Rabu, 02 Maret 2016

Bentuk lain cinta yang tersembunyi tapi saling mengerti (Hujan, Tere Liye)




"Hujan.. siramilah...Hujan basahi kemarau-ku..ingin jadi kenyataan mimpi yang dulu kita ucapkan.. hujan siramilah..."  penggalan lirik lagu dari Slank tentang Hujan.


Hujan bagi sebagian orang adalah berkah, datangnya hujan mengusir kekeringan yang melanda. Mengusir debu yang pekat. Hadirnya hujan membawa kesegaran tersendiri bagi sekitarnya.
Tapi tidak bagi Lail, Hujan adalah pertanda akan sebuah kejadian. Rekaman di kepalanya selalu memutar setiap kejadian buruk kala hujan hadir.

Tapi hujan juga yang buat semangat hidupnya tetap hadir, terus berjalan menapaki hari demi hari.
Setting yang diambil dari masa depan, saat semua teknologi informasi sudah masive berkembang. Lail kecil yang tinggal dengan sang ibu di sebuah kota metropolitan dengan moda transportasi yang canggih.   

Siapa sangka kecanggihan tidak mampu melawan takdir alam. Bencana alam meluluhlantakan  kota mereka tinggal. Bahkan sang ayah yang berada di bagian lain kota  ikut merasakan imbasnya.

Lail, bocah kecil dipaksa terpisah dan bertahan dengan keadaan yang serba rumit. Kekacauan di mana-mana. Semua orang menjerit, semua orang terluka dan berusaha diselamatkan.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Jika pintumu tertutup, pasti akan ada pintu  yang terbuka di bagian lain.”  Shock, kaget dan kacau balau, di usianya yang muda. Pintu lain itu adalah hadirnya sosok Esok dalam hidupnya.

Esok juga kehilangan saudaranya, hanya tersisa sang ibu. Esok pula yang menyelamatkan Lail. Dua bocah malang yang harus melalui kerasnya takdir hidup.
Liburan enaknya baca buku ini :)

oo00oo
Kalau kalian pernah baca bukunya Tere Liye sebelumnya, Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Membaca buku hujan tidak jauh berbeda. Hanya setting tempat dan ending yang sedikit berbeda. Hujan lebih “proggesive” (menurut saya) ketimbang Daun yang Jatuh tak pernah membenci angin.

Di Novel Hujan kita akan di bawa berputar-putar dengan cerita Lail, jatuh bangun perasaannya kepada Esok. Seolah – olah Esok tidak peduli. Lalu dihadapkan juga dengan kehadiran Esok yang selalu tiba-tiba muncul dalam acaranya Lail. 

Tidak terucap kata Cinta dari mulut mereka, tidak juga tersirat rindu di setiap percakapannya. Saya sendiri menduga-duga, bagaimana ending hubungan mereka berdua.


oo00oo
Waktu berjalan, hari berganti. Esok menata hidupnya. Ia diterima di salah satu universitas terbaik di tengah kota. Sementara Lail tidak seberuntung Esok, tinggal di sebuah panti. Sekali lagi ketika salah satu pintu tertutup pasti akan ada pintu lain yang terbuka. Siapa sangka perkenalannya dengan Maryam membawa labil ke petualangan berikutnya.

Bocah kecil ingusan itu sudah menjadi sosok relawan yang tangguh.  

Lail membalas kejamnya takdir dengan membantu orang lain, mengobati kesedihan dengan berbuat baik. Kesibukannya jugalah yang mampu mengusiir rindunya terhadap Esok. Hal 137.

Disisi lain ketika Lail bercakap-cakap dengan Maryam, Ciri  Ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu helaan nafas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu has esok.  Hal 205. Demi melihat Lail yang selalu galau akan Esok.

Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka biarlah begitu adanya. Biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini akan selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian. 

Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan oleh kuas si pelukis. Sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga. Tidak dapat dijelaskan oleh mesin yang paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi kenapa kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci, cemburu? Jangan jangan karena kita tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta. Hal 255-256.

oo00oo
Lalu bagaimana hubungan dengan Lail dan Soke Bahtera? Maryam yang kenal dekat dengan Lail berpacu dengan waktu. Sementara Lail sudah putus asa dengan segala ingatannya. Hujan selalu menghadirkan kisah pilu baginya.

Kemajuan teknologi yang ada mampu menghilangkan semua ingatan yang hadir. Iya semua ingatan tentang Soke Bahtera, semua ingatan tentang perihnya menahan rindu.

Bumi semakin tidak bersahabat, diambang kepunahan, Esok, sang ilmuwan berhasil menciptakan sesuatu yang mampu menyelamatkann manusia dari kepunahan.

Apa yang akan dipilih Esok, Hidup bersama ibunya yang cacat tapi tetap mampu bertahan. Pilihan lainnya tinggal bersama anak dari walikota yang menyelamatkan hidupnya (sekaligus membayar hutang budinya).


oo00oo
Buku setebal 318 halaman dan diterbitkan oleh Gramedia sudah memasuki cetak ulang ke 5 Februari 2016. Alurnya ringan, sarat pesan moral, perjuangan dan romantisme khas anak masa depan. Teknologi hadir melampaui yang dapat kita bayangkan. 

Semuanya diramu menjadi satu rangkaian cerita yang menghibur, membawa perasaan “naik turun”. Gemas, geram menjadi satu.

Menarik dan harus dibaca.
Buku ini saya beli di Gramedia Matraman dengan harga Rp.78.000,-

24 komentar:

  1. pas banget ya lagi musim hujan baca bukunya Terey Liye. Romantisme khas anak masa depan itu kay agiman bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.. pas banget masuk musim huja ya mba Lidya... Romantisme di masa depan itu seperti membawa motor honda cbr dengan mesin honda gl 100... bisa di bayangin ngga mba.. ada kesederhanaan dalam futuristik :)

      Hapus
  2. Wah, saya belum baca Bang buku ini. Kayaknya salah satu buku wajibnya Tere Liye nih. Makasih Bang reviewnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukunya bagus mas,.,,, makanya sudah masukcetakan ke 5... tapi memang bukunya si mas Tere ini beberapa sudah best seller,,, :) dan wajib baca .. seperti hujan ini salah satunya :)

      Hapus
  3. Aku pernah baca bukunya, bang.. Bagus memang.
    Dan salah satu kalimat yang paling diingat itu ya bagian "daun yang jatuh tak pernah membenci angin"..
    Cihuyy gak bosen baca bukunya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhahaha.. Berarti icha suka novel yg romantisan gitu ya... :)

      Hapus
  4. Buku ini lagi rame-ramenya. Mau beli tapi nggak sempet terus. Dan duitnya juga nggak ada :(

    Sejauh ini cuma jadi penikmat update di fan page pribadinya Tere Liye. Belum sempat baca samasekali. Mungkin segera ehehe. Nice review!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukunya tere liye memang rata rata rame terus... Sekali kali beli bukunya tere mas roby.. Biar tau tere dari karyanya.. :)

      Hapus
  5. Ini versi yang baru lagi ya, mas kornelius? Waduh ketinggalan dong gue baca nya, saya kepengen ngoleksi bukunya mas tere. Seumur-umur ini saya bar ngumpulin tiga bukunya masihan. Hehe..
    Jadi kepengen, seperti mas tere. Yang suka Nulis dan banyak pengetahuannya tentang pengetahuan kehidupan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan versi baru mas.. tapi memang buku baru dari tere liye... Sam dong saya juga baru punya 3 buku :) atau jangan2 buku ini ada versi lawasnya :)

      Hapus
  6. Tere Liye jago banget merangkai kata

    BalasHapus
  7. Tere Liye selalu sukses melumerkan hati pecintanya. Saya belum baca yg novel hujan ini. kelihatannya bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus baca mba... terutama yang suka dengan romantisme masa depan..

      Hapus
  8. tulisannya menarik, sudah punya novel yang pertama dari Tere? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya untuk novel yang pertama dari tere liye saya belum memiliknya :)

      Hapus
  9. Wah penassaran sama novel bang tere yg ini.
    Makasih yaa reviewnya bikin makin penasaran hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat berburu novelnya mba.. Tenang.. Banyak kok di gramedia :)

      Hapus
  10. buku-buku tere liye emng keren abis...
    jadi kangen sama istri nih,...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha.. Buruan pulang mas adams... Salam buat keluarga kecilnya ya

      Hapus
  11. waduh belum baca. kayake sih bagus, eh pastinya bgus ding. tere liye kok :-)
    nice info bang :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang karyanya mas tere selalu laris di pasar mba,.. :)

      Hapus
  12. Tulisan ini membuat saya jadi pengen baca-baca novel lagi.. :3

    Padahal udah lama banget pensiun baca novel... XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe.. sama mba.. saya juga baru mulai baca novel juga kok... rencananya ke depan mau jajal buku2 karyanya pramudya ananta tour.. katanya bagus...

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih