SoG4iGVrlm2d0xVc7TbcWuGl8F4PkcCzhtCrmamZ

Belajar Untuk Berpikir Yang Benar (Buku: Makanya Mikir)

 

Makanya, Mikir-Panduan Berpikir Untuk Hidup Lebih Bahagia

 

Buku yang berwarna merah marun dengan judul unik "Makanya, Mikir-Panduan Berpikir Untuk Hidup Lebih Bahagia" dari Penulis Abigail Limuaria dan Cania Citta.

 

Secara untuk penulis Cania Citta saya sering mendengar pemikirannya melalui podcast Malaka. Sehingga sedikit banyak jadi penasaran dengan bukunya akan seperti apa. Plus juga beberapa content creator dan media memberikan nilai plus terhadap buku ini, ya sudah secara sudah lama juga ga membaca sebuah buku. Kuys simak pemikiran Cania Citta dan Abigail L, dalam buku ini.

 

Makanya, Mikir-Panduan Berpikir Untuk Hidup Lebih Bahagia

Piramida Maslow membagi kebutuhan manusia dari Kebutuhan Fisiologis, Kebutuhan Akan Rasa Aman, Kebutuhan Sosial, Rasa Dihargai dan (yang paling puncak) Aktualisasi diri. Dalam buku ini mereka modifikasi kebutuhan manusia dari Piramida Maslow  menjadi pohon kehidupan. Bahwa  dari riset seputar kebahagiaan ada faktor yang membentuk kebahagiaan yaitu

1. Memiliki lingkungan dan hubungan sosial yang sehat.

2. Berbuat/ berkarya untuk orang lain.

3. Menyelesaikan masalah.

 

Lalu diuraikan menjadi sebuah Pohon dengan arti sebagai berikut;

1.     Akar,  dianalogikan sebagai kebutuhan dasar seperti nutrisi, air, udara, keamanan, kesehatan fisik dan mental.

2.     Batang, analoginya adalah lingkungan dan sistem sosial yang sehat (faktor penentu-tingkat kejahatan, semakin rendah semakin baik, tingkat korupsi makin sedikit makin baik lalu PDB makin tinggi makin baik dan kebebasan memilih pilihan hidup-makin tinggi makin baik)

3.     Ranting, analoginya adalah hubungan sosial yang sehat dengan keluarga, teman ataupun pasangan.

4.     Buah (ini yang paling puncak), dianalogikan sebagai tujuan-tujuan besar untuk orang lain, seperti karya profesional, aktivisme, kerelawanan, politik dst-kurnag lebih sama dengan aktualisasi diri.

 

Lalu kita diajak untuk belajar tentang tujuan hidup. Disini akan diajarkan mengenai idealis atau realis.

 

Pada halaman 31 dikenalkan dengan strategi deliberate dan emergent. Dimana deliberate itu adalah strategi yang sudah direncanakan dari awal dan dieksekusi sementara emengent itu strategi yang muncul ditengah jalan ketika sedang menjalankan strategi deliberate.

 

Pada halaman 54 dikenalkan dengan realitas yang merupakan situasi dan kondisi yang ada dan otak kita digunakan untuk menentukan respon terhadap realitas.

 

Pandangan, sikap, keputusan  dan kesimpulan yang kita buat akan diserap oleh otan menjadi suatu pengalaman informasi.

 

Ranah Realitas, informasi yang berada diranah realitas dapat bersifat benar atau salah, jika benar maka sesuai dengan realitas tetapi ketika salah maka tidak sesuai dengan realitasnya.

 

Sementara Ranah Preferensi berisi informasi yang bernilai baik atau bagus, buruk atau jelek  berdasarkan suatu acuan yang ditentukan oleh individu atau kelompok.

Yang membedakan ranah realitas dengan ranah preferensi adalah acuan penilaiannya  bukan kesepakatannya.

 

Kerangka berfikir ini kita gunakan untuk mengkategorikan informasi sehingga bisa menentukan bagaimana cara menilai suatu informasi dan mendapatkan penilaian terhadap informasi yang kita terima tadi tetap sesuai dengan ranahnya.

 

Pola pikir ilmiah adalah pendekatan sistematis untuk memahami dan menyelidiki kebenaran tentang realitas yang didasarkan pada metode ilmiah. Dengan pola pikir ini kita mengacu pada pengujian dan pembuktian empiris untuk menemukan kebenaran tentang realitas.

 

Empiris sendiri artinya adalah dapat secara langsung/ dengan bantuan teknologi dideteksi indra manusia. Sehingga fakta yang benar adalah yang didukung dengan bukti-bukti empiris yang kuat.

 

Prinsip Pola Pikir Ilmiah

1.     Skeptisme, meragukan sesuatu klaim sebelum mendapatkan bukti yang cukup untuk menyimpulkan kebenaran.

2.     Terbuka untuk salah dan koreksi, menerima apabila pemikiran atau kesimpulan kita dibuktikan salah.

3.     Objektivitas, melihat realitas dengan apa adanya atau as is bukan mengikuti kemauan, preferensi, perasaan atau sentimen pribadi kita.

4.     Berbasis Bukti, menerima suatu klaim jika ada bukti-bukti yang mendukungnya.

 

Ketika kita ga takut dibuktikan salah dan tidak anti terhadap perubahan, maka disitulah kita bisa belajar.

Karena yang terpenting adalah mengetahui hal-hal yang benar, bukannya jadi si paling benar, bukan sok tahu tetapi mencari tahu.

 

Ada buah pikir dari Adam Grant yang dikutip, “Berpegang kuat pada sebuah pendapat dihadapan bukti yang lemah adalah tanda bahwa kamu tidak berpikir kritis.”

 

Keyakinan harus mengikuti fakta, bukan mendahuluinya. Apa yang ingin kamu percayai seharusnya tidak mendikte apa yang kamu percayai.

 

Kunci belajar seumur hidup adalah menghargai rasa ingin tahu daripada yakin. Halaman 94.

Pada bab 5, kita dikenalkan dengan CBA Cost Benefit Analysis (Analisa Untung Rugi), Value, Probabilty dan diajarkan rumusan serta cara menghitungnya. Bagian ini teknis banget sehingga ga cukup hanya membaca tapi perlu juga dipraktekkannya.

Lanjut ke bab berikutnya.  Jika kamu tidak menyukai sesuatu, ubahlah. Jika tidak bisa mengubahnya, ubah sikapmu terhadap itu. Maya Angelou.

 

Di bab enam kita diajarkan mengenai sesat pikir dan bias dalam pengambilan keputusan. Berikut jenis-jenis bias yaitu:

1.     Survivorship Bias, kondisi dimana kita menarik kesimpulan bahwa sesuatu tidak terjadi karena ada sampel yang tidak mengalami hal itu alias ada survivornya yang tidak kena kejadiannyan.

2.     Ostricth Bias, diambil dari kebiasaan burung unta yang memasukkan kepalanya ke pasir. Orang mengira burung unta sedang menghindari panasnya matahari/ padang gurun. Padahal ia melakukan itu untuk menjaga telurnya yang berada dibawah pasir. Ostrich Bias adalah bias kognitif dimana otak cenderung menghindari informasi yang bersifat negatif untuk kita, sederhananya adalah denial terhadap fakta yang tidak kita sukai atau tidak sesuai dengan harapan kita.

3.     Hasty generalisation, merujuk kepada bias kognitif berupa mengeneralisir secara grasak-grusuk sehingga cenderung kurang tepat atau bahkan salah total. Generalisir itu menjadikan suatu keadaan atau kenyataan dalam satu kasus sebagai keadaan atau kenyataan yang berlaku untuk semuanya.

4.     Causation Falacy, merujuk kepada kesalahan berfikir yang mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam menentukan penyebab dari sesuatu. Artinya penalaran yang salah itu menyebabkan kita jadi salah dalam memahami penyebab sebenarnya dari satu kejadian sehingga mengarah kepada suatu keputusan yang tidak tepat.

5.     False Dichotomy, kesalahan berfikir yang menganggap hanya ada dua pilihan mutlak yang saling bertentangan satu sama lain. Kalau tidak A maka B.

6.     False Comparison, kesalahan berfikir dalam melakukan perbandingan dan menarik kesimpulan dari perbandingan tersebut.

7.     Sunk Cost Fallacy, bias kognitif yang membuat kita enggan untuk meninggalkan investasi yang telah kita buat meskipun itu tidak lagi menguntungkan atau malah merugikan buat kita.

Untuk menghindari Sunk Cost Fallacy ini kita harus lakukan :

1.     Tetapkan tujuan yang jelas dan terukur.

2.     Evaluasi objektif.

3.     Pertimbangkan kesempatan yang hilang (opportunity cost)

4.     Belajar menerima kegagalan.

At the end, banyak banget ilmu aplikatif yang diberikan oleh Abigail Limuaria dan Cania Citta. Catatan ini hanya sebagian kecil yang mampu saya serap dan coba aplikasi-kan dalam kehidupan.

 

Related Posts
Terbaru Lebih lama
Kornelius Ginting
Orang Baik Rejekinya Juga Baik

Related Posts

Posting Komentar