Senin, 27 Agustus 2018

Berkelana Dengan Yang Tertindas (Bukunya George Orwell ; Mereka Yang Tertindas)


Penulis yang bersungguh-sungguh umumnya lebih besar keakuan dan rasa bangga dirinya dibandingkan dengan wartawan kalau mereka tidak terlalu mementingkan uang.

Setiap buku akan menemukan pembacanya sendiri, itu yang saya pahami. Dan beberapa waktu lalu Mba Andi Fira menawarkan buku yang ia miliki dan beruntung saya mendapatkannya. Setidaknya memaksa saya untuk terus mau membaca dan bukunya George Orwell ini baru perdana saya baca dan juga baru tahu sosok beliau.

Sementara itu karya Penulis George Orwell yang lain adalah Animal Farm dan Nineteen Eighty Four. Mereka yang tertindas diberikan pengantar oleh Riris K. Toha Sarumpaet, ia  memberikan penegasan bahwa George adalah seorang esais. Tulisan yang George buat memadukan pengamatan dengan kenangan serta kritik sastra dan kritik sosial.

Setidaknya ada dua jenis penikmat karya George ini, pertama adalah mereka yang berorientasi pada sebuah kepercayaan bahwa membaca sesuatu itu haruslah diikuti atau lebih dulu didasari sesuatu yang dapat menyokong pemahaman, mereka ini menuntut adanya dasar pengetahuan mengenai kesusastraan Inggris agar paham karya George. Sementara yang kedua (yang ini orang-orang kayak saya) orang yang tak mau direpoti dengan segala "peraturan"  dan orang seperti ini bila ia mau dan bila ia merasakan perlu memahami sesuatu, bila ia merindukan jawaban atas sebuah pertanyaan yang ia sendiri pun belum tentu mengerti, maka boleh jadi orang seperti ini akan segers melahap dan menikmati tulisan George Orwell ini. 



Masih dari kacamata Riris, cara bercerita, penekanan bahkan kesimpulan yang dibangun George menunjukkan ketidak setujuan terhadap apa yang dilihatnya, yang nota bene merupakan akibat dari ulah (sengaja atau tidak) kelompok tertentu.

Dalam pengantar yang dibuat Riris tahun 1990 kembali ia mengatakan bahwa George Orwell berdasarkan pengalaman getirnya akibat kemiskinan, peperangan kerisauan akan masa depan manusia yang terancam penbungkaman, kemaharajarelaan kekuasaan yang dituliskan dengan gaya sederhana tetapi menarik, jujur dan cukup menunjukkan alasan. 

Tetapi berbeda dengan yang terjadi di Benua timur, suatu cerita selalu terdengar cukuo jelas dari kejauhan tetapi semakin dekat kita pada tenpat kejadian kabar itu menjadi semakin kabur. Dan kutipan tadi menunjukkan bahwa oranga lain biasanya lebih sah dianggap pakar mengenai kita ketimbang diri kita sendiri.

Hmmm, membaca pengantar dari Riris sarumpaet menantang saya untuk semakin cepat menyelesaikan buku jadul yang ada ditangan saya ini.

Mereka Yang Tertindas.
Bab dua menarik menurut saya, karena  George menjelaskan 4 alasan (dorongan) mengapa menulis.
1. Menulis untuk kepentingan diri sendiri. Keinginan untuk dianggap pintar, dibicarakan orang sesudah mati bahkan ada yang menggunakan menulis sebagai alat untuk balas dendam kepada mereka yang pernah meremehkan ketika masa remaja. Menurutnya penulis yang bersungguh-sungguh umumnya lebih besar keakuan dan rasa bangga dirinya dibandingkan dengan wartawan kalau mereka tidak terlalu mementingkan uang. 

2. Kegairahan Estetika. Kemauan untuk melihat keindahan didunia luar, atau dalam kata-kata dan rangkain tertentu. Juga termasuk didalamnya keinginan untuk berbagi atau penghayatan atas pengalaman yang dioandang seseorang bernilai dan tidak patut dibiarkan berlalu begitu saja. 

3. Dorongan Sejarah. Keinginan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya mencari fakta yangsesungguhnya dan menyimpannya untuk generasi berikutnya.

4. Tujuan Politik. Politik seluas-luasnya keinginan mendorong dunia ke suatu arah tertentu, mengubah pandangan orang lain. Perlu ditekankan *George Orwell menambahkan bahwa tidak ada buku yang benar benar bebas dari prasangka politik.

Menulis buku ialah pekerjaan yang tidak menyenangkan dan melelahkan seperti pergumulan panjang dengan suatu penyakit ganas. Orang jang sekali kali terjun ke dalam industri ini  kalau tidak didorong semacam dorongan setan yang tidak dapat ditolak ataulun dipahami. Namun harus diakui bahwa orang tidak akan pernah menghasilkan tulisan yang menarik dibaca jika ia tidak terus menerus berjuang melenyapkan kepribadiannya. 

Dibab panti derma, saya terhenyak ketika George Orwell menyikap kehidupan disana "mereka (penghuni panti) tak menpunyai bahan percakapan yang patut untuk dijadikan perbincangan, karena kekosongan perut tak memberi tempat bagi renungan yang terkandung didalan jiwa mereka. Dunia sungguh keterlaluan kepada mereka ini, sarapan mereka berikutnya tak pernah pasti dan karena itu mereka tak dapat memikirkan apapun kecuali sarapan berikutnya."

Atau di halaman berikutnya ia berujar "adalah sepotong kekejaman yang tolol mengurung seorang manusia dungu tanpa hal yang dikerjakan."

Baru di bab 4 saya tahu nama aslinya George Orwell itu adalah Eric Blair atau sebaliknya.

Bagian yang sangat drama menurut saya itu ketika masuk di bab 6, menembak gajah dimana George Orwell yang bertugas sebagai polisi mau atau tidak mau, suka atau tidak suka terpaksa harus merobohkan gajah yang mengamuk. Pilihannya ada 2 kalau sempat ia meleset dalam menembak maka ia yang akan diinjak oleh sang gajah dan itu akan jadi bahan tertawaan 2 ribu orang burma dibelakangnya. Padahal jauh di hari nuraninya enggan ia untuk melakukan itu.  


Dalam essai Catatan Nasionalisme, karena saya tidak tertarik dengan politik praktis jadi bab ini tidak menarik dan tidak mudah untuk dicerna sebenarnya. 

Yang menarik berikutnya adalah essai Si Miskin Mati, pengalaman masuk rumah sakit kala itu menjadi sebuah kesan mendalam untuk tidak diulangi kembali. Kalau kita sakit keras dan terlalu miskin untuk dirawat dirumah sakit sendiri, maka mau tidak mau kita harus masuk rumah sakit, dan kita dituntut haruas tahan dengan kekerasan dan keadaan yang tidak menyenangkan  persis sama ketika kita berada dalam ketentaraan (hal. 72). Kondisinya sama seperti RSUD yang melayani BPJS kalau sekarang di negara kita.

Bahkan Orwell menegaskan, apapun posisi hukumnya  jelas bahwa kita memiliki kontrol yang jauh lebih kecil atas perawatan diri kita sendiri, jauh dari eksperimen sembrono yang akan dicobakan kepada diri kita (kalau dirumah sakit). Dan ada sebuah kehebatan tersendiri jika dapat mati di ranjang sendiri atau gugur dalam menjalankan tugas. Sebab betapapun besarnya kebaikan hati dan efesiensi, pada setiap kematian dirumah sakit akan ada suatu bagian khusus yang kejam, jorok sesuatu yang barangkali terlalu kecil untuk diceritakan namun meninggalkan kenangan yang sangat menyakitkan hati yang timbul karena ketergesa-gesaan, ramainya orang dan inpersonalitas dari suatu tempat yang setiap hari orang-orang meninggal diantara mereka yang tidak dikenal (hal. 75) dan saya mengaminkan pengalaman George Orwell ini berdasarkan pengalaman yang saya alami juga ketika kepergian mertua.

Dalam esai selanjutnya, saya dijejali dengan keburukan dan kebaikan perang. Bahwasannya kekejaman itu dipercaya atau tidak hanya berlandaskan kepada pikiran utama politik. Sebab setiap orang percaya kepada kekejaman pihak musuh dan tidak percaya akan kekejaman pihaknya sendiri, tanpa perduli untuk menelaah bukti-buktinya. Anehnya, setiap saat situasi dapat berubah dan dapat sekonyong-konyong berubah dan berbalik dari sebuah kisah kebiadaban yang sepenuhnya terbukti kemarin dapat menjadi sebuah kebohongan yang konyol semata-mata karena percaturan politik telah berubah. 

Saya pikir ketika menikmati Essai mengenai Gandhi bakalan ribet seperti membahas Nasionalisme. Dan tarrraaa rupanya berbeda,  tata tertib yang di pegang gandhi dipegangnya kuat-kuat tetapi ia tidak memaksa untuk pengikutnya melakukan hal serupa, beberapa diantaranya adalah pantang makan daging, dan kalau memungkinkan tidak menjamah makanan yang berasal dari hewan. Tidak meminum alkohol maupun mengisap atau mengunyah tembakau, tidak menggunakan bumbu atau penyedap makanan sekalipun dari jenis tumbuh-tumbuhan karena makanan dimakan bukan demi makanan tetapi untuk menjaga kesehatan badan. Dan kedua, bila mungkin tidak melakukan hubungan kelamin, kalau sekiranya tidak dapat dihindarkan ini hendaknya dilakukan semata-mata untuk tunuan mendapatkan anak dan hendaknya dilakukan jarang-jarang.  Gandhi sendiri di usia 30 tahun menjalankan brahmacharya yang berarti tidak saja sama sekali melakukan hubungan kelamin tetapi benar-benar melenyapkan sehabis-habisnya nafsu birahi. Dan syarat seperti itu akan sulit dipenuhi kalau tidak memakan makanan tertentu dan sering melakukan puasa. 

Esai-esai berikutnya malah terkesan membosankan, tapi tetap ada kata kata menohok dari George seperti ketika ia bicara dalam antisemitisme di Inggris, "pokok persoalannya adalah bahwa peradaban modern kekurangan sesuatu, suatu vitamin psikologis dan sebagai akibatnya adalah kita semua sedikit banyak sakit jiwa karena percaya bahwa seluruh ras atau bangsa secara misterius adalah jahat."

Berat ya baca esainya George Orwell, setidaknya buat saya pribadi senang aja mengetahui sejak dulu sampai nanti di masa depan akan selalu ada orang-orang yang kritis melalui tulisan demi sebuah kebaikan pada massanya. 


Salam membaca :)

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Memang menarik mas...lebih tepatnya berat sich...perlu dipahami dan dibaca berulang2

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih