Sabtu, 03 Desember 2016

Nenek Moyang mereka juga pelaut (Film Moana)

Sumber Gambar Disney Movies. uk 

Salah satu cara saya menghabiskan akhir pekan bersama pasangan adalah menikmati layar lebar. 

Yah, kalau rajin kadang-kadang seminggu sekali, apesnya sebulan sekali, pernah juga sich lebih dari 2 bulan ngga ke bioskop. Yah, ngga pa pa juga kan. Namanya refreshing, bisa nonton distudio atau ngga nonton bajakannya di rumah (bagian ini jangan dicontoh ya).

Nah, kebetulan yang serba kebetulan, sempat juga (meskipun disempat-sempatin). Disela jadwal akhir pekan yang lumayan padat (biar kesannya orang sibuk ya, maklumlah blogger). Main-main ke Pejaten Village, kawasan Selatan Jakarta, pokoknya harus nonton, entah apapun filmnya (eeeaaaa)

Dilihat dari film yang sedang tayang, pilihan jatuh ke film Moana. Ngga ada alasan khusus memilih film ini.  Dan begini ceritanya...........

Ada apa dengan pelayanan Bank BCA?


Tapi si ibu CS penasaran juga, sempat terucap, kalau dari segi tanggal, potongan ini adalah potongan admin bank. Tapi dari segi jumlah ngga sesuai.

Postingan hari ini sekedar berbagi pengalaman pribadi aja. Bertransaksi melalui dunia perbankan sepertinya sudah menjadi bagian dari kehidupan yang tidak terpisahkan. Mulai dari transaksi kecil hingga besar.  Mulai dari beli pulsa hingga beli perusahaan pulsa, transaksi melalui perbankan sudah merupakan keseharian.

Pun tidak berbeda dengan hari ini. Hanya sebatas melakukan print out buku yang rutin dilakukan tiap awal atau akhir bulan (demi tertib administrasi, begitu kata petugas CS-nya).

Sebagai nasabah bank BCA yang budiman kebiasaan ini saya lakukan rutin tiap bulannya. Tapi entah kenapa saya sendiri kurang detil memperhatikan setiap transaksi yang ada.
Bukan karena banyaknya dana yang dimiliki ya (cieee, gaya dikit ah) makanya tiap bulan dilakukan print out. Tapi lebih kepada pencatatan atas transaksi yang terjadi. Maklumlah beli pulsa juga lewat mobile apps (padahal yang dibeli pulsa gocengan).

Jumat, 02 Desember 2016

Diskusi buku di Komunitas Utan Kayu



Mengutip perkataan Pramoedya Ananta Menulis adalah Pekerjaan Keabadian, maka kalau kamu mau abadi, menulislah. 

Tapi terkendala dengan ide yang sering mampet dan macet. Beberapa waktu lalu saya mencatat di blog ini tentang mendapakan   ide untuk menulis. 

Setidaknya ada empat hal, yaitu

Selasa, 29 November 2016

Surveillance Audit untuk ISO yang sudah diraih

Rapat segera dimulai
Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB, tapi ruangan rapat sudah dipenuhi belasan eselon dan staf. Rapat ISO 2016 segera dilakukan, 
Sepertinya waktu berjalan sangat cepat, baru kemarin (tahun lalu) mendapatkan sertifikasi ISO sekarang sudah harus berjuang untuk mempertahankannya.  Tepatnya hari ini adalah perdana untuk Surveillance Audit.

Mempertahankan ISO yang sudah didapat  juga merupakan hal sulit setelah mendapatkannya. Fokusnya ada pada bagian Kepaniteraan karena ada perubahaan mengenai waktu pelaksanaan serta perubahan peran Jurusita.

Di bagian Kesekretariatan sendiri ada banyak perubahan juga karena adanya perubahan Struktur Organisasi terbaru.  Tapi sebelum itu, hasil kerja yang sudah dibuat akan dipresentasikan terlebih dahulu.

Sabtu, 26 November 2016

Tentang Kamu dari Tere liye (Resensi Buku)

Tentang Kamu


Sepertinya ini adalah novel tere liye yang cukup tebal saya baca. Dan dari judulnya samar-samar terbaca kisah romantisnya.

Berbeda dengan beberapa novel sebelumnya yang mengambil setting di negeri sendiri dan beranjak ke negeri tetangga. Di "tentang kamu" kisah Zaman Zulkarnaen dimulai dari Inggris tempat dimana ia menuntut ilmu dan bekerja disalah satu firma hukum.

Hingga ia ditugaskan untuk mengurus warisan dari kematian Sri Ningsih, sosok wanita tua yang menibggal di Inggris dan meninggalkan warisan yang sangat banyak.

Berbekal diary kecil peninggalan Sri, Zaman berusaha membuka tirai-tirai kehidupan Sri sebelumnya.

Jumat, 25 November 2016

Belajar lagi 8 habbit-nya Stephen Covey. (Bab 1)



Apabila  hendak  membuat sumbangan baru, kita harus juga membuat persiapan yang serba baru.  

Setelah beberapa waktu lalu menulis tentang ballpoint yang ada sangkut pautnya dengan Covey dan mendapatkan sebuah ballpoint Franklin Covey. Jadi terlintas untuk menyelesaikan sebuah buku bacaan yang belum selesai tuntas dibaca.

Penulisnya sendiri Stephen. R. Covey, sudah meninggal beberapa tahun lalu. Beliau sendiri dikenal sebagai penulis “the 7 habbits.”. Buku wajib bagi penikmat manajemen sumber daya manusia.  Seinget saya tahun 2006 saya sudah tahu dan baca bukunya. Baru pada tahun 2010, tepatnya 6 Mei di Gramedia Depok, saya menyempatkan membeli The 8 Habbit, Melampui Efektivitas dan Menggapai Keagungan.  Baca seluntas sudah selesai, rasanya terlintas untuk membacanya pelan-pelan dan menikmati setiap pengajaran dari Stephen. R. Covey ini.

Selasa, 22 November 2016

Sosialisasi sekaligus rapat internal bulanan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta

 
 
Iya, kali ini tidak hanya sekedar rapat bulanan. Tapi ada sosialisasi SIWAS MARI, Sistem Informasi pengawasan Mahkamah Agung, sesuai dengan PERMA no 9.

Beberapa waktu lalu dari Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta  dikirim satu orang Hakim dan 1 orang staf IT untuk mengikuti sosialisasi  Mahkamah Agung Republik Indonesia. Nah  nantinya ilmu yang didapat akan dishare dan disosilaisasikan dalam rapat bulanan.

Rapat bulanan sendiri akan membahas kinerja selama sebulan, dilanjutkan dengan hasil kunjungan tim BPK dan lanjutan ISO untuk tahun anggaran 2016.

Salah satu hasil diskusi dengan  Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) beberapa waktu lalu  adalah mekanisme pengaduan yang masih sulit diakses masyarakat. Hal ini terkait dengan IT yang masih berbenah. 

Jumat, 18 November 2016

Pemutaran Film Pendek sekalian berdiskusi singkat


Film merupakan sarana menggapai ilmu dalam bentuk visual, itu menurut saya loh. Banyak hal yang dapat direkam ketika menyaksikan sebuah tayangan yang tersaji. 

Efek gambar dan suara yang ditampilkan membuat sensasi visualisasi lebih mudah untuk digambarkan. 

Biasanya juga saya menghabiskan waktu "our time" bersama pasangan yang tidak mahal dan tidak jauh, ya dengan menyaksikan sebuah tayangan film.

Dan beberapa diantaranya sudah terangkum rapi

Kamis, 17 November 2016

Bahkan untuk menjadi hantu pun ada audisinya. (Film Adrenalin, Rumah Hantu Indonesia)


Berpose bareng hantunya sebelum masuk ke studio
Akhirnya hari ini keluar juga film Adrenalin, Rumah Hantu Indonesia. Satu lagi film yang bernuansa Hantu dan Horor kembali mewarnai film nasional. Pastinya seru juga, secara sudah lama ngga lagi menyaksikan film genre ini.

Sebenarnya untuk menyaksikan film bergenre horor dan yang berbau hantu-hantuan saya sedikit enggan untuk menyaksikannya. Selain karena saya sendiri agak pemalu (kalau ngga mau dibilang penakut) juga memang sedari awal tidak tertarik untuk hal-hal berbau klenik.

Terakhir saya menyaksikan film bergenre horor berjudul tusuk jelangkung (heheheh, lama banget ya) lepas itu jarang banget bahkan hampir tidak pernah. Hingga  ada kesempatan untuk menyaksikan kembali film bergenre gelap.

Jadi kalau bisa diibaratkan makanan, Film Adrenalin, Rumah Hantu Indonesia  itu seperti jenis makanan yang menyenangkan tetapi tidak mengenyangkan  (ngerti kan maksudnya). Sebagai film untuk hiburan bersama pasangan dan untuk menghabiskan berakhir pekan cocoklah, tapi jangan coba-coba bawa anak dibawah umur ataupun orang yang memang kadar penakutnya ekstrem banget.  

Senin, 14 November 2016

Belajar kelola keuangan sederhana.

Ilustrasi 
Meluangkan waktu sebelum tidur untuk menuliskan apa yang telah kita keluarkan dalam hari tersebut serta apa yang kita inginkan dapat membantu kita untuk merencanakan tindakan yang lebih baik dan lebih bijaksana.

Mengatur keuangan sulit-sulit gampang, kadang sulit kadang gampang. Kadang gampang tapi kok lebih sering sulitnya. Setidaknya itu yang sering saya alami sendiri. Beberapa seminar pernah dihadiri, beberapa komunitas juga diikuti bahkan beberapa buku keuangan tuntas dibaca. Semuanya dilakoni agar sedikit melek dengan yang namanya pengelolaan keuangan.

Dan sama seperti kehidupan, keuangan itu harus dipelajari terus menerus mengerti polanya dan konsistensi dalam prakteknya, ini dia yang sulit.

Sebagai pegawai kantoran yang memiliki penghasilan cukup, tidak kurang tidak juga berlebih bukan juga cukup untuk beli Jagu**r atau membangun kondo, yah sekedar cukup bertahan hidup di ibukota NKRI. Perlu beberapa trik yang perlu dilakukan