona ini segera berlalu, terus berdoa 😇

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin...semoga ininsegera berlalu ya kak..dan semua keadaan menjadi baik2 saja dan normal seperti sedia kala

      Hapus
  5. Kurangi apa yang bisa dikurangi. Tunda apa yang bisa ditunda. Butuh ketegasan dari aparat dan kesadaran diri sendiri dari masyarakatnya juga. Semoga wabah cepat berlalu yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak... butuh ketegasan aparat dan kesadaran masyarakatnya juga... amin semoga cepat berlalu wabah ini ya

      Hapus
  6. Nah, semua yang bandel-bandel itu bikin geram ya, Bang. Gimana ya, sepantasnya yang namanya pejabat pemerintah - orang yang notabene punya ilmu lebih dibandingkan masyarakat awam, seharusnya bisa menjadi panutan termasuk dalam menerapkan social distancing ini.

    Terus terang, dengan tidak bisa maksimalnya penerapan social distancing ini, lama-kelamaan aku khawatir cara ini sudah nggak ampuh lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak melina.. perhatikan saja jumlah yg kena semakin banyak kan... sementara penerapan social distancing belum maksimal

      Hapus
  7. Seperti makan buah simalakama. Begini salah begitu salah. Hehehe. Kalo saya pribadi, saya aware buat diri saya dan keluarga saya dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus kak mutia... dimulai dari kita dan kekuarga dulu...tapi kalau keluarga yg lain ga ngerti juga... semoga kita dijauhkan dari sakit penyakit ya kak..amin

      Hapus
  8. Bagi yang kerja kantor sebagian memang bisa WFH apalgi jika sistemnya sudah online seperti suami saya sesekali beliau memang wfh. Tapi pas liat para pedagang kecil, tkang kebersihan, dan lainnya rasanya nyesek mereka harus teteap kerja untuk bertahan hidup. jadi buah simalakama. sedangkan harga-harga barang terus melambung tinggi,].

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagian yg paling kecil biasanya yang paling menderita kak...dan ini yang harus kita dukung sama2 karena mereka ga bisa hidup kalau ga beraktivitas... sementara yg masih bisa hidup tanoa harus beraktivitas...ya sebisa mungkin dikurangi aktivitasnya

      Hapus
  9. Itulah dilemanya Bang, apalagi jika harus menyangkut bisnis, dan biaya hidup. Ada banyak pekerja juga yang memang tidak bisa bekerja dari rumah karena harus kerja lapangan. Semoga wabah Covid 19 ini bisa segera mereda dan berakhir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin semoga wabah segera berlalu ya kak.. bagi yg tidak bekerja ya mau ga mau..ini yg masih bisa dirumahkan...memilih untuk tetap masuk bekerja...

      Hapus
  10. terkadang Social distansing membuat orang merasa bermusuhan. Tapi disaat ini dimana wabah covid19 menyerang Indonesia ada baiknya juga untuk menjaga jarak. Kita tak akan pernah tau kalau mereka yang ditemui sehat apa sakit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget koh hendra... saat ini menjaga jarak adalah pilihan terbaik selain menjaga badan utk tetap sehat...

      Hapus
  11. Memang ga biaa disamaratakan, masing2 punya prioritas, termasuk perusahaan, dari awal penanganan covid19 ini emang berubah-ubah menurut perkembangan virus dan dampaknya. Kalau masalah eksistensi orang2 di media sosial sih emang macam-macam. Kl aku, yg bisa WFH silahkan, yg ga bisa... Silahkan jaga jarakdan jaga kesehatan diri 😊🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yg paham mudah kak...nah yg ga paham ini yang bingung kak... sementara penyebarannya tidak hanya melalui orang sakit orang sehat pun bisa menyebarkannya kalau dia mengidap tanpa sakit

      Hapus
  12. semangat para petugas medis luar biasa, mereka bekerja dari hati. salut dengan mereka semua

    berita beritanya pun kadang bikin aku mewek :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget kak... petugas medis garda terdepan... pilihan buat mereka ga banyak selain tetap maju mengobati... bahkan nyawa pun taruhannya... dan meeka berharap berkurang...alih2 setiap hari semakin bertambah saja

      Hapus
  13. Untuk wilayah saya sendiri kak, karna daerah perkampungan dan pekerjaan nya adalah petani, mereka tetap melakukan pekerjaan nya sebagai mana biasanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di kampung2 yang tidak ada mobilisasi masa dan transportasi umum...sedikit kurang khawatirnya kak..tapi tetap harus waspada ya kak

      Hapus
  14. Bang Kornel, semoga wabah cepat berlalu ya bang..


    Akutu yang gemes liat beberapa petinggi bang.
    Masyarakat disuruh staycation, tapi pintu masuk negara kita masih terbuka lebar.

    Memang social distancing gak akan berjalan lancar kalo masih banyak orang yang hidupnya bergantung dari kerjaan harian bang. Masalahnya, negara gak ngasih kompensasi apapun. Jadi orang akan berpikir, gak mati karena covid tapi mati menahan sakit .sakit perut karena gak makan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pilihan dilema memang..tapi ada yg menarik kemarin... kalau karena karantina ekonomi kita mati...suatu saat didepan kita akan bisa menghidupkannya kembali... nah kalau warga kita ya meninggal...siapa yang akan menghidupkannya kembali...

      Hapus
  15. Karena berupa himbauan jadinya rumit. Ada yang manut ada yang enggak karena sebagian besar perlu ke luar rumah untuk tetap menafkahi keluarganya dari penghasilan harian. Ku hanya bisa berharap dan berdoa mudah-mudahan COVID-19 ini lekas musnah dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia biar semua berjalan normal seperti sebelum wabah ini merebak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget kak..himbaun ini yg tidak memaksa... bahkan masih ada aja yg tetap melaksanakan kegiatan yg menghimpun masa... sedih... semoga derita ini cepat berlalu

      Hapus
  16. btw kantor saya masih mewajibkan masuk kantor untuk semua karyawan... ya mau gimana lagi kalau nggak ada kebijakan apa pun dr kantor... pengennya stay di rumah biar safe, terpaksanya tetep masuk kantor...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia kak... memang sich kalau diliburkan trus kantor tidak beraktivitas...dampaknya bisa berbahaya juga.. tapi gmana ya...

      Hapus
  17. Social distance bisa dilakukan lebih baik jika semua lebih sadar ttg Corona ini ya bang, pemerintah paham bahwa rakyat blebih takut mati kelaparan dr pd corona. Huhu. Semoga Corona segera berlaluu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga pemahaman kita semua seragam ya kak dan kita diberikan kesehatan dan kekuatan melalui semua ini....😇😇🙏😲

      Hapus
  18. Dilema sih bang. Daerah saya yang semi lockdown sudah langka gas, juga barang kebutuhan lainnya. Akibat mobilitas yang dikurangi .Apa lagi kalau benar-benar lockdown. Waduh. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang dilema kak...lockdown barang langka..harga mahal..bisa muncul kerusuhan...tapi social distancing juga belum terlihat efektif mengurangi penyebarannya kak...semoga derita ini segers berlalu..amin 😇😇🙏🙏😷😷

      Hapus
  19. Dilema memang, di saat ada anjuran untuk tetap di rumah, banyak yang masih merasa bangga bekerja di kala yang lain di rumah. Terlepas dari yang mereka kerjakan di rumah, setidaknya itu adalah cara untuk memutus mata rantai virus ini. Kalau anda merasa hebat bisa bekerja kala yang lain di rumah, itu sebenarnya anda menjadi orang yang ikut menyebarkan virus. Heran sama orang-orang kayak gini mas. Semoga postingan ini bisa mencerahkan banyak orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepaham kita ya kak... kalau yg bisa dirumahkan ya dirumahkan... kalau yg ga bisa ..mau dibilang apa... jangan juga yg bisa dirumahkan tapi tetap disuruh beraktivitas ..

