Sabtu, 26 Desember 2015

Politik itu Kejam (Resensi Buku Negeri di Ujung Tanduk, Tere Liye)



 

Ada sebuah konspiracy jahat  mencoba membuat Thomas tidak kembali ke Jakarta. Karena pada saat  bersamaan Calon Presiden yang di jagokannya di tangkap paksa atas dugaan korupsi pembangunan Tunnel. 
 
Dari judulnya saja sepertinya sudah menyulut sebuah kontroversi seperti apa kisah yang akan di ceritakan. Tapi seperti buku-buku sebelumnya Tere Liye selalu menyelesaikan kisahnya dengan mulus. Berbeda sedikit sebelum membaca buku Negeri di Ujung Tanduk ada baiknya menyimak cerita sebelumnya  Negeri Para Bedebah. Tapi tenang,  awalnya saya juga bingung, secara meskipun sudah baca buku Negeri Para bedebah dan belum sempat menuliskan reviewnya, wah jangan-jangan kisahnya akan melenceng jauh dan sulit untuk dicerna. 

Beberapa buku dari Tere Liye sudah selesai saya baca sebut saja Rindu, Negeri Para Bedebah dan Daun yang Jatuh tak Pernah Menyalahkan Angin. Yang memiliki kesan apik bagi saya sendiri adalah buku yang ditengah dan  buku yang baru saja selesai di baca. Berbeda dengan buku awal dan di akhir yang menurut saya sedikit ringan dan mudah dicerna plus di dandani sedikit romantisme.

Membaca Negeri di ujung Tanduk seperti menyaksikan kisah negeri ini dalam bentuk yang berbeda berikut ringkasannya.

***
Sosok Thomas merupakan tokoh intinya, dibesarkan dari kerasnya jaman. Tapi membuatnya menjadi pribadi tangguh dan tahan uji. Thomas seorang konsultan politik yang mendukung salah satu kandidat calon Presiden. Calon presiden itu merupakan mantan walikota dari sebuah daerah  dan saat ini sudah menjabat gubernur di sebuah provinsi (hmmm,,,, mirip-mirip dengan presiden yang sekarang kan).

Cerita berlanjut, sebagai seorang konsultan politik yang tidak di bayar sepeserpun dan dukungan yang Thomas berikan hanya karena kesamaan pandangan dan sama-sama dari sekolah yang mengajarkan idealisme. 

Thomas sendiri  sudah mapan dengan perusahannya. Seringkali  ia diundang ke berbagai negara tetangga untuk di mintai pandangan dan pendapatnya. Tapi di balik kesuksesannya ada hobi "kerasnya“ yang harus disalurkan. Diam-diam dan rutin Thomas mengikuti pertarungan „ilegal“ yang diikuti oleh beberapa eksekutif dan pebisnis se-usianya. Hobinya sangat "ekslusif“ dan hanya di ikuti orang tertentu saja. Bahkan olahraganya terkesan tidak ada  dan tidak masuk akal, tapi  kenyataan ada dan rutin berjalan tanpa sepengetahuan dunia luar. 

Ok, cerita berlanjut. Lepas kunjungannya ke Hongkong sebagai pembicara salah satu seminar. Thomas "janjian“ bertemu dengan Opa dan kadek (asst. Opa). Tidak lupa ada Maryam yang tiba-tiba muncul di dermaga seorang reporter yang ditugaskan khusus dari salah satu media terkenal di Jakarta. 

Jadilah mereka ber-empat mencoba kapa baru Opa, sialnya petugas anti teror menangkap mereka denga tuduhan kepemilikan Heroin dan Senjata Ilegal. 

Disini kisah dimulai,,,,,, Thomas, Maryam, Opa dan Kadek ditahan satuan anti teror Hongkong. Ditahan dalam ruangan yang khusus dan entah berada di bagian mana Hongkong, mereka tidak tahu. Thomas memutar otak dibantu Opa agar dapat menghubungi salah satu "petarung“ yang beberapa hari lalu dikalahkannya. Bantuan datang,Thomas, Maryam , Opa dan Kadek semuanya berhasil lolos dan kembali ke Jakarta. Ada sebuah konspiracy jahat yang mencoba membuat Thomas tidak kembali ke Jakarta. Karena pada saat yang bersamaan Calon Presiden yang di jagokan Thomas di tangkap paksa atas dugaan korupsi pembangunan Tunnel. 

Konvensi partai yang diadakan masih "deadlock“ apakah tetap maju dengan calon presiden dengan status tersangka atau mengajukan calon lainnya. Waktu Thomas tidak banyak. 

Setingan ceritanya sendiri hanya 2 hari semenjak kepulangan Thomas dari Hongkong. Saya sendiri terasa seperti di “uber-uber” untuk mengetahui kisahnya. Dibantu Sekretaris pribadinya Maggi dan Staf Ahli IT kantor konsultannya. Thomas mencoba merangkai semua kejadian dan mencari tahu siapa sosok dalang di belakangnya. 

Siapa sangka, Kris mampu membuat sebuah keterhubungan data dari informasi yang dikumpulkan 20 tahun ke belakang. Dan tidak diduga, informasinya menyajikan sebuah peta keterkaitan antara setiap masalah dengan masalah berikutnya ditambah sosok siapa yang bertanggung jawab. Parahnya keterkaitan itu melibatkan para petingi di negara ini. 

Jaringan dan lingkarannya sudah mulai terbuka tapi sosok yang di ‘atas’ tetap tidak diketahui. 

Aksi kejar-kejaran dengan polisi, baku tembak di jalan plus  aksi penangkapan Thomas dan Maryam yang membuat mereka di kirim ke salah satu penjara penitipan. Tapi siapa sangka dalam penjara Thomas mendapatkan pertolongan dari Rudi salah satu perwira Polisi yang masih memiliki kejujuran dan merupakan "petarung" juga dan salah satu temannya. 

Rudi lah yang membantu Thomas untuk melarikan diri dari penjara yang di komandani-nya. Tak lupa Rudi memberikan Jam Tangan sebagai hadiah kecil. Jam inilah yang di akhir cerita sangat membantu Thomas


Lalu bagaimana cerita selanjutnya, apakah Thomas akhirnya mengetahui sosok dibelakang semuanya ?


***
Sosok "mafia Hukum" yang  merupakan musuh bebuyutan Thomas berbagi sebuah cerita
Ada sebuah kerajaan yang menyelenggarakan turnamen, siapa saja yang berhasil mendapatkan tanduk rusa jantan dari sebuah hutan terlarang ia akan diangkat menjadi menantu raja. Hanya 10 orang  bersedia mengikuti turnamen itu. 7 tidak pernah kembali keluar hutan. Hanya 2 yang keluar dengan selamat  membawa tanduk rusa jantan yang indah. 

Tapi jangan lupa ada orang ke 10, orang yang tidak pernah memiliki keberanian untuk masuk hutan dan memiliki kemampuan berburu. Tapi orang ke 10 ini memiliki kelicikan dan raja tega. Siapa sangka ia menunggu di gerbang hutan terlarang dan membunuh 2 orang yang berhasil mendapatkan tanduk. Alhasil hanya ia seorang yang keluar sebagai pemenang dengan mendapatkan 2 tanduk sebagai lambang keberanian dan kegagahannya.

Tidak berhenti sampai di situ pesan-pesan moral selalu diselipkan tere dalam setiap bukunya kali ini sebut saja,  

Apakah Politik membutuhkan moralitas ? Berapa tahun Nelson Mandela di penjara oleh rezim kulit putih karena isu moralitas yang dibawanya ?  Menentang Apartheid ? apa kurangnya Moralitas yang di bawa Nelson Mandela. Jawaban intinya adalah, karena orang-orang berhitung dengan kepentingannya masing-masing dan mengukur kekuatan masing-masing.

Tapi sehebat apapun ide moralitas yang mereka bawa entah itu perdamaian dunia, kesejahteraan manusiaitu tetap sebuah politik. Dijual kemasyarakat luas untuk dibeli, didengarkan dan didukung. Tanpa adanya pengikut, tanpa mesin yang melaksanakannya ide itu tetap kosong. Hanya kalimat yang mengambang, tulisan-tulisan  tergeletak. 

Atau di akhir cerita, Kakek dari Lee  (Yang merupakan teman pelarian Opa dari Tionghoa ke Jakarta kala mereka muda) berpesan kepada Thomas, Sepotong Intan yang terbaik di bentuk dari suhu dan tekanan yang tinggi dalam perut bumi. Jika Intan tadi mampu bertahan melewati itu semua maka sejatinya ia akan menjadi sebuah Intan yang mahal harganya.

Masih penasaran dengan akhir ceritanya, ada baiknya kalian memiliki dan mengenal sosok Thomas sendiri ya. Buku Negeri di Ujung tanduk sendiri dicetak tahun 2013 dan Maret  2015 sudah masuk cetak ulang yang ke delapan. Dugaan saya buku ini akan memasuki cetak ulang lagi di tahun 2016.

Saya sendiri mendapatkannya di KompasGramediaFair beberapa waktu lalu dengan harga Rp. 73.000 dan mendapatkan discount 20%. Informasi dari acara kemarin di Gramedia On line sering juga memberikan discount kepada para pecinta buku.

Atau kalian bisa langsung datang ke Gramedia terdekat, sering juga ada discount-discount menarik di akhir tahun seperti saat ini. OK


Selamat menikmati.


14 komentar:

  1. Balasan
    1. sama2 ibu Tira.. semoga bermanfaat :)

      Hapus
  2. selain kejam ,aku juga gak tertarik sama politik. Tapi kalau sekedar baca novel gak apa=apa lah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener....lebih aman baca novelnya saja mba lidya.. :)

      Hapus
  3. Wahhh, seru. Ternyata penikmat karya Bang Tere juga nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.. beberapa karya beliau sering saya nikmanti... tapi sampai sekarang belum pernah ketemu sama yang namanya Tere Liye :)

      Hapus
  4. Wah aku belum pernah baca buku Tere yg ini...thanks postingannya

    BalasHapus
  5. Buku-buku atau novel yang membuka wawasan kita lebih lebar ya Bang Ginting. Karya Tere selalu begitu, penuh diksi yang mempesona tapi tak kehilangan kendali atas jalan cerita :)

    BalasHapus
  6. Buku yang ini memang bikin mempertanyakan politik dan ekonomi ya mas. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mas.. dan kelihatan intrik intriknya... kaya membaca negara sendiri dalam bentuk novel :)

      Hapus
  7. Buku adalah alat kritik halus keren sob review nya salam kenal juga hihihi...
    ditunggu kunbalnya Kopi-manis.com

    BalasHapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih