Era Keterbukaan Prostitusi

Illustrasi dari pixabaydotcom
Payahnya, ketika informasi masuk baru diterima, alih alih untuk mengelolanya, yang terjadi adalah rasa ingin tahu lebih dalam, jiwa penasaran yang mendadak keluar, kalau tidak merasakan sendiri rasanya kurang pas.

Dunia medsos kembali ramai, kali ini tidak hanya melulu membahas  politik. Mulai dari kontainer yang berisikan surat suara yang sudah di coblos atau award-award-an atas hoaks yang beredar.

Memasuki tahun politik, bangsa ini mengalami berbagai macam kegaduhan. Pun kali ini yang disasar adalah prostitusi on line. 

Acung jempol untuk kinerja polisi yang sudah mampu membongkar prostitusi on line. Tapi dengan maraknya pemberitaan di media setidaknya ada efek lainnya yang terjadi. 

Diantaranya keberatan beberapa kaum perempuan yang menyatakan mengapa nama perempuan tidak disamarkan atau lainnya kenapa nama si pria tidak disebutkan. 

Tapi bukan itu yang menjadi ke khawatiran saya pribadi. Sebab pada dasarnya tidak semua kepala kita berisikan informasi yang sama dan cara mengelola yang sama.

Ada beberapa tipe orang yang saya coba kelompokkan. 
  1. Yang sudah tahu dan mampu mengelola informasi tersebut dengan baik,
  2. Sementara ada lagi yang sudah tahu tapi tidak dapat mengelola informasi dengan baik.
  3. Bagian ini, tidak tahu informasi dan tidak mampu/mau mengelola informasi yang dimiliki.
  4. Tidak tahu informasi dan tidak mampu/mau untuk mengelola infomasi yang dimiliki.
Untuk nomor 1 dan 3 tidak perlu khawatir karena mereka setidaknya sudah mampu untuk mengelola informasi yang dimiliki.

Sementara no 2 dan 4 ini yang menjadi ke khawatiran, karena selain ketidaktahuan informasi, mereka juga tidak cakap falam mengelola informasi.

Payahnya, ketika informasi masuk baru diterima, alih alih untuk mengelolanya, yang terjadi adalah rasa ingin tahu lebih dalam, jiwa penasaran yang mendadak keluar, kalau tidak merasakan sendiri rasanya kurang pas. 

Bahkan jauh sebelum ramainya prostitusi on line, dulu ada prostitusi off line bahkan dibuatkan area khusus untuk itu (lokalisasi) sehingga ada sebuah tempat yang dijadikan one stop shoping untuk urusan seperti itu. 

Tapi berlindung dibalik kata-kata ketidakpantasan, melanggar norma yang kita semua sepakat dan sepaham mengenai itu, ditutuplah semua kawasan lokalisasi tersebut. 

Ditutupnya kawasan, tidak berarti kegiatan tersebut berhenti total. Memang tidak berhenti total, karena akan selalu ada hukum penawaran yang berlangsung. Hanya saja akses terbuka untuk melakukan itu ditutup total. 

Sehingga orang yang tidak tahu, tidak juga mencari tahu, atau orang yang butuh  akan melakukan upaya ekstra mendapatkan informasinya. 

Jeng-jeng, maksud media menceritakan kehebatan aparat terkait membongkar prostistusi online, sebagian lagi malah meng-amin-kan berarti masih ada kan transaksinya. 

Padahal memang transaksi seperti itu sejatinya akan selalu ada (kira kira bisa ga ya di tiadakan). Hanya saja akses semakin dibatasi yang seolah-olah tidak terlihat, kayak efek ice berg (gunung es) aja, diatas kecil dibagian bawahnya, ampun-ampunan dah.

Nah kembali lagi si era keterbukaan informasi prostitusi, tidak sulit mendapatkan informasi yang kita mau. Semua tersedia dan terekam jelas didunia maya. Mulai dari yang terselubung hingga yang jelas-jelas keterbukaannya. 

Ditambah ramai peran kita membicarakannya, akan semakin membuat yang tahu menjadi semakin tahu, yang tidak tahu menjadi tahu.

Saya lupa siapa penulisnya tapi ada sebuah ungkapan, tidak baik memiliki atau mengetahui semua informasi yang sejatinya tidak kita perlukan. 

Salam opini semangat senin pagi.





Tidak ada komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih