Minggu ini tidak mencatat ayat yang disampaikan
hanya khotbah pendeta saja. Pdt. Enos Bayu yang membawakan firman Tuhan, ia
memulai dengan sharing pengalaman dari menyaksikan film The Odesy, pada intinya filim ini mengajarkan
sebuah paradoks kelam, kemenangan yang menyisakan rasa bersalah, kehilangan dan
ketakutan. Apalah arti kemenangan tersebut yang telah diraih.
Tahu kah kita bahwa identitas yang
bersandar pada prestasi pencapaian dan jabatan akan habis pada akhirnya dan yang
tersisa hanya iman dan karakter.
Kegelapan
bukan hanya ketiadaan cahaya, melainkan ketiadaan damai sejahtera.
Pun
demikian Yakub (masih ingat kisahnya kan), ia kaya dan mapan tetapi tanpa damai
akibat kelicikan masa lalu yang pernah ia buat.
Saat
pencapaian tak dapat melindungi diri dari bayang-bayangmasa lalu. Yakub harus bergumul sendirian didalam
sepi, tanpa harta, tanpa pengawal hanya tersisa dirinya yang rentan. Ini
terjadi ketika ia memutuskan untuk menyebrangkan keluarganya melewati sebuah sungai sementara ia sendiri memutuskan
berangkat belakangan.
Pertemuan dengan Allah mengubah
identitas Yakub menjadi Israel, namun berkat itu datang bersama luka permanen (yang
meningglkan dan membuat ia berjalan pincang).
Pesan minggu ini Adalah “lepaskan topeng
kemunafikan, iman memampukan kita untuk berani jujur akan kerapuhan kita. Dalam
pertobatan yang jujur ada damai sejahtera abadi.”
Ruang
gelap, duka dan kecewa.
Bahkan
Paulus sendiri mengalami dukacita dan
kesedihan karena bangsanya sendiri menolak kristus.
Dukacita
bukan tanda iman yang lemah. IMAN
YANG MENYALA MENGHASILAN CINTA YANG TULUS.
Masih ingat kisah mukzizat lima roti dan
dua ikan, disini terdapat realitas pahit rakyat jelata yang terjebak dalam
krisis..Cerita ini merupakan konsep “kecil berdampak besar” sepetti kotbah
minggu lalu. Pada zaman Yesus, tinggi sekali tingkat kemiskinan yang terjadi
akibat Penjajahan Romawi pada saat itu.
Mukzizat lima roti dan dua ikan
merupakan MBG sejati abad pertama, dengan modal seadanya, standar gizi minimum
untuk masyarakat bawah.
Anatomi Pemecahan Roti.
Partisipasi-kehadiram Yesus tidak hanya
mengubah roti menjadi banyak namun juga mengubahkan hati yang egois. Bekal
bakul yang tadinya disembunuikan pada akhinya dikeluarkan untuk dibagikan
Kasih karunia, roti yang dipecah menjadi simbol awal
perjamuan Tuhan. Kebutuhan fisik dan kasih Allah yang menyelamatkan terpenuhi
bersamaan.
Manajemen asset- sisa12 bakul tidak difoya-foyakan dan
sisa makanan diaudit dan dikelola rapi melalui swadaya bersama.
Kepedulian sekecil apapun jika
diserahkan ke dalam tangan Tuhan,
akan memicu perubahan besar.
Ditengah kegelapan krisis sosial dan
ketimpangan kita dipanggil mengambil bagian.
SETIAP
KITA MEMILIKI LIMA ROTI DAN DUA IKAN DALAM BENTUK YANG BERBEDA.
Kegelapan bukanlah ketiadaan kehidupan
melainkan sebuah inkubator.
Rahim
yang gelap- melahirkan kehidupan baru
Tanah
yang gelap-menghasilkan tunas bertumbuh
Kubur
yang gelap- menghasilkan kebangkitan Yesus
Kristus
ada didalam stiap kegelapan, jangan mengira bahwa kegelapan berarti akhir dari
segalanya.
Pada
akhirnya Pdt. Enos Bayu menutup manis dengan kalimat ini
JIKA
SAAT INI HIDUP KITA TERASA KELAM, PERCAYALAH IA (YESUS) SUDAH LEBIH DAHULU ADA
DISANA.









