Senin, 13 Februari 2017

Misteri Soliteir-nya Jostein Gaarder


Ini buku ke 2 nya Jostein atau tepatnya buku 3 yang sudah saya baca. Yang pertama itu Dunia Sophie, ada kali itu 10 tahun yang lalu. Sementara yang ke dua itu gadis jeruk. 

Satu hal yang saya selalu suka dari bukunya Jostein ini adalah banyaknya kata-kata filsafat yang dikemas secara sederhana. 

Seperti di halaman 30 ketika Hans menceritakan sang nenek yang memilih pasangan hidup yang tidak semestinya. Ia berujar, "Sayangnya, kita tidak selalu bisa memilih pada siapa kita akan jatuh cinta."

Ini kisah perjalanan Hans Thomas yang dikemas manis oleh Jostein. Di bab dua sekop, dibagian atas ia menuliskan "Tuhan duduk disurga tertawa karena orang-orang tak percaya kepadaNya." Entah apa maksud awalannya. 

Sampai di empat sekop perjalanan ayah dan anak mencari ibunya masih terkesan membosankan. Belum ada "greget" yang muncul disini. Saya juga sedikit ngantuk membacanya.

Senin, 06 Februari 2017

Menikmati perjuangan Larasati. (Larasati-nya Pramoedya Anata Toer)

Larasati dengan Cover terkini-nya
Buku Larasati adalah buku ke dua dari pak Pram yang saya baca. Buku ini saya beli di Gramedia Paris Van Java Bandung sebagaipenanda pernah kesana. 

Seperti buku sebelumnya Bukan Pasar Malam, saya masih memilih karya yang ringan dari pak Pram. Dan masih berlatar belakang perjuangan.

Ini kisah Larasati.
Dihalaman awal langsung digeber dengan salah satu kutipan pak Pram yang terkenal “Kalau mati dengan berani, kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada-itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa menjajah kita.”

Sabtu, 04 Februari 2017

Misi Alicia menyelamatkan Bumi (Resident Evil The Final Chapter)

Paris Van Java, Bandung

Kawasan Sukajadi Sabtu sore cukup bersahabat, palingan hanya tersendat di sekitaran RS. Hasan Sadikin. Memang udah diniatkan kalau mampir ke Bandung sempetin ke Paris Van Java, yah setidaknya merasakan dinginnya AC  mall. Eh kebetulan masih sempat nonton.

Yah untungnya masih ada film Resident Evil, enggan juga awalnya nonton yang beginian tapi ya sudah nikmatin aja.

 Anggap aja nonton buat bahan ngisi blog atau ngga blog yang isinya tontonan semua. Heheheh. :)

Misi Alicia.
Ini film sepertinya ngga akan pernah ada habisnya. Ada terus jalan ceritanya. Secara memang dibuat dari video game, ya, gitu dech. Jadi berasanya nonton film sambil main game.

Senin, 30 Januari 2017

Tumpengan Sederhana untuk Peresmian Gedung PTTUN Jakarta


Gedung MARI, Medan Merdeka Utara
Untuk Peresmian gedungnya sendiri diadakan bersamaan dengan peresmian Gedung Mahkamah Agung yang terletak di Medan Merdeka Utara. Kami, seluruh keluarga besar Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta menyaksikan langsung via Streaming peresmian Gedung Mahkamah Agung. Minus keberadaan pak Ketua Pengadilan yang langsung hadir bersama dengan Ketua lainnya di Mahkamah Agung RI (MARI).

Dalam sambutannya Ketua Mahkamah Agung menegaskan bahwa awal tahun 2017 MARI telah berhasil menyelesaikan pembangunannya dan ada sekitar 135 Gedung Peradilan dari empat wilayah peradilan, mulai dari Peradilan Umum, Agama, TUN dan Militer yang dibangun atau direnovasi.

MARI sendiri menggunakan anggaran  Rp. 243 Milyar dengan kontrak Multiyears. Harapannya MARI mampu menjadi ikon positif serta mewujudkan visinya Mewujudkan Peradilan yang Agung.

Selasa, 24 Januari 2017

Penandatanganan Pakta Integritas dan Pelantikan Pejabat Baru PTTUN Jakarta




Tepat pukul 08.30 aula lantai 3 Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta sudah dipenuhi seluruh pegawai.

Ada acara bersejarah hari ini yang akan rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Hanya butuh waktu setengah jam untuk melaksanakan penandatanganan Pakta Integritas.

Ketua Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Jakarta DR. Istiwibowo,SH,MH berpesan agar  pakta integritas yang baru ditandatangani bukan sekedar seremonial belaka saja. 

Di dalamnya ada nilai-nilai positif yang harus dilakukan.

Dan sesuai dengan konsideran  UU ASN, membentuk pegawai ASN yang memiliki Integritas, Profesional dan Netral (bebas dari intervensi kepentingan politik) serta bersih dari praktik KKN,  mampu memberikan pelayanan publik kepada masyarakat dan menjadi perekat kesatuan bangsa NKRI berdasarkan UUD 1945.

Senin, 23 Januari 2017

Bukan Pasar Malam-nya Pramoedya Ananta Toer



Diawali hanya kesalahpahaman dalam berkirim kabar dengan sang ayah yang berujung ke penyesalan seumur hidup (hati-hati kalau berkomunikasi dengan orangtua), berlanjut hingga menjadi kisah 103 halaman.
 
Ok. Saatnya beranjak membaca buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin ini salah satu resolusi saya di tahun 2017 mulai berkenalan dengan Pramoedya Ananta Toer.

Secara sebelumnya sudah mulai akrab dengan renyahnya karya Tereliye, mulai berani dikit-dikit baca yang sedikit berat dan bermakna dalam (kata sebagian orang ya)


Sekilas tentang buku Bukan Pasar Malam.
Ini buku junlah halamannya hanya 110 halaman saja. Tapi saya butuh sekitar 2 sampai 3 hari menyelesaikannya. Mungkin masih butuh waktu untuk membaca cepat karyanya pak Pramoedya Ananta Toer.

Secara buku ini adalah sumbangan Indonesia untuk dunia loh. Jadi masih berhati-hati membacanya. Entah nanti kalau sudah buku ke dua atau ke tiga.

Pengalaman yang didapat setekah baca buku ini berasa berada di masa perjuangan setelah kemerdekaan dulu (suasana stasiunklender ada diceritakan).

Kamis, 19 Januari 2017

Pengantar Tugas sekaligus Purna Bhakti di PTTUN Jakarta




Tepat pukul 10.00 WIB, semua Pejabat hingga pegawai  Pengadilan TInggi Tata Usaha Negara Jakarta sudah hadir memenuhi aula lantai 3. 

Hanya dihadiri seluruh keluarga besar PTTUN Jakarta dengan perayaan sederhana. Pengantar Tugas Pak Arif Nurdu’a ke PTTUN Surabaya dan Purna Bhakti ibu Ratna Soejoto dan Ibu Tiambun Simanjuntak.

Sambutan Pak Arif Nurdu’a
Tanpa berpanjang lebar dan mengulur waktu Pak Arif diberikan kesempatan maju untuk  emberikan sepatah kata perpisahan kepada warga PTTUN yang hadir. 

Senin, 16 Januari 2017

Semalam di Penang, Negeri Orang.

Pagi di jalan hijau 

Matahari sudah lumayan terik disekitaran jalan hijau 5. Tapi lalu-lalang kendaraan belum seramai seperti di jalanan ibukota Jakarta.

Iya, Penang sedikit lebih lengang daripada Jakarta.

***
Sedari semalam, tepatnya pukul 03.00 pagi waktu setempat. Rumah sakit Lam Wah Ee sudah dipadati antrian pasien.

Sepertinya kehidupan sudah mulai disini. Meskipun matahari belum menampakan dirinya.

Persis pukul 06.30 seorang perawat bertubuh subur dan berkulit legam sepertinya keturunan india mendekati meja dan mengaktifkan nomor antrian.

Sontak semua yang antri sigap berdiri dan merapatkan barisan.

Minggu, 15 Januari 2017

Sekarang mau cerita naik Lion Air

LION AIR 


Baru kemarin saya merasakan kenyamanan dengan maskapai citilink. Bahkan beberapa bulan lalu sempat juga menggunakan Lion,  Minggu sore beranjak dari Sumatera ke Penang menggunakan Lion air.

Bandara Kualanamu ramai dipadati pengunjung sore kemarin. Mungkin karena besok itu hari senin semua siap-siap kembali ke kota asalnya untuk ber-aktivitas seperti sedia kala.

Berbeda sedikit dengan saya. Lepas menghadiri hajatan kerabat di Kabanjahe kami (saya dan istri) meneruskan perjalanan ke Penang.

Yup. Pilihan jatuh kepada Lion selain karena ketersediaan pesawat harga juga merupakan salah satu unsur yang menjadi pertimbangan.

Dari Medan ke Penang menggunakan Lion itu jatuh di harga Rp. 665.000,- tapi kalau menurut saya sich ngga murah-murah banget kan ya.

Kamis, 12 Januari 2017

Pengalaman naik Citilink rasa Garuda.


Citilink Pagi Parkir di Bandara


Semoga kehati-hatian dalam lepas landas citilink tetap terjaga bukan karena hati-hati hanya pasca kejadian pilot mabok.

Pasca rame-rame insiden pilot mabok beberapa waktu lalu yang setidaknya membuat mundur direktur Citilink. Tetap tidak membuat para pecintamoda transportasi udara enggan untuk menggunakan Citilink.

Pastinya akan ada penurunan dari pengguna maskapaiini meskipun jumlahnya tidak seberapa.

Tapi dari sepengamatan saya menggunakan citilink untuk penerbangan Jakarta-Kualanamu. Untuk jam keberangkatan pukul 05.00 pagi hampir sebagian besar terisi penuh.