Sabtu, 22 Oktober 2016

Nyatakah Dongeng sang Ayah? (Review Ayahku (bukan) Pembohong)




Ayahku (bukan) Pembohong

Dilain waktu sang ayah juga menceritakan pesan dari suku angin, bahwa untuk memenangkan sebuah peperangan yang dibutuhkan hanya kesabaran  hati dan keteguhan yang panjang.

Satu lagi novel Tere Liye yang selesai saya baca. Untuk ukuran 300 Halaman,seminggu baru dapat menyelesaikannya, rekor terlama karena selain hanyut dalam jalan cerita yang sederhana, diselingi kesibukan lainnya selama membaca Novel Ayahku (bukan) Pembohong.

Rupanya setelah selesai membaca hingga akhir dijelaskan sendiri oleh  Tere liye, bahwa beberapa pembaca yang sudah membaca Novel “Big Fish” akan merasa bahwa Ayahku (bukan) pembohong terinspirasi dari sana. Sepertinya tere liye sendiri mencoba memberikan disclaimer  kesamaan tokoh dan jalan cerita yang terjadi adalah hanya kebetulan belaka tanpa adanya unsur kesengajaan.

Ok, lepas dari itu seperti biasa sebagia cirikhasnya tere liye dalam setiap novelnya akan selalu ada pesan yang coba disampaikan entah itu secara nyata ataupun kasat mata (hallah).  Kalau kalian baca novel ini hingga selesai. Diujung halaman terakhir, pesannya adalah bahwa ide awal Ayahku (bukan) pembohong adalah tentang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng, tentang definisi kebahagiaan, tentang membesarkan anak-anak dengan sederhana. 

Sementara konsep kesederhanaan itu setelah membaca seluruh novel Ayahku (bukan) pembohong, Hidup sederhana, apa adanya adalah jalan tercepat untuk melatih hati di tengah riuh rendah kehidupan hari ini. Memiliki hati yang lapang dan dalam adalah konkret dan menyenangkan, ketika kita bisa berdiri dengan seluruh kebahagiaan hidup, menatap kesibukan di sekitar dan melewati hari-hari berjalan. 

Illustrasi

Overall Ayahku (Bukan) Pembohong.
Cerita sederhana dari keluarga sederhana, Dam, Ayah dan Ibunya. Dam sendiri dibesarkan dengan dongeng-dongeng sang ayah, entah kebenarannya. Tapi setidaknya dari dongeng yang diceritakan ayah, memacu motivasi Dam untuk menjadi sosok yang lebih baik. 

Ditingkahi kisah kecil Dam yang kebetulan memiliki rambut keriting ikal (bayangin rambutnya (Giring Nidji) dan suka membuat keributan-keributan kecil dengan sahabatnya kelak Jarjit (ini kenapa namanya sama kayak yang di upin ipin ya).

Ayah Dam sendiri mmang dikenal sebagai sosok pegawai pemerintahan yang bersahaja dengan kehidupan sederhana (ini yang harus di contoh sama PNS-PNS sekarang). Sebagai sosok yang mendapatkan master dari negara Eropa, ayah Dam tidak mau terlalu lama dekat dengan kekuasaan.
“Kekuasaan itu cenderung jahat dan kekuasaan yang terlalu lama cenderung lebih jahat lagi. Semua orang cenderung  pembantah, bahkan untuk sebuah kritikan yang positif, apalagi sebuah tuduhan serius berimplikasi hukum, lebih keras lagi bantahannya.” Hal 185. 

“Orang dewasa yang jahat sulit diperbaiki meski dihukum  seratus tahun, jadi berharaplah dari generasi berikutnya.” Halaman yang sama.

Kebijaksanaan itu didapat Ayah Dam ketika bertukar pikiran dengan “si raja tidur” salah satu tokoh dongeng yang sering dicerikan kepada Dam. Raja tidur memiliki 8 gelar dari delapan ilmu yang berbeda (jadi termotivasi untuk kuliah lagi, amin).

Sosok ayah yang bijak dengan cerita yang luar biasa memicu semangat Dam untuk menjadi lebih baik. Ketika Dam berkelahi dengan Jarjit,sang ayah menasehatkan “kadang cara membalas yang terbaik justru dengan tidak membalas.” Tau ngga kalimat ini juga di dapat ketika sang ayah berkunjung ke salah satu Suku Angin.

Dilain waktu sang ayah juga menceritakan pesan dari suku angin, bahwa untuk memenangkan sebuah peperangan yang dibutuhkan hanya kesabaran  hati dan keteguhan yang panjang (seperti lagi membaca kisah revolusioner pada masa merebut kemerdekaan melawan penjajahan Belanda).

Tapi siapa sangka ditengah cerita Dam yang sedikit banyak termotivasi dari cerita sang ayah meragukan kebenaran ceritanya. Hingga Dam menemukan sebuah buku dongeng yang ceritanya sama persis dengan pengalaman yang diceritakan sang ayah.

Cerita berlanjut dengan keluarga Dam semasa dewasa, pun berlaku hal yang sama. Sang ayah menceritakan dongeng yang sama kepada anak Dam. Disini cerita bergerak “naik”. Konflik Ayah, kakek anak dan pasangan hindup dimulai. 

Ego Dam keluar, sebagai kepala keluarga, ia sangat tidak suka dengan segala cerita yang pernah ia dengar diceritakan kembali kepada anaknya. Terlebih ia yakin ada kebohongan didalamnya. Kekecewaan hatinya membuncah kala ia kehilangan ibu, sementara sang ayah masih percaya dengan dongeng tolol itu.

Menyimak sendiri cerita lanjutan dari Ayahku (bukan) pembohong akan menarik. Alurnya sederhana dan sebagai buku yang tahun 2016 April lalu sudah masuk cetakan ke 15 cocok sebagai teman menghabiskan berakhir pekan, santai sejenak di sudut pinggiran warung kopi.

***
Dibandingkan beberapa bukunya tere yang sudah saya baca, Ayahku (bukan) Pembohong memang terkesan lebih ringan dan lebih santai, sehingga kesan untuk melahapnya habis dalam semalam tidak terlintas.  

Pesan kesederhanaan, dongeng ringan dan konflik nyata hubungan ayah dan anak serta lingkungan masih relevan dengan keadaan sekarang. 

Berbeda dengan Novel sebelumnya Hujan dengan nuansa modern romantis ala masa depan. Atau Negeri di ujung Tanduk yang kental dengan muatan politis dan ala-ala mafia yang menegangkan.  Ayahku (bukan) pembohong sekali lagi terkesan santai tapi tetap berisi. 

Terakhir di halaman 293, Dam masih beruntung mendengar cerita ketika sang ayah bertemu para Sufi (orang-orang yang tidak mencintai dunia dan seisinya, orang yang sibuk dengan fillsafat hidup, makna hidup dan prinsip-prinsip hidup yang agung)
"Kebahagiaan itu datang dari hati sendiri, bukan dari hati orang lain, harta benda, ketenaran apalagi kekuasaan. Tidak perduli seberapa jahat dan merusak sekitar, tidak perduli seberapa banyak parit-parit itu menggelontorkan air keruh, ketika kau memiliki mata air sendiri dalam hati, maka dengan cepat danau (baca : hati) itu akan bening sendiri."

Masih bingung ceritanya ayah Dam itu nyata atau dongeng sich? 

Kalau nyata kenapa ceritanya kayak dongeng ya? 

Kalau dongeng kok bisa menjadi sebuah kenyataan?

Detil Bukunya 
Judul : Ayahku (Bukan) Pembohong
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2011
Halaman : 304 Halaman 
Penulis : Tere Liye 




Selamat menikmati akhir pekan Sob :)


9 komentar:

  1. kayaknya sich cerita nyata ni Bang ...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kayanya nyata sich ....atau cuma sekedar dongeng.

      Hapus
    2. Iya, kayanya nyata sich ....atau cuma sekedar dongeng.

      Hapus
  2. Awal nya tere liye ini gw pikir ce lho, karna banyak sudutpadnag cerita nya kayak ce hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih parah saya dulu mas. Saya pikir tere masih ada fam dari india sana..

      Hapus
  3. Sekilas novel Ayahku (Bukan) Pembohong kayak film Hollywood yang pernah saya tonton. Lupa judulnya kayaknya ada kata Fish gitu, deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayanya judulnya big fish gitu mba myra :)

      Hapus
  4. Karangan Tere Liye bagus2.. tapi baru baca satu karangan saja nih.. belom yang lain..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus baca yang lain juga mas. Karya tere ringan untuk disimak kok. #ngepop banget

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih