Pesan Bijak Tentang Bumi Manusia Dari Pramoedya Ananta Toer



"Dan tak ada yang lebih sulit untuk dipahami daripada manusia", Pramoedya Ananta Toer.

Siap-siap untuk menikmati karya besar dari salah satu anak bangsa negeri sendiri. Total halaman 520 Halaman dari terbitan Lentera yang saya sudah selesaikan ini. Sebenarnya karya Om Pram yang sudah saya baca dari Tetraloginya di Pulau Buru adalah Jejak Langkah, tapi belum selesai, kandung bosan dan berhenti di tengah jalan. Jadi memang pas, berawal dari sini, Bumi Manusia, biar ada benang merah untuk masuk buku berikutnya, Anak Semua Bangsa , Jejak Langkah dan Rumah Kaca

Pesan Bijak Tentang Bumi Manusia.
Ini adalah Kisah Minke (baca Mingke). Salah satu guru Minke, Juffrow Magda Peters melarang untuk mempercayai Astrologi. Ia pernah melihat dua orang yang lahir pada tahun, bulan, hari dan jam yang sama bahkan tempatnya pun serupa. Hanya saja nasib tidak pernah sama, yang seorang terlahir sebagai tuan tanah besar sementara lainnya justru menjadi budaknya (Hal.18). Keren kan di halaman awal langsung di geber dengan pesan bermanfaat,

Minke sendiri lebih percaya kepada ilmu pengetahuan dan akal, setidaknya dalam hal ini ada kepastian yang dapat dipegang. 



Cover Depan Buku Bumi Manusia yang telah mengalami Perubahan 

Siapa sih Minke ini? Minke adalah sejatinya anak bangsa tanpa campuran darah Eropa. Sementara pada masanya, yang dihargai itu adalah bangsa Eropa atau turunan berikutnya orang indo yang memiliki campuran darah Eropa. Minke bukan keduanya, tapi orangtuanya memasukkan Minke ke sekolah Eropa, ia termasuk anak yang diatas rata-rata. Ini juga yang membuat anak sebangsanya membenci Minke (karena tidak memiliki kesempatan yang sama) atau anak anak "berdarah campuran" yang memang tidak suka dengan Minke. Meskipun sudah menjadi sahabat Minke, Robert Suurhof, teman satu sekolah di H.B.S. 

Semua berawal dari kunjungan Minke dan Suurhof ke sebuah perusahaan pertanian,  Suurhof, saya menyebutnya demikian untuk membedakan dengan Robert lainnya.

Tujuan Suurhof dan Minke adalah ke kediaman Herman Mellema, orang Belanda terkaya di daerah itu dengan Nyai Ontosoroh, gundiknya yang terkenal dan mengurus semua kekayaan Tuan Mellema. Robert Mellema dan Annelies Mellema adalah anak dari Tuan Mellema. Dan inilah pusat keseluruhan cerita Bumi Manusia.

Ada ikatan terjalin antara Minke dengan Annelies, bahkan ini yang membuat Minke berkonsultasi dengan sahabatnya, khawatir ia terkena guna-guna. Pesan Jean kepadanya , "Minke, seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan (Halaman 77)." 

Minke sendiri terhera-heran karena Nyai Ontosoroh memiliki kemampuan diatas rata rata seorang Nyai. Ia menanyakan lulusan apa Nyai sebelumnya? Nyai sendiri menjawab bijak, "Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima (halaman 105)." Lihat, bahkan setiap zaman akan memberikan lulusan terbaiknya meskipun bukan dari lulusan sebuah sekolah, 

Dalam sebuah adegan Minke  pernah dianggap bukan orang jawa lagi oleh bundanya, sebab menurut sang bunda "orang Jawa sujud berbakti kepada yang lebih tua, lebih berkuasa, satu jalan pada penghujung keluhuran." Hal 193. Orang harus berani mengalah, demikian pesan sang bunda. Sementara Minke dengan peradabannya sendiri, lingkungan sosial, sekolahnya membentuk ia sebagai pribadi yang lain.

Di Bumi Manusia dibahas juga Max Havelaar dengan karyanya Lelangan Kopi, Hmmm kayaknya harus baca juga nich.  Nah Max ini ditengerai sebagai kelompok Liberalnya Belanda pada masa itu yang mengatakan Belanda memiliki hutang budi pada Hindia Belanda. Sama seperti gurunya Minke Juffrouw Magda Peters, yang menjadi panutan Minke tapi di benci juga sama wong londo lain. 

Adalagi di bagian lainnya, Pram melalui Minke mengenalkan kisah Babad Tanah Jawi, mungkin wong londo baca semua buku dan kisah, tapi apakah mereka tahu dan baca buku itu juga. Hmmm, menarik kan. Demi melihat kemajuan dan kemampuan serta pengetahuannya orang-orang Eropa pada saat itu, faktanya tidak semua hal mereka tahu dan ada bagian yang hanya bangsa kita saja yang tahu.

Bumi Manusia di cetak dalam bahasa lain

Hal diatas terjadi ketika Minke berdebat dengan salah satu anak kolega bapaknya yang merupakan orang Belanda asli dan lulusan H.B.S juga (Seniornya Minke). Minke sendiri dikenalkan dengan teori asosiasi, mengapa tidak dari dulu atau awal golongan terpelajar Eropa bekerja bersama golongan terpelajar pribumi. Yang pada intinya nanti jika berhasil tidak akan ada perlawanan atas kekecewaan dari pribumi yang merasa sebagai pihak kalah atau terjajah. Padahal ide ini datang dari gurunya Minke toch tetap tidak ada yang memperhatikan. Jadi kayak semacam jajahannya Negara Inggris, membuat negara persemakmuran gitu.

Karena pada saat dialog itu terjadi pribumi sendiri keberatan berbagi tanggung jawab dengan bangsa Eropa. 

Membaca karya Om Pram, selain belajar tentang sejarah, juga belajar tentang bahasa. Seperti dari salah satu sahabatnya, Jean Marais cara bacanya itu Syang Mare. Atau adalagi Mevrouw sebutan untuk nyonya bahasa belanda, Juffrouw untuk Nona. Boerderij Buitenzorg perusahaan pertanian.

Dan dari Buku Bumi Manusia, saya juga jadi tahu, panggilan engko ke orang Tiongkok itu bukan dari asal kata Koko (kakak/abang) tapi dari en compagnie artinya dan sekutu. Atau Mr. yang merupakan  singkatan dari Meester in de Rechten (belanda) gelar kecil sarjana hukum.



***
Kekuatan sakit hati dan kekecewaan membuat Nyai Ontosoroh (mamanya Annelies) bangkit dan berjuang, "aku telah bersumpah dalam hati, takkan melihat orang tua dan rumahnya lagi." Mereka telah membuat aku jadi nyai, maka harus jadi nyai, jadi budak belian, nyai yang sebaik-baiknya. "Aku telah mendendam orangtuaku sendiri, akan kubuktikan kepada mereka, apapun yang telah diperbuat atas diriku aku harus bisa lebih berharga daripada mereka, sekalipun hanya sebagai nyai." Halaman 128. Jadi ingat kisah Yusuf yang dijual saudaranya trus berhasil di tanah buangan sana.

Bahkan dokter pribadi keluarga Mellema berujar tentang Nyai Ontosoroh, seorang wanita luar biasa, setiap katanya sopan dan beradab, berisi, dilatarbelakangi kekerasan hati dan hati seorang pendendam yang igah berbagi. Dan memang bukan secara sadar dia telah menjadi demikian, ada satu atau banyak pengalaman yang jadi penggerak. 

Hati Nyonya Ontosoroh sangat keras, berpikiran tajam tetapi dari itu semua sukses dalam segala usahanya yang membuat dia jadi seorang pribadi yang kuat dan berani. 

Tetapi dia pun (Nyai Ontosoroh) sebuah kegagalan besar dalam satu hal tertentu. Harus dimengerti, setiap otodidak punya kegagalan yang mencolok. Halaman 304.

Ada kisah lainnya ketika Minke, memiliki sahabat Belanda, yang awalnya berbeda pendapat, jauh dihati mereka ada kekaguman atas sosok Minke.  Dari sini Minke sadar dan belajar kodrat manusia kini dan nanti ditentukan oleh penguasaan atas ilmu pengetahuan. Semua, baik pribadi maupun bangsa-bangsa akan tumbang tanpa itu. Dan melawan pada  yang berilmu dan berpengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan penghinaan. Halaman 286.

Ini yang memacu Minke untuk terus belajar, bahkan ditengah kesakitan ia memacu fisiknya. Mengejar ketertinggalannya. Teringat pesan seorang sahabat, kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil. Dan berhasillah kau, anggap semua pelajaran mudah dan semua akan menjadi mudah. Jangan takut pada pelajaran apapun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua. Halaman 310.

Dari sahabat Minke lainnya yang wong londo, Miriam yang bercita-cita menjadi tweede kamer, semacam majelis. Hmmm, mungkin ini asal kata kamar tuada (ketua muda) yang digunakan dalam silsilah untuk hakim agung yang mengurusi bidang tertentu.

Penghargaan Atas Bumi Manusia 

Dari gurunya Magda Peters, Mingke lebih menghargai sastra, "suatu masyarakat paling primitif sekalipun misalnya di jantung Afrika, tak pernah duduk dibangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak mengenal baca tulis  masih dapat mencintai sastra, walau hanya sebatas sastra lisan. Kita boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra kita hanya hewan yang pandai." 

Lukisan adalah sastra dalam warna warni, sementara sastra sendiri adalah lukisan dalam bentuk bahasa. 

Kisah Minke dan Annelies bertambah dekat namun semakin kompleks, dalam sebuah percakapan antara dokter keluarga Mellema dengan Minke, Annelies begitu takut akan kehilangan Minke. Ia menganalogikannya, dengan mengambil pensil dan mematahkannya "patahan pensil masih dapat digunakan, patahan jiwa tidak. Kalau hidup terus akan menjadi beban semua kalaupun mati akan jadi sesalan." Halaman 376. Dan Minke adalah dokternya, ia dapat menyembuhkannya atau bahkan membunuhnya. Bukan keputusan mudah.

Tahu ga, Sapi-sapi Nyai Ontosoroh, mulai dari sapi perah, sapi penuh hingga menjadi sapi dewasa membutuhkan waktu hanya 3 sampai 14 bulan. Sementara manusia membutuhkan waktu belasan, bahkan puluhan tahun untuk menjadi dewasa dalam puncak nilai dan kemampuannya. 

Sementara mantab tidaknya kedewasaan dan nilai tergantung dari besar kecilnya dan banyak sedikitnya ujian, cobaan. Dan Minke dengan keadaanya telah membuat dirinya dewasa terlalu cepat.

Disatu bagian ada ungkapan yang coba om Pram sampaikan melalui Juffrouw Magda Peters, "kehidupan kolonial semua dimana saja, Asia, Afrika, Amerika, Australia. Semua yang tidak Eropa, lebih-lebih tidak kolonial, dinjak, ditertawakan, dihina, hanya untuk berpamer tentang keunggulan Eropa dan keperkasaan kolonial dalam segala hal. Dan ingat, mereka yang merintis ke Hindia ini hanya berpetualang dan orang yang tidak laku di Eropa sana. Di sini mereka berlagak lebih Eropa, sampah itu." Halaman 416.

Puncak cerita adalah ketika Tuan Robert Mellema ditemukan tewas di rumah bordir tetangga Nyai Ontosoroh, rumah baba Ah Tjong. Ini adalah puncak keseluruhan cerita, serupa jika kalian menyaksikan di layar lebar, hanya saja visualisasinya jadi semakin lebih menarik. Kalian harus menyaksikannya sendiri atau memiliki kepingan film originalnya.

Bahkan kericuhan tadi memaksa Minke untuk dikeluarkan dari H.B.S, berkat bantuan Juffrouw Magda kembali akhirnya Minke diterima kembali di H.B.S. 

Pekerjaan pendidikan dan pengajaran tak lain dari usaha kemanusiaan. Kalau seorang murid di luar sekolah telah menjadi pribadi berkemanusiaan seperti Minke sebagaimana dibuktikan melalui tulisan-tulisan terakhirnya, kemanusiaan sebagai faham, sebagai sikap, semestinya kita berterimakasih dan bersyukur. Sekalipun saham kita terlalu amat kecil dalam pembentukan itu. Pribadi luar biasa memang dilahirkan oleh keadaan dan syarat-syarat luar biasa seperti Minke. Pembelaan Magda Peters untuk Minke, mungkin ini juga yang akhirnya membuat Magde dikembalikan ke Belanda (terlalu vokal membela pribumi).

Penutup, sebagai keturunan Jawa, Minke di hadapkan pada budaya yang ia tidak pahami. Setidaknya untuk.menjadi seorang SATRIA, harus memenuhi lima syarat. WISMA, WANITA, TURANGGA, KUKILA dan CURIGA.
Wisma, Rumah, tanpa rumah orang tak mungkin satria. Orang hanya gelandangan. Rumah tempat satria bertolak, tempat dia kembali. Rumah bukan sekedar alamat, rumah tempat kepercayaan sesama pada yang meninggali.
Wanita, tanpa wanita satria menyalahi kodrat lelaki. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran dan kesejahteraan. Wanita bukan sekedar istri untuk suami, wanita  sumbu pada semua, penghidupan dan kehidupan berputar dan berasal.
Turangga, Kuda, adalah alat yang dapat membawa kemana-mana. Ilmu pengetahuan, kemampuan, ketrampilan kebisaan, keahlian dan kemajuan. Tanpa Turangga takkan jauh langkahmu, pendek penglihatanmu.
Kukila, burung, lambang keindahan, kelangenan (hobby) segala hal yang tak punya hubungan dengan penghidupan, hanya berhubungan dengan kepuasan batin pribadi. Tanpa itu orang hanya sebongkah batu tanpa semangat.
Curiga,kerislambang kewaspadaan, kesiagaan, keperwiraan, alat untuk mempertahankan ke empat yang sebelumnya. Tanpa keris yang ke empat tadi akan bubar binasa bila mendapat gangguan.

Bagaimana perjuangan Minke dengan Nyai di persidangan bangsa Belanda dengan hukum yang mereka buat demi kepentingannya dan sesuai kebutuhannya dan rakyatlah kala itu yang harus mematuhinya. Dan Annelies yang sudah menjadi Nyonya Minke. Bahkan Ibunda Minke pernah berujar, untuk ukuran kecantikan Annelies, dewa saja rela berkorban untuk bertempur mendapatkannya, ia harus menjaga sebaik-baiknya dan sekuat-kuatnya. 

Terkadang dalam akhir sebuah perjuangan bukan kemenangan yang didapatkannya. Bahkan mungkin sebaliknya. Tapi demi pesan Nyai Ontosoroh saja mafum, Dengan melawan, kita takkan sepenuh kalah


Halaman Terakhir Bumi Manusia 


Tidak ada komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih