Rabu, 14 Agustus 2019

Belajar menjadi kreatif bareng Wahyu Aditya.

Kreatif Sampai Mati
Keterbatasan melahirkan tantangan, menimbulkan reaksi untuk untuk melatih otot-otot pikiran kreatif. Dan kita didorong untuk melihat sesuatu dengan cara baru. 

Kreatif  adalah bisa mencari jalan keluar. Kreatif itu mudah, kreatif itu baik, kreatif itu cara bertahan hidup,  kreatif itu sampai mati. Masih ada ratusan definisi mengenai kreatif dan mengapa harus dilakukan. 

Cara saya berkenalan dengan seseorang selain bertemu langsung adalah membaca karya-karyanya, seperti buku yang baru saja selesai saya baca, buku Kreatif Sampai Mati, Wahyu Aditya. Bukunya sendiri dicetak pada tahun 2013 tepatnya bulan Januaru dan sudah masuk cetakan ke lima pada bulan September 2013. Saking kreatifnya dan mencoba keluar dari pake perbukuan yang sudah ada, daftar isi setiap bab nya diganti dengan istilah butir, dan Kreatif Sampai Mati terdiri dari 17 butir. 

Ada sesuatu yang diluar kebiasaan, menarik minat untuk terus menyelesaikannya hingga akhir. 

Jumat, 26 Juli 2019

Berbagi Ilmu dan Pengalaman Ala Dhamayukti Karini Jakarta


 
Dharmayukti Karini Jakarta 
Bro, besok mau ada acara Dharmayukti Karini di kantor kita, loe siap ya untuk bantu-bantu di bagian dokumentasi. Lah, saya sebagai kroco beruntung, senang-senang aja diajak untuk bantu-bantu hal yang bisa saya bantu. Gini loh guys, orang yang ga kita kenal aja sebisa mungkin kita bantu, lah ini yang minta itu selain temen kantor, bos juga, enak gitu ditolak sementara bisa bantu, engga kan.

Dan seingatan saya, tahun lalu juga dimintakan tolong juga oleh Tim Dharmayukti Karini PTTUN Jakarta, ada sesuatu yang bisa di share atau ceritakan, setidaknya bagi saya, ini pengalaman berharga untuk melihat program-program positif dari Dharmayukti Karini. Oktober tahun 2018, Dharmayukti Karini memberikan beasiswa pendidikan kepada staf, karyawan di lingkungan Peradilan yang membutuhkan. Lalu bagaimana dengan tahun 2019 ini?

Selasa, 09 Juli 2019

Menapaki Kisah Syarif Hidayatullah Di Bumi Jawa Barat. (Resensi Buku : Suluk Gunung Jati)


Buku SUluk Gunung Jati E. Rokajat Asura
Cerita seputar perjuangan Syarif Hidayatullah mengajarkan dan menyebarkan ajaran islam, bahkan sampai menghadap sang eyang yang merupakan Maharaja Prabu Siliwangi, dan tujuan lainnya mengislamkan eyangnya. Sebab sang ibu sendiri pun belum berhasil membuat orangtuanya menganut ajaran yang ia anut. 

Ga sengaja ada buku dengan sampul hijau menarik untuk dibaca, Suluk Gunung Jati, E. Rokajat Asura. Saya pun meminjamnya untuk mengetahui apa sich isinya, siapa penulisnya (secara baru kenal juga).  Setidaknya ga lebih dari 2 minggu itupun terpotong (berhenti membacanya) dengan tugas kedinasan luar kantor.

Bagi kalian yang ingin mengenal Islam lebih dalam atau mengetahui perjalanan panjang penyebaran ajaran Islam di bumi Cirebon dan sekitarnya, buku ini salah satu pilihan menarik untuk dijadikan referensi. Atau hanya sekedar menambah wawasan dan menghabiskan waktu dengan hal positif meluangkan waktu dengan membaca buku Suluk Gunung Jati amat bermanfaat. 

Suluk Gunung Jati. 
Banyak pesan positif yang coba disampaikan penulis, penyebaran Islam tidak semulus yang dibayangkan. Bahkan Raja Pajajaran tak melarang rakyat memilih agama sepanjang tidak mengganggu kesejahteraan negeri, bukan untuk mengakali orang bodoh, bukan untuk menumpuk kekayaan dan bukan untuk kesenangan pribadi. Yang raja larang itu sembarangan memilih suatu yang tak tentu, mula-mula pilih satu dan sudah bosan...lalu memilih yang lain lagi.

Senin, 08 Juli 2019

Semacam Film Motivasi, Review Film Say I Love You.





Koh Yul memiliki sebuah impian untuk membentuk sebuah sekolah gratis yang menampung anak-anak tidak mampu. Dan untuk mewujudkan mimpinya tidak semudah yang ia bayangkan.

Sehari sebelumnya, notifikasi dari group WA berbunyi, tawaran dari seorang kawan untuk menyaksikan film ini. Dan taraa. Lokasi penayangan film Say I love you tidak jauh dari kantor, langsung saya iyakan, terbesit penasaran seperti  apa sich filmnya. Secara kalau film Indonesia dan ada waktu akan saya luangkan menyaksikannya (kecuali film Indonesia yang horror dan berbau klenik, saya pasti hindari).  

Studio Plaza Setia Budi, pukul 18.00 wib sudah ramai dihadiri para penikmat film Indonesia, mulai dari blogger, kritikus film hingga orang-orang biasa kayak saya ini. Tepat pukul 19.00 wib barulah studio dibuka, membentuk barisan yang lumayan panjang namun pengunjung yang hadir tetap tertib dalam barisan antrian yang tersedia.

Minggu, 07 Juli 2019

Menjadi Agent-Agent Perubahan

Kebaktian JPCC dokumetasi diambil dari twitter Jpcc

Kita harus mengingatkan diri kita,  bahwa kita sejatinya adalah agent-agent perubahan, hanya Tuhan yang mampu merubahkan. Bukan sebaliknya, jangan bermain menjadi Tuhan yang bisa merubahkan, karena pasti akan kecewa jika perubahan tidak terjadi. 

Kebaktian  kali ini sekaligus merayakan ulang tahun JPCC yang ke 20.  Selamat Ulang Tahun buat JPCC. Teruslah memberi inspirasi dan selalu semangat untuk memberitakan kabar baik. 

Tema bulan Juli 2019 adalah menjadi agent perubahan. Diayat pembuka langsung diingatkan oleh Filipi 2:14-15 (TB)  Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,

Ps Jefrey menyampaikan sebuah pesan bahwasannya We don't use people to build ministry but we use ministry to build people. 

Jumat, 05 Juli 2019

Kali Ini di Le Dian Serang



Di hotel hanya sebatas tidur dan istirahat belum sempat menikmati fasilitas lainnya seperti jogging track hingga ke kolam renang.

Beberapa kawan kalau menginap di Hotel menyebut dengan istilah staycation, dan biasanya di staycation-staycation-nya mereka akan diselipkan dengan pengalaman selama mereka menggunakan fasilitas dan layanan tempat mereka menginap. Goalnya adalah mengajak yang lain menikmati apa yang sudah mereka nikmati.

Sementara  guwe memang tidak seberuntung mereka untuk dapat menikmati staycation tapi guwe masih diberkati dengan diberikan pengalaman menemani para bos-bos untuk melakukan pemeriksaan, pembinaan ke instasi daerah. Dan sudah merupakan kewajiban guwe juga untuk memastikan tempat yang digunakan untuk menginap, minimal layak dan nyaman.

Karena sifatnya pembinaan dan pemeriksaan yang  terkadang dan seringnya dadakan, jadi  hotel tempat kami menginap pun terbiasa dengan yang sudah pernah kami singgahi sebelumnya atau yang sudah terkenal dengan reputasi baik atau rekomendasi dari beberapa yang sudah menggunakannya.

Kembali menggunakan Le Dian Serang  (dan sedikit kecewa).
Serupa kali ini seperti kunjungan sebelumnya, setidaknya guwe pribadi pertama kali dikenalkan dengan Hotel Le Dian sekitar tahun 2010. Kala itu kantor pusat mengadakan bimbingan teknis, lumayan besar di hotel ini. Siapa sangka guwe kembali mengunjunginya beberapa tahun kemudian, kali ini bukan dengan kantor pusat tapi kantor sendiri dan kembali menggunakan jasa menginap disini.