Menikmati Karya Pram Di Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer.

Tampilan Bukunya Pramoedya Ananta Toer 

Sebenarnya saya sendiri belum begitu banyak membaca karya Pramoedya Ananta Toer. Selain karya beliau agak berat (menurut saya). Namun mau ga mau suka atau tidak demi menambah wawasan saya dan mengenal akan Pram itu sendiri dalam bentuk tulisan saya harus tau dan mengikuti karya dia. Dan ini adalah salah satu catatan beliau di Pulau Buru. 


Dijelaskan sedikit di bagian prolog, kesadaran dari penerbitan buku ini sendiri tidak terlepas dari masih sedikitnya catatan sejarah mengenai perbudakan seks bala tentara Jepang. Meskipun ironisnya hingga saat ini Jepang sendiri menolak untuk bertanggung jawab secara hukum perihal kejadian tersebut. Jepang berlindung di balik alasan bahwa para korban adalah jugun ianfu (perempuan penghibur) yang memang bekerja secara sukarela bukan sebagai budak seks. 

Jepang menganggap persoalan sudah selesai melalui perjanjin damai dan telah menebus kesalah itu dengan mendirikan Asian Women Fund pada tahun 1996. Lembaga swadaya masyarakat yang dibangun bertujuan untuk mengumpulkan dana masyarakat guna membayar kompensasi para perempuan korban perbudakan seksual bala tentara Jepang (Kompas 13 Des 2000 halaman 25). Dan catatan diatas belum masuk kebagian isi dari buku ini, masih di bagian prolog. Udah berasa beratnya belum?

ilustrasi dari pixabay(.)com


Perawan ramaja dalam cengkraman militer.
Pram membuka manis dengan sebuah tulisan "tentu, bagaimanapun  baik yang telah kalian peroleh dari kehidupan ini masih ada saja yang kalian rasa kurang. Yang berada dalam kekurangan ingin terbebas dalam kekurangan itu, ingin mendapatkan kemakmuran yang melimpah. Yang telah berada dalam kecukupan ingin lebih cukup lagi. Dari perasaan kurang itu, dari keinginan mendapatkan yang lebih baik itu, timbulah impian. Dan impian itu bisa menjadi padat, menjadi cita-cita. Dan cita-cita itu menjadi pola yang menjadi dasar dan petunjuk dari perbuatan."

Mengambil latar belakang kehidupan pada tahun pendudukan bangsa Jepang di Indonesia. Kehidupan saat itu amat sulit, jangankan untuk makan 3 kali sehari sepiring saja sulit sekali. Kalau kalian pingsan karena kurang makan yang menyebabkan lemas, jangan harap dibangunkan dengan cara yang ramah, digampar di tendang atau cara kasar lainnya yang murah untuk menyadarkan kalau orang itu belum mati. Serem ya jaman penjajahan Jepang, bersyukur banget kita saat ini sudah merdeka. 

Bahkan Pram sendiri sempat tertarik untuk menimba ilmu di Jepang, hingga Jepang tiba sendiri di tanah air dan pupus niat untuk menimba ilmu di negeri Sakura tersebut. 

Sementara menurut Soeryono Hadi, anggota pimpinan  LKBN  Antara perwakilan Surabaya, pada tahun 1943 Dai Nippon menyerukan kepada setiap anak gadis didaftarkan untuk di sekolahkan. Dan disinilah cerita bermula dan sampai sekarang ada belum selesai dan bahkan ada yang tidak pernah kembali.

Beranjak ke bab-bab berikut Pram mencoba menampilkan data (karena ia bekas jurnalis) beberapa perawan yang diambil paksa oleh Jepang, memang ada beberapa yang kembali tapi sebagian besar tidak diketahui rimbanya.

Kalau baca di bab awal, aroma kebencian kepada Jepang serasa ditularkan. Kejam sekali perlakuan mereka, mulai dari memanipulasi perawan dengan mengiming-imingi sekolah dan sengaja menghilangkan jejak agar terbebas dari tuduhan melakukan kejahatan perang. 

Dibab 4, Pram mencoba menarik kesimpulan para wanita yang tertawan Jepang.
  1. Perawan itu dilepas tanpa tanggung jawab, tanpa pesangon, tanpa fasilitas dan tanpa terimakasih dari pihal tentara Jepang, Dai Nippon sebagai tindakn cuci tangan terhadap kejahatan merrka sendiri.
  2. Para Perawan itu dilepaskan  dan diserahkan kepada naluri hidup masing-masing.
  3. Mereka tidak mendapatkan pelayanan dan perlindungan hukum dari Pemerintah RI.
  4. Dan mereka tidak mendapat perhatian dari keluarganya sendiri.
  5. Sebagai akibatnya sampai tahun 1979 atau 35 tahun kemudian mereka menjadi buangan yang dilupakan.
Tapi untuk ke lima kesimpulan diatas, sebelumnya Pram menguraikan secara jelas dan lugas mengapa bisa terjadi demikian. 

Cerita berlanjut bukan hanya perawan yang dibawa keluar negri saja yang diceritakan. Ada juga perawan yang dibawa ke pulau Buru.  Dan mereka bertahan hidup puluhan tahun berbaur bersama suku pedalaman. 

Jadi penasaran dengan Pulau Buru itu seperti apa ya? Selain sering dijadikan buangan para Tahanan Politik Jepang juga membangun benteng mereka di pulau ini.

Dari buku ini juga saya jadi tau, kata parlente itu mempunyai arti makna yang berbeda di pulau Buru, parlente yang sering kita gunakan sehari -hari itu adalah orang yang berpakaian bagus dan rapi sementara di pulau Buru Parlente  berarti dusta, omong kosong dan bisa juga bohong.

Dari halaman 117, saya jadi tahu, ketika kita dalam keadaan tertawan, menderita dan disakiti, setidaknya akan muncul 3 sikap yang dapat dijadikan pilihan hidup,  menyerah tanpa syarat, melawan atau membiarkan diri sendiri hancur. Beberapa ada yang melawan seperti kisah Mulyati dan kebanyakan menyerah tanpa syarat dan membiarkan dirinya hancur.

So menarik untuk disimak hingga selesai, ayo baca karya anak bangsa. Masa karya Pa Pramoeday yang udah dibaca pihak luar, kita sebagai bangsa-nya minimal tahu dan menghargai karya beliau. 







Tidak ada komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih