Mendengar Tuturan Edi Ah Iyubenu tentang Semesta-Nya




Akhirnya paket murmer itu tiba, paket dari diva pres, yang lagi ada promo setengah harga semua produk Edi Ah Iyubenu dan berakhir 14 November 2019 kemarin. 

Sharing Dari Om Edi Ah Iyubenu.
Bahwa kemahawelasasihNya (lazim disebut Jamaliya) jauh lebih banyak diceritakan ketimbang kemahaperkasaaNya ( lazim disebut Jalaliyah). Dan ini menandakan bahwa Allah yang maha kuasa atas sesuatu, sejatinya lebih ingin mengenalkan diriNya kepada kita sebagai sosok maha kasih dan maha penyayang ketimbang maha kuat dan maha perkasa ( halaman 8). 

Dalam bagian lainya, Om Edi menuturkan, bayangkan orang yang tatkala menghadapi suatu hal yang kurang menyenangkan tetapi tiada terpancar rasa sedih, takut, tersinggung, marah, kecewa dan sejenisnya, darinya dikarenakan kayakinan yang telah benar-benar haq bahwa semua kejadian adalah kehendak dan karunia Allah, itulah orang yang hatinya selalu hening, tenang dan kudus (hal.19)



Marwah perjalanan Ruh Suci yang diciptakan Tuhan hingga sampai ke kehidupan dunia ini merupakan amanat yang harus kita pikul tanggungjawabnya untuk menjaga dan berpulang kembali ke hadiratNya sebaik-baiknya, maka menjalankan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya menjadi keniscayaan lahiriah yang mutlak dipikul selalu. Hasil pemahaman beliau menekuri pemikirin Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Masih dari sumber yang sama, orang sufi memiliki definisi orang yang bathin dan zhahirmya jernih dengan mengikuti kita Alqur'an dan Sunnah. Dan setiap kali kejernihannya bertambah, akan semakin keluar dari lautan wujudnya, serta meninggalkan keinginan, pilihan dan  hasratnya. 

Saya sendiri sepakat dengan Om Edi Ah Iyubenu dihalaman 62, bahkan ketika kita menyaksikan suatu peristiwa kemaksiatan , bahkan dengan cara pandang rohani begitu, dapat dimungkinkan bagi kita untuk mampu menyerap sifat-sifat kemahakuasaanNya yang telah menterjadikan kemaksiatan itu hingga membuhulkan telad rohani yang gempal dalam hati kita untuk tak seturut terjatuh kedalamnya.

Salah satu nukilan halaman buku Om Edi Ah Iyubenu


Dan diingatkan juga, bila pun kita pribadi sedang rajin melakoni suatu amaliah salehah, tiadalah boleh pilihan dan minat personal tersebut menjadikan kita merasa lebih baikdan lebih lurus atau lebih benar dibanding orang-orang lain dalam jalan lelakunya masing-masing. Bahkan termasuk juga kepada mereka yang secara lahiriah kelihatan belum sesuai dengan ajaran teks syariat yang umum di pahami. Jadi jangan menjadikan diri kita lebih suci ketimbang yang lain karena pengetahuan kita. Dan merendahkan ketidaktahuan orang lain dna menjadikan bahan perbedaan pendapat hingga berujung keributan. Semoga pesan Om Edi ini sampai ke seluruh penjuru. 

Hal unik lainnya saya dapat dari tuturan Om Edi, bahwa dikisahkan ada seseorang yang berpuasa (atau umpamakan diri kita sedang berpuasa)  lalu berkunjung ke rumah sahabat dan dihidang makanan yang lezat dan dia sudah bersusah payah menghadirkan makanan tersebut. Apa tindakan terbaik yang diambil? Meneruskan berpuasa dan menerangkan kepada tuan rumah bahwa kita berpuasa? Atau menyantap makanan yang sudah disediakan. Dalam hal ini dua-dua nya menawarkan kebaikan, puasa juga menawarkan kebaikan, memuliakan tuan rumah yang bersusah payah menyediakan makanan juga sebuah kebaikan. 

Syaikhuna Habib Umar Al-Hafidz suatu hari menghadapi hal serupa dan ia memilih kebaikan yang ke dua, membatalkan puasanya dan menyantap sajian yamg dihidangkan tuan rumah. Tidak ada raut penyesalan  dan gundah diwajahnya. 

Masih dari bukunya Om Edi 


Tapi ada catatan tambahan dari om Edi, perkara sejenis ini takkan kuasa diemban oleh pikiran semata. Maka secara rohani kembalikan saja hal yang memungkinkan dijalani itu kepadaNya. 

Karena bukan tidak mungkin, kehendak kita yang diinfeksi oleh dorongan pikiran yang bercabang atau hawa nafsu atau bahkan tipu daya setan, sehingga khawatir didalamnya rawan keburukan yang disangka kebaikan.

Dibagian ujian hidup, dinasehati Om Edi, bahwa kita cukup gampang menyebut kekurangan dan kererbatasan hidup sebagai ujian. Lalu kita memegang nasihat "bersabar". Namun dalam keadaan yang berkelebihan kita gamang menyebutnya pula ujian, sehingga kita kesulitan mengenali lnya sebagai ujian hidup juga, kepada yang berkelebihan ini kite getol menyebutnya karunia. Padahal kedua kondisi itu adalah ujian hidup semua, seyogyanya kita pun meski bersikap sama pula yaitu "bersabar".

Masih ada banyak hal  yang dibahas tentang dunia islam, tentang tauhid sendiri dibahas hingga 6 bahasan pun dengan fana yang dua kali dibahas. Semuanya dibahas dengan gaya bahasa ringan yang mudah dimengerti serta ayat pendukung juga diberikan. Untuk buku dengan tebal 180 halaman, selesai dalam waktu 4 jam.

Tentang Om Edi Ah Iyubenu


Dan melalui buku juga saya jadi bisa berkenalan dengan pemikiran Edi Ah Iyubenu tanpa harus bertatap muka. Plus berkenalan dengan konsep pemikiran islam lainnya. 




44 komentar

  1. Konsep sabar ternyata amat sangat panjang dan luas. Terkadang ketika kita bilang sudah bersabar, maka disitulah ketidaksabaran muncul. Benar adanya, sabar dalam menghadapi segapa kemudahan sangat sulit dikenali dan dilakukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya..saya juga lagi belajar untuk lebih lagi dalam hal bersabar...berat dan tidak mudah pastinya

      Hapus
  2. Menarik memang, mengikuti pemikiran Pak Edi tentang islam. Membaca ulasan di artikel ini saya jadi ingat, dulu saya juga pernah mengalami membatalkan puasa sunnah karena disuguh minum ketika bertamu. Sayangnya saat itu belum paham mengenai kedua kebaikan sebagaimana yang dituliskan di artikel ini. Waktu itu saya hanya berpikir enggak mau mengecewakan tuan rumah. Hehe.

    BalasHapus
  3. Saya suka baca buku seperti ini, apalagi ttg sastra, filsafat dan biografi.

    BalasHapus
  4. Kelihatannya menarik nih pemikiran Pak Edi. Pengetahuan yang kita miliki memang seharusnya tidak membuat kita merasa lebih bener dan lebih suci dibadingkan dengan orang lain. Karena itu justru menjadi kesombongan yang tidak disukai Allah.

    Wallahu a'lam bish-shawab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sederhana pemikiran beliau kok... dan cara dia mencerotakn juga sederhana.ga rumit

      Hapus
  5. Iya saya sudah menjalankan hal tersebut, dikala kita sedang bertamu.. Alangkah baiknya menghargai hidangan yang diberikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bah...dia bahkan sudah memiliki pengalaman yang sama

      Hapus
  6. Pernah ada beberapa teman yg bertanya saat saya lebih memilih untuk membatalkan puasa dan menerima undangan makan siang dari atasan di kantor, alasannya tentu saja untuk menyenangkan hatinya. Puasa bisa diganti esok hari, sedang hati yang bahagia dapat membawa hubungan baik hingga mudah-mudahan selamanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi memang keputusan ini akan menjadi perdebatan..antara yang sepaham dengan yang tidak sependapat... semoga saja tidak menimbulkan perpecahan

      Hapus
    2. Kalau guru ngaji anakku Aria, krn dekat (interaksi bukan hanya 1-2 kali), maka biasa saja saat bilang.. Bu, maaf saya hr ini puasa, nanti minumnyaa buat mas Aria saja, saya ndak usah dibikinkan.

      Mungkin ketika kita bertamu atau diundang ke yg "asing" baru pertama bertemu, mungkin membatalkan puasa saat ada undangan, lebih pas untuk kedepannya.

      mungkin, sih. intinya nggak bikin kecewa.

      Hapus
    3. Kalau dekat dan sudah merasa akrab ya sepertinya ga ada masalah juga kali ya mas ari

      Hapus
  7. Baca reviewnya bagus banget, jadi penasaran pengen baca bukunya, pastinya akan menambah wawasan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup... menambah wawasan dan melihat dari sisi yang lainnya

      Hapus
  8. Di bukunya Pak Edi banyak menyinggung pemikiran dari para sufi kah? Terkadang saya pribadi kesulitan mengerti pemikiran sufistik, tapi para sufi memang piawai memahami hidup

    BalasHapus
  9. Bersabar. Kadang kala memang ketika mendapatkan kelebihan, kita menganggap itu karunia, jarang sekali mengatakan itu ujian. Jadinya bukannya bersyukur, malah bisa jadi kita tidak bersabar dan menjadikan kelebihan itu menjerumuskan. Jadi penasaran dengan buku ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Isinya membangun dan positif banget kok bukunya om edi ini

      Hapus
  10. Jadi jangan menjadikan diri kita lebih suci ketimbang yang lain karena pengetahuan kita.

    Fenomena itu yg sering terjadi bahkan di antara sesama Muslim mas. Kadang suka sedih sendiri gitu, lihat teman, lihat pejabat, lihat pemimpin berlaku demikian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat...jangan menjadikan diri kita suci ketimbang yang lain

      Hapus
  11. Well, menarik bagian soal ujian hidup, bahwa baik susah maupun senang itu sejatinya adalah ujian hidup. Dan saya sepakat sih soal itu. Topik yang cukup berat dan perlu dicerna berulang sambil nyeruput kopi ini sih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malah menurut saya penyampaiannya ringan kok... dan mudah dicerna... sebab saya pernah lagi menemukan buku yang tingkat kesulitannya diatas ini...

      Hapus
  12. Wah...maaf...aku kalo kayak gini bacanya harus pelan² supaya faham. Gaya bahasanya tingan ellb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pelan dan diresapi pelan pelan sehingga dapat pesan yang disampaikan ya kk hani

      Hapus
  13. Profil penulisnya keren....

    Kebetulan saya punya beberapa buku beliau dan cocok di selera anak mbarep yang masih SMP. Memang bagus. Bacaannya tidak berat atau berat tapi diringankan. Bisa dbaca sekilas dan mengiyakan atau dibaca pelan lalu mengwowkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti sejalan dengan pemikiran beliau ya kk susi

      Hapus
  14. kondisi seperti ini memang terasa berat dalam menentukan keputusan karena ada dua hal yang mengarah kedalam kebaikan.

    baca sekilas review buku nya mas Edi yang dikemas dengan baik oleh mas Kornelius mencerminkan isi bukunya bagus.

    jadi penasaran baca bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuks lah... baca langsung lebih bisa dapat pesannya

      Hapus
  15. Subhanallah.. profil pak Edi bikin kagum. Tidak ingin menyia-nyiakan waktunya, dan senantiasa intim dengan Al-Qur'an.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yupm..salah stu kegemaran beliau menekuni kitab dan membagikan pengetahuannya

      Hapus
  16. aku suka bagian yang mengenai tentang bersabar karena hidup kita tidak luput dari banyaknya masalah yang kita hadapi baik internal maupun eksternal

    BalasHapus
  17. saya termasuk orang yang mengeti dengan diberikan contoh, terkadang kita sudah tahu hadist atau penggalan ayat Al-Qur'an tapi tidak mengerti makna yang sesungguhnya. ddari pembahasan di sini sepertinya ilmu2 yang disampaikan dapat dimengerti karena di beri contoh dan pemilihan kata yang lebih mudah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat...contoh yang sederhana semakin membuat mudah untuk pahami

      Hapus
  18. SABAR dan ikhlas itu ilmu tertinggi bagi manusia hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... sabar dan iklas....tapi praktiknya tidak mudah

      Hapus
  19. Nah, dari dulu suka galau tuh kalau lagi puasa terus malah disuguhi makanan yang enak-enak saat bertamu. Akhirnya lebih sering meneruskan puasa. Ternyata kalaupun membatalkan sama bagusnya ya karena memuliakan tuan rumah.
    .
    Ngomong-ngomong aku suka banget sama konsep sabarnya itu, reminder banget buat aku pribadi. Jadi pengen baca langsung bukunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Reminder buat kita semua..terlebih yang sudah membaca buku ini

      Hapus
  20. Edi ini yang punya Divapress kan ya?
    Soal paragraf pertama pas banget, kasih di atas segalanya

    BalasHapus
  21. Ketika di paragraf saat berpuasa kita berkunjung ke rumah kerabat, di persilahkan makanan yg disediakan,nah saat itu aku jg batal puasa. Makanya aku klo mau kerumah teman pas lg ga puasa atau bilang sebelumya klo kita sedang puasa wajib, jadi pemilik rumah tidak menyediakan makanan untuk kita.

    BalasHapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih