Senin, 23 Januari 2017

Bukan Pasar Malam-nya Pramoedya Ananta Toer



Diawali hanya kesalahpahaman dalam berkirim kabar dengan sang ayah yang berujung ke penyesalan seumur hidup (hati-hati kalau berkomunikasi dengan orangtua), berlanjut hingga menjadi kisah 103 halaman.
 
Ok. Saatnya beranjak membaca buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin ini salah satu resolusi saya di tahun 2017 mulai berkenalan dengan Pramoedya Ananta Toer.

Secara sebelumnya sudah mulai akrab dengan renyahnya karya Tereliye, mulai berani dikit-dikit baca yang sedikit berat dan bermakna dalam (kata sebagian orang ya)


Sekilas tentang buku Bukan Pasar Malam.
Ini buku junlah halamannya hanya 110 halaman saja. Tapi saya butuh sekitar 2 sampai 3 hari menyelesaikannya. Mungkin masih butuh waktu untuk membaca cepat karyanya pak Pramoedya Ananta Toer.

Secara buku ini adalah sumbangan Indonesia untuk dunia loh. Jadi masih berhati-hati membacanya. Entah nanti kalau sudah buku ke dua atau ke tiga.

Pengalaman yang didapat setekah baca buku ini berasa berada di masa perjuangan setelah kemerdekaan dulu (suasana stasiunklender ada diceritakan).


Memang intinya sederhana hanya kisah bapak yaang sakit dibesuk oleh anak yang sudah lama tidak kembali.

Ditengahi kepercayaan masyarakat pada saat itu juga yang masih percaya dukun dan pengobatan mistik. Tapi tetap saja penyakitnya tidak kunjung sembuh. 

Singkat cerita, perjuangan setelah kemerdekaan menciptakan orang-orang baru dengan  kepentingan masing-masing atau pun golongannya (kayaknya yang ini sampai sekarang masih banyak). Keseragaman tujuan untuk merdeka awalnya berubah kemudian ketika kemerdekaan itu tercapai. 

Mereka yang dulu jadi Jenderal di daerah gerilya, mereka yang tadinya menduduki kedudukan penting sebelum Belanda menyerbu dan kala kemerdekaan tercapai, mereka itu sama berebutan gedung dan kursi (halaman 102).

Penghargaan dari dunia luar untuk buku Bukan Pasar Malam


Lalu sempat juga bertanya judulnya Bukan Pasar Malam kenapa ya?

Hmm, Pak Pramoedya sedikit beranalogi  atau berfilosofi, manusia lahir sendiri dan mati sendiri. Tetapi harus hidup dengan kumpulannya. Kenapa manusia tidak lahir beramai-ramai dan mati beramai-ramai pula seperti keadaan pada pasar malam pada umumnya (mungkin ini asal muasal kenapa judulnya bukan pasar malam.).

Diawali hanya kesalahpahaman dalam berkirim kabar dengan sang ayah yang berujung ke penyesalan seumur hidup (hati-hati kalau berkomunikasi dengan orangtua), berlanjut hingga menjadi kisah 103 halaman.

Meskipun butuh waktu 3 hari menyelesaikan buku ini. Hanya butuh waktu 45 menit menyimpulkan isi dan maksud pak Pram.
Pujian untuk Novel Bukan Pasar Malam


Beberapa pesan yang coba beliau  sampaikan dalam novel romannya adalah : 

  • Hidup ini tak ada harganya sama sekali. Tunggulah saatnya dan kelak engkau akan berfikir bahwa sia-sia saja Tuhan menciptakan manusia didunia ini. Hal. 48. 
  • Dunia ini memang aneh, kalau suatu keluarga itu bisa timbul mengatasi keluarga-keluarga yang lain, orang menjadi dengki. Ada saja mereka punya bahan untuk memaki dan menghina-hinakan dibelakang layar. Tapi bila ada sebuah keluarga yang runtuh, ramai-ramai orang menyoraki  dan turut meruntuhkannya. Hal.61

Kalau dunia saja sudah pada membaca dan memberikan penghargaannya, masa anak bangsa sendiri tidak membacanya atau setidaknya tahu karya Pak Pramoedya Ananta Toer.

Buku ini juga masih tersedia banyak di toko buku. Kalau di Gramedia Matraman di banderol seharga Rp. 45.000,an

Bukan Pasar Malam yang sudah beberapa kali dicetak ulang

Dan buku yang saya beli ini sudah masuk edisi cetak ke 9 tahun 2015.  Sempat dilarang beredar pada tahun 1965. Padahal isinya biasa aja ngga ada unsur-unsur yang aneh. Mungkin dulu dianggap aneh kali ya.

Selamat membaca.


Hmmm.... Jadi penasaran sama buku tetralogi beliau ketika di tahan. Jadi pengin tahu juga kenapa dulu dia sempat ditahan ya. Apa karena pemikirannya?

Jadi pengen membaca...... ada yang bisa minjemin  :) 





8 komentar:

  1. Wah mas, klo saya mulai kenal pramodya ananta toer sudah sejak sma malah, soalya saya suka sastra
    Sempet dilarang edar thn 65...hmmm agaknya aku twringat peristiwa penying pada tahun tu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah. saya sedikit terlambat kenal dengan karyanya pa Pram sepertinya mba... :)

      Hapus
  2. keren kayaknya karya dari mas pramodya ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang karyanya mas pram keren2.. dan sudah mendunia pada saat ini

      Hapus
  3. Om kan suka baca buku Tere Liye nih, buat pemula ada rekomended gak om? saya baru mau baca novelnya beliau...makasih Om

    BalasHapus
    Balasan
    1. Novelnya tere liye ringan kok mudah untuk dicerna mas.. yg mana aja recomended kok

      Hapus
  4. belum pernah baca buku2 pram, ga berani hehe... cobain ah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya aja baru mulai ... ini yg pertama dan ringan kok

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih