2 Jam Menegangkan Menyaksikan Pandemi Penyebaran Flu (Film The Flu)


Ilustrasi Virus Corona
Ilustrasi dari pixabay

Suatu hari di Korea kota Bundang, berawal dari masuknya imigran  gelap yang dibawa dari luar daerah. 

Siapa sangka mereka bawa penyakit. Dan mewabah seketika itu juga. Ketika peti kemas mereka dibuka, sebagian tewas sebagian keluar dan bertahan hidup. 

Dan salah satunya bertemu dengan Mi Rue, Monssai, naluri menolong Mi Rue ketika bertemu Monssai adalah berkenalan dan menolongnya. Karena Monssai terlebih dulu menolong Mi Rue dari kecelakaan. 

Sebagai balas budi, Mi Rue memberikan Monssai sepotong roti dan demi mengetahui sakit ia mencari bantuan, Paman Ji Koo seorang tim SAR. 

Teman-teman Monssai lainnya membeli obat di apotik dan berjalan mewabahi orang-orang yang mereka temui.  Dalam hitungan jam Kota Bundang sudah menjadi kota pandemic flu. 

Sementara di sebuah rumah sakit, semakin banyak orang yang terkena wabah flu. 

Mi Rue yang masih mencari-cari Monssai, Ji Koo sendiri tidak sampai hati meninggalkan Mi Rue sendirian. 

Wabah Flu cepat menyebar.

Demi melihat penyebaran flu yang cepat dilihat dari jumlah pasien yang mendadak sakit. Ibu Mi Rue yang juga seorang dokter praktis mengkhawatirkan keberadaan si anak. 

Disaat yang sama pemerintah sibuk berfikir keras untuk memilih cara mana yang terbaik menangani wabah yang melanda. Sebagian tidak percaya dengan kecepatan virus ini menyebar sebagian lagi (dokter) bersikeras agar dilakukan / dibuatkan kamp khusus. Agar dapat dilakukan pemeriksaan mana yang sudah tertular dan mana yang belum.

Singkat cerita, Mi Rue dan Paman Ji Koo bertemu dengan In Hue (orang tua Mi) di pasar modern (s eperti yang dimiliki om Chairul Tanjung itu loh). Dan mereka dipaksa masuk karantina pengunjung toko modern tadi semuanya. Mereka mendapatkan nomor pengganti identitas. 

Cerita masuk ke klimaksnya ketika In Hue menyadari Mi Rue terkena wabah ini. Awalnya ia mengira (jangan-jangan) Mi Rue terkena dari Paman Ji Koo. Sempat menjaga jarak awalnya. Namun demi melihat kondisi anaknya yang semakin memburuk sementara kondisi Ji Koo baik bail saja. 

Dokter Jaga
Ilustrasi dari pixabay

 
In Hue memutuskan untuk menitipkan Mi kepada Ji Koo, karena ia mendengar ada satu orang yang selamat dari kontainer tadi dan sedang disiapkan untuk diuji coba  menjadi donor antibodi.

Boms, siapa sangka donor ini adalah Monssai yang ditolong dan menolong Mi Rue diawal cerita. Demi melihat kemajuan dari Monssai, In Hue akan melakukan donor kepada anaknya.

Nah bagaimana membawa Mi Rue keluar dari kamp, secara ia sudah diketahui mengidap penyakit yang sedang melanda.

Di laboratorium sendiri terjadi perdebatan yang tidak kalah sengitnya antara pemerintah dengan ahli medis. Yang awalnya antara walikota kota Bundang bahkan presiden Korea pun hadir disana. Memikirkan strategi apa yang terbaik bagi kota Bundang. 

Mi Rue dibawa keluar menuju laboratorium setelah memastikan donor siap sementara kondisi Mi semakin memburuk. Demi memuluskan rencana ini, karena nomor Mi Rue sudah ketahun mengidap. Ji Koo menukar dengam nomornya. 

Monssai sempat menolak diawal untuk diambil darah dijadikam donor. Tetapi luluh setelah melihat Mi Rue yang ia kenal memberikan roti kepadanya. 

Baru setengah jalan donor anti bodi diberikan, ruangan laboratorium didobrak. Mi Rue diambil paksa. 

Memang karena donor antibodi ini belum terbukti dan lolos uji klinis terhadap manusia.

Awalnya virus ini adalah flu burung H5N1 namun berbeda dengan yang di Korea. Sementara yang di Indonesia (disebut juga) menular melalui sesama manusia. 

Keadaan semakin panik, Mi Rue kondisinya semakin memburuk dengan anti bodi yang sudah masuk. Bahkan sempat dibuang ke sebuah lapangan umum yang dijadikan kuburan massal. 

Hingga Ji Koo yang menggantikan posisi Mi dikeluarkan karena tidak memiliki gejala, sadar dan mencari Mi Rue di lapangan kuburan massal. 



Keadaan semakin menjadi kacau ketika ibu seorang tentara mengidap flu burung. Pilihan sulit, mau tidak mau ia akhirnya membela ibunya agar tidak dibuang ke kuburan massal tadi. Mati dong, akhirnya kubu militer terbagi dua. 

Kondisi Monssai stabil dan siap untuk di bawa ke Seoul dan dijadikan sampel untuk antibodi. Sayangnya ditengah jalan dicegat dan dibunuh dong sama warga yang merasa diperlakukan tidak adil dan diabaikan pemerintah.

Jadi praktis ga ada alasan lain untuk ga memusnahkan semua penduduk kota Bundang, agar pandemic tidak semakin menyebar ke kota lainnya. Anti bodi tidak ada, lanjut semakin banyak yang terkena.

Bahkan diperbatasan kota sudah diperintahkan untuk tembak ditempat siapa saja yang coba menerobos.

Hingga In Hue mendapat kabar Mi Rue ada bersama Ji Koo dan semakin stabil. Sehingga praktis yang bisa menjadi donor berikutnya adalah Mi Rue.

Nah pihak asing, yang ikut bersama-sama pemerintah mengambil tindakan keras tidak hanya tembak ditempat. Tapi bersiap untuk melakukan penembakan melalui udara dengan pesawat tempur. (ini kenapa juga ada pihak asing yang ikut andil dalam memutuskan perkara kota Bundang)

Presiden sendiri tidak setuju dengam tembak ditempat apalagi melalui pesawat tempur. Dan anehnya protokolnya memperbolehkan pihak asing itu mengambil tindakan tanpa persetujuan presiden (hmm...kok jadinya mikir jangan di negara kita bisa terjadi seperti itu juga ya)

Hingga Presiden mengambil sikap tegas karena ia tahu tidak bisa membatalkan serangan udara, maka ia memastikan menteri pertahanan udara menembak semua pesawat yang melakukam penembakan di kota Bundang. 

Untungnya pihak asing akhirnya melunak, serelah melihat Mi Rue selamat dan berhasil dari donor yang diberikan. 

At the end, presiden berkata tidak akan meninggalkan kota  Bundang dan bersama kota itu hingga selesai pandemi.

Pfuufff... menegangkan menyaksikan film The Flu,  pas banget diputar ditengah pandemi seperti saat ini. Pas banget bikin semakin takut, pas banget bikin pikiran melayang jauh ga menentu. 

Hiks.s.s.s 









Tidak ada komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih