Tidak
terasa sudah hari minggu saja, yuklah ke gereja, kira-kira pesan apa yang akan
kita bawa pulang dan kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dibuka
dengan narasi mengenai Iman yang nampak dalam ketaatan - meneladani Abraham.
Detilnya baca di Kejadian 12: 1-4. Yup, meneladani Abraham sangat sulit,
meninggalkan kedagingan.mengikuti kehendak Tuhan.
Berangkat
dari Kita Ibrani 11:1-2 TB [1] yang mengatakan Iman adalah dasar dari segala
sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
[2] Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.
Pendeta
Enos Bayu Setiyadi. menganalogikan dengan Kisah Memberikan Tisu,
--dimana
ia memberikan beberapa lembar tisu dan menanyakan kepada salah satu jemaat apakah
ia percaya kepada dirinya selaku pendeta, jawabannya adalah percaya dan jika ia
percaya maka pendeta kemudian memberikan beberapa lembar tisu tadi dan meminta
jemaat untuk membelikan ia sesuatu dengan tisu tersebut. Pilihannya apakah
jemaat tadi memilih tetap percaya dan membelikan apa yang pendeta katakan atau
memilih tidak percaya dan malah bertanya “mana bisa tisu untuk membayar apa
yang pendeta minta belikan”, sementara didalam tisu tadi pendeta telah
menyematkan uang didalamnya—
Konsep
percaya Abraham adalah seperti itu, percaya kepada Tuhan yang memerintahkannya
tanpa mempertanyakan segala sesuatunya. Hanya berjalan menurut perintah Tuhan.
Iman
yang sejati tidak berhenti di kepala saja tapi melahirkan ketaatan bukan karena
terpaksa atau takut hukuman tetapi karena mengetahui kita dicintai Allah.
Allah
memanggil Abraham untuk pergi ke negeri yang akan ditunjukkan Tuhan. Hanya
memerintahkan “pergilah ke sebuah kota”, bayangkan kalau terjadi saat ini pasti
akan sangat tidak logis. Banyak pertimbangan yang perlu dipertimbangkan,
seperti pekerjaan kita akan bagaimana, sekolah anak seperti apa dan tempat tinggal
dan banyak hal lainnya.
Pada
waktu itu Allah memerintahkan Abraham untuk pergi saja dahulu nanti akan
ditunjukkan dan Abraham mengenal Tuhannya dengan sangat baik sehingga ia
mengikuti perintahNya, jalan tanpa banyak bertanya. Ini Iman yang menurut saya
sulit untuk dipahami kalau kita tidak mengenal Tuhan kita dengan sangat baik.
Bahkan
terkadang ataupun seringnya pengetahuan, pengalaman dan ilmu serta lingkungan
maupun budaya yang kita ketahui, kita
percaya dan kita anut membuat kita
bimbang dan mempertanyakan setiap hal. Memang dalam hal ini tidak salah juga
sebenarnya karena merupakan hal lumrah mempertanyakan segala sesuatunya untuk
membuktikan bahwa kita mahluk yang berpikir dan layak untuk menguji segala
sesuatunya.
Bahkan
dalam suatu kisah di pertemuan dan percakapan antara Nikodemus seorang Farisi
dengan Tuhan Yesus, banyak hal yang menurut keyakinan Nikodemus pribadi Yesus
tidak cocok dengan kerangka pikirannya pada saat itu. Sehingga Tuhan Yesus
menyampaikan agar diselamatkan seseorang harus dibaptis denhan air dan lahir
baru, karena bagaimana konsep lahir baru itu menurut Nikodemus apakah harus
masuk kembali ke rahim seorang ibu. Sementara maksud dari Tuhan sendiri bukan
seperti ini.
Hal
tersebut terjadi karena Nikodemus menguji pikiran dan pengetahuannya sera
budaya pada saat itu tanpa mengenal pribadi Tuhan Yesus itu seperti apa.
Dalam
hal ini mungkin saja saya, kamu, kalian ataupun kita akan bersikap seperti
Nikodemus karena tidak mengenal pribadi Tuhan Yesus dengan sangat baik. Sehingga
mempertanyakan segala sesuatunya berdasarkan pengetahuan dan ilmu yang
dipahaminya saja, tidak berdasarkan ketaatan dan pengenalan akan Tuhan itu
sendiri.
Tanpa
Allah kita tidak berdaya dengan Allah kita selamat.
Dan pada akhirnya saya diberikan pesan untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai berikut :
- Miliki
Iman meskipun berjalan ditengah ketidakpastian. Memang tidak mudah hidup dalam
ketidakpastian. Jika Abraham beriman ditengah ketidakpastian dan Allah
mengganggap itu sebuah kebenaran (karena Abraham tunduk dan percaya kepada Tuhan).
Maka kitapun harus beriman apapun keadaan kita. Kita harus memiliki iman karena
yakin Tuhan adalah penjaga kita.
2. (Bagian ini saya sediikit lupa) namun kita dituntut dengan imaln yang kita miliki jangan juga kita menjadi sok suci ataupun sok-sok-an lainnya, menjadi sosok seperti Nikodemus seorang farisi yang dengan kepintarannya alih-aloh percaya dengan sosok Tuhan tetapi kemudian malah mempertanyakan dan mengujinya. Pesannya adalah terkadang Kita ahli untuk menjadi hakim bagi orang lain tapi kemudian menjadi pengacara bagi diri sendiri. Menunjuk kesalahan orang lain dan permisif terhadap kesalahan yang kita lakukan.
3. Dan ditutup dengan “Ketaatan sebagai respon karena dicintai” sehingga ketaatan dijalankan dengan hati yang penuh dengan sukacita dan percaya janji Tuhan adalah “Iya dan Amin” jadi teringat sebuah lirik lagu rohani yang mengatakan “JanjiMu seperti Fajar Pagi hari yang tiada pernah terlambat bersinar, CintaMu seperti sungai yang menaglir dan kutahu betapa dalam kasihMU.
Tuhan kita
luar biasa, Allah ku dahsyat di tempat kudusnya
Selamat
hari minggu Tuhan Yesus memberkati kita semuanya







