Minggu, 16 Juli 2017

Motivasi Menulis dari Mas Sidik Nugroho (Resensi Buku Menulis Untuk Kegembiraan)




Saat ini ruang untuk menulis dan menuangkan ide sudah banyak. Nyatanya masih banyak kita menulis hal-hal yang kurang bermanfaat setidaknya bermanfaat untuk diri sendiri dahulu baru orang lain. Alih-alih bermanfaat untuk orang lain yang terjadi lebih banyak tulisan yang hanya membuat kepala orang lain berkerut


Pdf yang saya dapatkan langsung dari penulisnya, kembali mengingatkan saya akan essensi menulis itu sendiri. Iya, di laman facebook beliau, ia membagikan dengan sukarela dan gratis pulak tautan yang siap untuk didonlot.

Langsung saja, mas sidik dihalaman awal ia  geber dengan kalimat ciamik, MENULIS agar sukses? Menulis agar kaya? Tampaknya  itu sudah dibahas dalam buku-buku lain. Buku ini hendak menawarkan pandangan berbeda: anda bisa bergembira dengan menulis. Kegembiraan itu muncul ketika anda bisa menuangkan isi pikiran anda lewat tulisan, bahkan sebelum ada pembacanya. Halaman 6.

Masih dihalaman sama, mas Sidik mengutip Stephen King, penulis yang ia suka dan nantinya akan banyak dikutip pendapat atau tulisannya di buku ini,  Stephen king pernah berkata, buku tentang tulis-menulis semestinya dibuat seringkas mungkin. Semakin panjang, semakin banyak omong kosong di buku itu.

Dihalaman berikutnya Mas Sidik juga mengutip sebuah kata baik, sebuah kisah yang baik hendaknya dulce et utile, artinya, indah dan bermanfaat. Kadang kita kehilangan dan melupakan banyak kisah yang  indah dan bermanfaat bagi kehidupan.

Terlebih saat ini ruang untuk menulis dan menuangkan ide sudah banyak. Nyatanya masih banyak kita menulis hal-hal yang kurang bermanfaat setidaknya bermanfaat untuk diri sendiri dahulu baru orang lain. Alih-alih bermanfaat untuk orang lain yang terjadi lebih banyak tulisan yang hanya membuat kepala orang lain berkerut.

Ini dia Bukunya Mas Sidik 


Diawal halaman tulisannya, mas Sidik banyak memberikan motivasi dan contoh penulis-penulis dunia yang berhasil karena ketekunan. Banyak dari kita sekarang penulis yang menurutnya menulis hanya sebatas mencari eksistensi diri. Ini juga yang menyebabkan ketika menemui kendala enggan untuk beranjak memperbaiki kualitas diri. Mas Sidik tidak hanya membagikan tips untuk berhasil dalam dunia penulis saja, ketekunan jelas-jelas membuat beberapa sosok menjadi berhasil seperti sekarang ini.


Seorang ahli syaraf, Richard Restaak, M.D., menyatakan dalam bukunya Smart and Smarter bahwa jika kita teratur berlatih dan kemudian dapat memainkan sebuah lagu dengan piano atau mengayunkan golf dengan benar, maka kemampuan kita akan bertambah. Bukan hanya dalam hal piano atau golf, tapi hal ini berlaku dalam hal-hal lain.

Masih di bab yang sama mas Sidik menutup dari kutipan Sori Siregar, dalam cerpennya berjudul Saran Seorang Pengarang memberi saran yang sangat baik agar aktivitas menulis dilakukan dengan sepenuh kegembiraan: “Jadikanlah mengarang itu seperti berolahraga. Berolahraga untuk sehat bukan untuk menjadi juara PON, SEA Games, Asian Games atau Olimpiade. Artinya, selagi masih kreatif menulislah terus. Selagi sehat teruslah berolahraga.”

Lepas dari motivasi menulis, mas Sidik melipir sebentar untuk sedikit bicara dan mengaitkan tulisan dengan seni.

Abraham Maslow pernah berkata: “Musisi harus menciptakan musik. Pelukis harus menggoreskan lukisannya. Penyair harus menulis sajaknya. Mereka harus melakukannya agar mencapai puncak kedamaian dalam diri mereka sendiri. Seseorang harus menjadi apa yang mereka bisa jadi.” Itulah “sesuatu” itu. Betapa menggembirakan jika seseorang membuat karya karena memang terpanggil sebagai kreator. Dan segala kreativitas itu bukan semata- mata dibuat untuk alasan-alasan ekonomis.

Orang yang menjadikan aktivitas menulis sebagai seni cenderung menetapkan standar yang tinggi dalam berkarya. Inilah yang kadang diabaikan, ketika makin banyak orang berlomba-lomba membuat tulisan hanya untuk dipublikasikan atau mengejar keuntungan finansial semata.

Untuk beberapa kutipan dan tulisan dari mas Sidik saya merasa tertampar salah satunya adalah ini, dalam mengembangkan bakat seni, seseorang perlu menguasai dasar-dasarnya. Seorang yang baru belajar melukis tak bisa menyemprotkan cat ke sana kemari di atas kanvas secara serampangan, lalu mengklaim bahwa semprotan itu adalah karya agung yang monumental.

Benda dan karya seni bukan hasil kengawuran, bukan juga keberuntungan atau kebetulan yang tiba-tiba jatuh dari langit; tapi “anak” yang lahir dari perkawinan antara pembelajaran dan eksperimen yang intens.

Atau dibagian lainnya, Bila seseorang merencanakan menulis sebagai sarana meraih penghasilan, maka seseorang perlu mencari berbagai kemungkinan dan mengenali tren yang membuat tulisannya laku dijual. Bila seseorang menulis hanya untuk kesenangan dan aktualisasi diri, tak perlulah mencoba-coba menjual tulisannya, cukup mendokumentasikannya saja. Baik sebagai kegiatan publikasi atau dokumentasi, menulis tetap bisa menjadi hobi yang mengasyikkan dalam kehidupan seseorang.

Setelah puas dengan dasar dasar menulis, mas Sidik berbagi pengalaman dalam menyunting dan menerbitkan tulisan. Mengutip sebuah film yaitu Finding Forrester “You must write your first draft with your heart. You rewrite with your head. The first key to writing is... to write, not to think!”   




Salah satu pengalaman beliau sendiri dalam berinteraksi dengan penulis pemula,  Saya pernah didatangi beberapa penulis yang mengaku baru saja menyelesaikan cerpen atau karya tulis lainnya. Mereka minta tolong agar semua hal yang bagi saya adalah suatu kesalahan penulisan, diperbaiki. Saya bertanya apakah mereka sendiri sudah membaca ulang karya mereka, mereka jawab tidak. Saya anggap inilah kesalahan yang fatal di kalangan penulis pemula, halaman 49.

Sekelas mas Sidik aja pernah melakukan kesalahan dalam penulisan seperti “Ia sudah tak peduli pada badannya yang basah kuyup, berlarian di malam hari tanpa alas kaki.” Kelihatannya kalimat itu benar, bukan? Tapi, editor yang jeli menemukan kesalahan di situ, menyempurnakannya demikian:"Ia tak peduli badannya basah kuyup, berlarian malam hari tanpa alas kaki.” Ada beberapa kata yang dihilangkan, membuat kalimat menjadi lebih lugas dan ringkas. 

Alissa King: “You can write something incredibly good but the fact is, it can still be better. Go back with fresh eyes.

Persoalan utama dalam dunia penerbitan yaitu penulis ingin mendapat pengakuan lewat karyanya yang ditulis dan diterbitkan, sementara penerbit tidak mau merugi dengan menerbitkan karya-karya yang tidak laku dijual. Tidak sedikit orang yang ingin menjadi penulis, maka penerbit konvensional pun makin selektif menerbitkan naskah.


Mas Sidik sendiri kerap berpindah-pindah lokasi setamat SMP tahun 1995, ia pindah ke Semarang. Pada tahun 1996 dan 1997 sempat kembali ke Singkawang beberapa kali. Kemudian kuliah di Malang, lalu bekerja di Sidoarjo. 

Banyak buku selesai dibaca mas Sidik dengan ragam genre dan punt tak luput musik, sebut saja Dreamtheatre dengan gitarisnya John Petruci. Untuk ukuran penulis yang mengenal dan mengerti aliran musik sekelas Dreamtheatre saya acungkan jempol Top dech.


Mau tau lebih jelas isi bukunya mas Sidik googling aja atau meluncur ke halaman facebook beliau, belum dapat  juga atau enggan mencari karena keterbatasan quota. Tulis alamat email kalian dibawah nanti saya akan kirimkan versi PDFnya ... Gratis... karena saya juga dapatnya dari beliau ...........Gratis :) 

2 komentar:

  1. Wah boleh ini, aku jadi pengen baca, untuk bisa membangkitkan kembali motivasi menulis ya

    BalasHapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih