Sistem Antrian Online dan Offline di RSCM

(Ilustrasi) Taman di seberang RSCM Jakarta Pusat 


Dua hari sebelum hari ini mencatat detil kunjungan tanpa menggunakan antrian online. Dan memang selama ini menggunakan sistem ini, tapi tidak mencatat detil-detilnya. 


Sistem Antrian Manual (Offline)
Tepat pukul 06.00 wib pagi, sudah tiba di antrian pasien rawat jalan untuk memgambil nomor antrian, bayangin jam 6 itu sudah dapat antrian yang ke 138. Pernah juga sampaindi Rumah Sakit Cipto Mamgunkusumo (RSCM) jam 7 pagi, nomor antrian sudah 199. Ini baru nomor antrian dibawah ya, mereka menyebutnya SEP  (Surat Elegibilitas Peserta) kenapa juga bukan pasien ya, padahal kan yang datang ke sini adalah pasien yang mau berobat bukan peserta yang mau mengikuti lomba (entahlah). 




Selesai dari sini (antrian SEP) lalu pasien di bagi-bagi merujuk ke poli yang dituju. Di poli pun kembali harus mengambil nomor antrian. Namun antrian kali ini adalah untuk masuk ke dokter. 

Dan antrian kali ini adalah tidak kalah uniknya menurut saya. Mungkin jumlah angkanya kecil tapi tidak kalah lama dengan yang jumlahnya banyak. Pengalaman kami sendiri, nomor antrian di bagian Bedah Digestif 033 membutuhkan waktu hampir 4 jam baru masuk ke ruang dokter. Sementara di bagian Gastroenterologi, nomor antrian 007 pun tidak kalah, setidaknya hampir 3 jam.




Intinya dengan sistem antrian manual tidak online waktu antrian SEP dan Poli hingga selesai hampir butuh waktu setengah hari (6 jam) masuk antri jam 6 pagi selesai sekitar jam 12 siang (bahkan seringan lebih).


Sistem Antrian Online. 
Yang membedakannya adalah pertama kalian harus melakukan download (unduh) aplikasi RSCM Online di playstore untuk smartphone android. Saya sendiri sempat gagal beberapa kali instal aplikasi ini (rupanya memang beberapa hari lalu sempat ada gangguan di aplikasi mereka). Lalu lakukan pemesanan janji di aplikasi dengan sebelumnya memasukan nomor rekam medis dan tanggal lahir kalian dan keluar secara otomatis nama kalian disana. 

Tampilan aplikasi RSCM Online 


Masukan tanggal rencana kalian untuk berkunjung, tanggal hanya bisa minimal dimasukkan 2 hari sebelum kunjungan dan hitungan hari kerja plus termasuk untuk poli yang buka. Contoh, Poli Anastesi kita mau datangi hari Jumat, maka kita sudah harus pesan di hari Rabu sebelumnya, tidak bisa di hari Kamis. Itupun kalau Poli Anastesinya buka kalau tidak buka maka akan muncul notifnya. Tapi semakin jauh harinya semakin tidak masalah sepertinya (tapi ini belum saya lakukan uji coba ya). 

Bukti untuk mencetak SEP di mesin


Selesai dengan langkah instalasi, pada saat hari kedatangan (janji temu) kalian harus ke anjungan  mesin mereka di bagian pendaftaran untuk melakukan print out lembar pendaftaran. Di sini letak perbedaanya, kalau manual harus antri dari jam 5 dan loket baru buka jam 7 (itupun saya datang jam 6 sudah kebagian nomor 138). Kalau di aplikasi, datang jam 6 masih 4-5 orang yang antri di depan mesin cetak (ada 4 mesin cetak/komputer), dan selesai cetak langsung tunggu didepan poli yang bersangkutan. Ga harus nunggu sampai buka pendaftaran jam 7, selesai di sana, ambil nomor ke bagian poli kembali.


Alhasil, waktu antrian terpotong sangat banyak. Dan lebih cepat antri di depan poli.


♡♡♡♡♡
Tapi tetap saja namanya pasien BPJS, banyak-banyak berdoa saja, meskipun sudah cepat datang, terkadang dengan membludaknya pasien, sistem antrian suka kacabalau apalagi ditingkahi perawat atau petugas yang masih suka leyeh-leyeh atau malas-malasan menangani pasien.


Sebab sepengalaman kami, di Poli tertentu cepat pelayanannya sebut saja Poli Anastesi, jam 7.30 buka antri jam 9.00 sudah selesai ditangani dokter. Dan lanjut ke Case Manager (ini bagian yang menentukan kapan sebuah tindakan akan dilakukan) , hampir 2 jam menunggu, dan ketika dipanggil hanya dinyatakan menunggu (akan ditelp) sampai petugas yang sedang cuti datang. Kami bisa apalagi selain mengikutinya.


Tapi memang dengan adanya sistem antrian menggunakan aplikasi memotong waktu antri di bagian SEP bawah dan antrian Poli karena masih sedikit yang paham dan mau menggunakan aplikasi. 


Saya juga jadi bingung, berharap supaya semua ngerti dan menggunakan aplikasi biar mudah, etapi nanti malah sistem aplikasi mereka yang error kalau belum siap. Atau tetap membiarkan keadaan seperti ini, tumpukan antrian mengular baik dibawah, di poli dan dimana-mana. Dan yang bisa menikmati dan memanfaatkan teknologi jadi sepertinya menikmati keuntungannya (sedih juga sebenarnya, kok ga seragam ya). 


Tapi mau bagaimana lagi.

Tidak ada komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih