SoG4iGVrlm2d0xVc7TbcWuGl8F4PkcCzhtCrmamZ

Tetap Menjadi Terang Dan Garam Bagi Sesama

 

PJJ GBKP RG. TUGU


Tetap semangat melakukan aktivitas dari rumah bagi yang memungkinkan, sementara yang masih harus bekerja, tetap juga semangat dan jangan lupa protokol kesehatannya jangan sampai kendur. 


Setelah sebelumnya kebagian menjadi tuan rumah PJJ, sekarang giliran untuk tetap hadir dan menikmati layanan gereja masih dalam bentuk virtual meeting.

 

Tidak dapat dipungkiri pandemi yang belum berakhir dan tidak tahu kapan berakhir,  penting bagi kita untuk memanajemen tubuh agar tetap sehat. Jangan sampai jatuh sakit.

 

Selain menjaga fisik tetap sehat, jangan lupa menjaga kesehatan jiwa. Salah satunya adalah dengan tetap berkomunikasi  dan bersosialisasi.

 

Mengetahui masih banyak kerabat dalam keadaan sehat akan menambah semangat dan imunitas tubuh. Sementara mendoakan dan mensupport kerabat lainnya yang berada dalam keadaan sakit atau dalam keadaan tidak baik menunjukkan empati dan kepedulian, yang berujung  meningkatkan semangat bagi yang sakit, pun kita semakin sehat dan menjadi kuat

 

Tetap Menjadi Terang Dan Garam.

Salah satu prinsip kekristenan yang umum adalah menjadi terang dan garam, sederhananya adalah bermanfaat bagi sesama (semua) seperti terang (nyala lilin) dan rasa asin, bahan pengawet (diwakili oleh garam).


Terang Dan Garam


Bahan renungan dalam PJJ (perpulungen Jabu-jabu)  diambil dari kitab Matius 5 : 13-16 -”Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

  

Oh iya, dalam PJJ kali ini, Pendeta GBKP Runggun Tugu ikut hadir, Pdt. Julia Tarigan, berikut pesan yang saya tangkap dan coba rangkumkan. 


Garam sendiri adalah gambaran gereja yang harus menjadi teladan. Ingat gereja bukan gedungnya gereja itu adalah orang kristiani sendiri.

 

Sementara lilin, ia menerangi kegelapan, lilin memberikan sebuah pemahaman, sampai pada lilin itu habis, ia memberikan terangnya pada sekitaran.

 

Menjadi Terang dalam kehidupan adalah keinginan Tuhan. Serupa dengan nyala lilin yang terus menyala dan memberikan sinar terang kepada sekeliling.  

 

Tuhan Yesus adalah Terang dunia 

Dalam Kitab Yohanesn 8:12, “Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: ”Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

 

Apa pesannya? Sederhana ujar Pdt. Julia Tarigan, bahwa ketika kita menyatakan ada Tuhan dalam hati dan pikiran, sudah sepantasnya kesadaran akan bertumbuh dan membuat  tersadar ketika melakukan kesalahan dan berbalik melakukan hal benar.


Bagian lainnya dari Amsal 4 : 18 tentang terang menuliskan, “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. 

 

Menjadi Terang Dan Garam Dalam Kehidupan Sehari-hari.

Gereja bukanlah gedung-nya dan juga bukan pula menaranya. Bukalah pintunya dan lihat didalamnya gereja adalah orangnya. Demikian syair sederhana dari sebuah lagu sekolah minggu yang dulu diajarkan.

 

Perihal menjadi terang dan garam adalah sebuah kewajiban kita sebagai anak-anak terang (baca  : anak-anak Tuhan)  itu sendiri. Gereja sudah seharusnya menjadi  terang bagi keadaan dan kehidupan sekelilingnya.

 

Bahkan garam memiliki filsafatnya sendiri, garam ketika larut dia tidak terlihat namun bermanfaat.  Sementara  kehadiran terang membuat gelap hilang dan semua menjadi terlihat jelas.

  

Garam dan terang dapat dimulai dari hal-hal yang kecil. Memulai hari dengan senyuman dan menularkan semangat baik.  Jangan lupa berdoa pagi sebelumnya ya. 

 

Dengan membagikan senyum dan semangat, sangat mungkin akan menular dan memberi semangat kepada lainnya. 

 

Lanjut ke hal sederhana lainnya, mulai angkat telpmu dan tanyakan kabar ke orang-orang sekitar, dukung dan bawa mereka juga dalam doa.

 

Menjadi terang tidak perlu spektakuler tapi mulai dari hal yang sederhana dan mudah  dilakukan.

 

Namun jika ada rejeki berlebih, bantu juga sesama kita secara finansial terutama yang sangat membutuhkan.

 

Terlebih saat pandemi C-19 banyak kerabat dan sesama yang tidak hanya terpapar langsung menderita sakit. Tapi terdampak tidak langsung seperti dirumahkan sementara waktu atau beberapa diberhentikan dari pekerjaan.

 

Ayo Kembali Lagi Belajar untuk menjadi Terang dan Garam

Related Posts
Kornelius Ginting
Orang Baik Rejekinya Juga Baik

Related Posts

Posting Komentar