      Hapus
  20. Agak riskan juga memang kalau sampai driver ojol ini juga stay at home. Karena keberadaan mereka malah membantu banyak warga. Terutama di tempat saya. Diputuskan untuk lockdown perarea bukan kecamatan ya. Jadi satu cluster ini kami ga boleh keluar sama sekali. Satu-satunya yang bisa membantu yaa hanya driver ojol dan tukang sayur yang mau ga mau nerima pesanan online. Semua dikumpulkan di pos satpam nanti kami ambil sendiri. Kalau mereka libur? Kami ga tau harus bagaimana lagi.

    Jadi memang serba salah. Tapi, kami yang dikarantina ini berpikir, selama kami bisa berusaha untuk tetap di rumah kenapa ga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata kuncinya memang kedisplinan kita utk bisa memilih dengan bijak..mana yang bisa beraktivitas dirumah dan mana yang tidak... sementara yg masih bisa dirumah.. berdisplinlah utk tetap dirumah... gitu maksudnya kakak 😇😇🙏😷😷

      Hapus
  21. social distancing malah udah merembet ke physical distancing..dan memang perlu sih, karena kita gatau pergerakan virus itu gimana, kan ga keliatan ya, ngeri-ngeri sedap banget dan jatuhnya jadi parno pas mau keluar rumah buat beli keperluan makanan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setipa keluar rumah beli kebutuhan hidup... hawanya badan .. seperti greges2..meriang.. jadi ikutan kena sugesti negatifnya

      Hapus
  22. Ikut-ikutan tanpa alasan dan pertimbangan yang jelas sudah pasti berbahaya. Itu menunjukkan kurangnya kesadaran bahayanya wabah ini. Dan yang kaya gini banyak banget.. duh sedih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak... yang disuruh WFH aja susah sok2an ga bisa WFH..trus ngantor berasa orang penting

      Hapus
  23. Pandemi korona ini beneran bukan main-main. Physical distancing (bukan sosial distancing) ini satu sisi emang efektif menekan persebaran virus. Sisi lain, bikin parno kalau papasan dengan orang lain, meski itu tetangga sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia mas...parno dengan tetangga sendiri... btw.. masuk kantor kah?

      Hapus
  24. Pegawai nakal itu mestinya ngerti membedakan liburan sama work from home. kl liburan kan di-shutdown semua koneksi dari kantor. Kl kerja dari rumah ya tetap terhubung, rapat daring, kirim2 laporan dll. Nice article... Bg Lius

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita semua sepaham ya kak 🙏🙏😇😇😷😷

      Hapus
  25. Ini yang membuat penyebaran covid di negara kita semakin menyebar luas yah,begitu banyak masyarakat yang susah diatur dan melaksanakan himbauan. Social distancing mungkin sulit awalnya tapi namanya untuk kepentingan bersama harusnya semua turut melaksanakan.

    BalasHapus
  26. Sekarang udah ada kebijakan pembatasan sosial berskala besar, eh katanya masyarakat diperbolehkan mudik! Jadi bingung. Masa kebijakan satu dengan yang lainnya bentrok, kan ngga lucu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih mencari program mana yang terbaik bagi masyarakatnya kak riska... semoga wabah ini segera berlalu ya

      Hapus
  27. Aku berada di kawasan yang udah zona merah, tapi pas keluar rumah uat belanja tuh sedih banget karena orang2 masih keluar tanpa masker, masih berkerumun, masih seperti biasanya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget kak Ica masih banyak yang belum aware tentang pandemi ini.. semoga kita sehat2 ya.. dan dijauhkan dari sakit penyakit ya

      Hapus
  28. Betul, Kak. Semoga yang keluar memang ada aktivitas urgent menyangkut hajat hidup orang banyak, yaa. Semoga wabah ini cepat berlalu. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin...semoga derita ini segera berlalu ya kak

      Hapus
  29. Mas, untuk satu dan lain hal aku harus berada di luar dan masih tetap bekerja. Cuma ya sebisa mungkin kalau libur aku ya di rumah aja. AKu juga sering ingatkan keluarga aku untuk kurangi keluar rumah jika gak perlu. Mungkin itu langkah kecil social distancing yang aku lakukan

    BalasHapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih