Jumat, 07 April 2017

Lintang yang kembali Pulang. (Buku : Pulang-nya Leila. S. Chudori)


Lintang hanya mengenal Indonesia  berdasarkan kisah sang ayah, Sebuah tanah yang mengirim aroma cengkih dan kesedihan  sia-sia. Sebuah tanah yang subur oleh begitu banyak tumbuhan, yang melahirkan aneka warna, bentuk dan keimanan. Tetapi malah menghantam warganya hanya karena perbedaan pemikiran.

Masih ingat di beberapa postingan sebelumnya, pastinya saya akan membaca novel selain karya Tere Liye. Dan sesuai janji, pilihan jatuh ke Pulang-nya Leila S Chudori. Kalau ngga salah pertama dengar  nama Leila S Chudori itu  tahun lalu ketika hadir di workshopnya penulis surga yang tak dirindukann Helvi Tiana Rossa nama beliau sempat disebut. 

Nah ketika kemarin ke Gramedia nemu salah satu bukunya. Sebagai informasi aja, Pulang mendapatkan penghargaan sebagai pemenang Khatulistiwa Literary Award tahun 2013.

Penasaran sama isinya. Ini dia PULANG.
***
Jangan berharap mendapatkan isi cerita ketika baru membaca bab awalnya. Harus tuntas baca sampai selesai baru bisa mengerti isi keseluruhannya. 

Dimas dihadapkan pada pertanyaan, kenapa kita harus bergabung dengan salah satu kelompok hanya untuk menunjukkan sebuah keyakinan? Lagi pula apakah mungkin keyakinan kita itu sesuatu yang tunggal? Sosialisme, komunisme, kapitalisme, apakah paham-paham ini harus ditelan secara bulat tanpa ada keraguan? Tanpa ada rasa kritis? Halaman 43


Masih dihalaman awal saja sudah dikasih pernyataan yang ribet ya. Memang setting ceritanya mengambil massa ketika PKI sedang ditumpas di bumi NKRI. Siapa sangka kepergian Dimas  (dalam rangka tugas kerja) menyelamatkan dia dan beberapa teman, sekaligus membuatnya tidak dapat kembali lagi ke tanah air. 

Kisah berlanjut Dimas menetap dan tinggal disana bersama sahabatnya yang memang tidak dapat kembali ke tanah air. Kalau kembali, ya sudah, mati atau selamanya di berikan "cap" khusus.

Gereja Notredame (Sumber gambar  dari liburankeluarga.com)
Singkat cerita, waktu berjalan dan musim berganti, anak Dimas, yang diberi nama Lintang mengambil tugas yang disarankan oleh dosen pembimbingnya berhubungan dengan tanah air keduanya, Indonesia. 

Seru baca novel yang mengambil setting Perancis, saya jadi kenalan sedikit dengan kampus Sorborne (kakau ngga salah ini kan tempat sekolahnya penulis laskar pelangi). Atau berkhayal sebentar ke gereja Notredame selain ke Menara Eifelnya.


Menara Eiffel Paris (sumber gambar digaleri.com)
Lain lagi ketika dikenalkan dengan beberapa kata dalam bahasa Perancis, D'accord yang artinya setuju. Lain lagi Tu Veux s'evader de I'histoire? Kamu ingin lari dari sejarahmu. Une Activiste Indonesienne qui a ete Kidnappe Prend sa Parole, aktivis Indonesia yang pernah diculik berbicara. Itu semua adalah percakapan Lintang dengan dosennya. 

Lintang hanya mengenal Indonesia  berdasarkan kisah sang ayah, Sebuah tanah yang mengirim aroma cengkih dan kesedihan yang sia-sia. Sebuah tanah yang subur oleh begitu banyak tumbuhan, yang melahirkan aneka warna, bentuk dan keimanan. Tetapi malah menghantam warganya hanya karena perbedaan pemikiran (halaman 137).

Atau dihalaman lain saya menyaksikan Dimas menceritakan kisah Arjuna kepada Lintang. Kisah dimana ada seorang pemanah yang jauh lebih pandai dari Arjuna dan ngaku-ngaku muridnya guru Dorna. Dialah sosok Ekalaya, mungkin ini sosok yang mengenalkan metode self learning atau otodidak. Ya iyalah, dia belajar sendirian tanpa guru, hanya sebelum berlatih dia menyembah dulu patung yang dibuat mirip dengan guru Dorna. Yang bagian ini (sosok Ekalaya, saya juga baru tahu ada kisahnya).

Demi membuat sang Arjuna menjadi sosok pemanah yang tetap unggul, karena itu sudah meruoakan janji guru Dorna. Terpaksa sang guru "mengakali" murid yang bukan muridnya Ekalaya. Sebagai yang dianggap guru ia berhak meminta apa saja kepada Ekalaya. Dan siapa sangka permintaan guru ini adalah jempol tangan Ekalaya. Dan Ekalaya pun senang-senang saja memberikannya. Meskipun itu membuatnya menjadi pemanah yang tidak ulung lagi.

Dihalaman 251 saya dikenalkan dengan istilah On ne voit bien qu'avec le coer. L'essentiel est invisible pour les yeux. Dengan menggunakan hati kita bisa melihat dengan jernih. Sesuatu yang begitu penting justru tak terlihat kasat mata.

Sebuah cerita yang dikisahkan ayah Lintang dan akan menjadi pegangan dalam hidupnya. Sebab Lintang harus menyelesaikan tugas akhirnya kuliah. Siapa sangka tugas ini yang membawanya jauh keluar dari Perancis untuk mengunjungi jejak kelahiran sang ayah.

Yup, waktu berjalan cepat. Indonesia sedang bergulat dengan segala persoalannya. Lintang datang disaat yang tepat atau tidak tepat. 

Pertemuanya dengan Andini sepupu yang hanya dikenalnya melalui surat elektronik menjadi cerita manis sendiri. Atau ada masa dimana Lintang mengacaukan suasana pertemuan keluarga Rama dengan calonnya (yang pada saat itu belum tahu kalau Rama masih ada hubungan darah dengan anggota PKI)

Cerita berubah mrngambil setting Jakarta tahun 1998 ketika Lintang berkenalan dengan semua kerabat yang dikenalkan dari Perancis lewat selembar kertas. Ada Alam Segara anak bungsu dari Hananto dan Lintang juga berhasil bertemu dengan sosok Surti yang ketika suratnya ditemukan Lintang surat itulah yang menjadi sebab perceraian orang tuanya.

Di Jakarta sosok utamanya berubah dari Dimas yang merupakan pelarian politik  menjadi Lintang sosok mahasiswa Sorbone yang concern mengumpulkan pernik-pernih serpihan penggalan cerita korban PKI.


Kampus Sorborne

Bersama Alam dan sepupunya yang lain, saling membantu, bertukar cerita berjalan menjadinsebush romansa antara satu dengan yang lain atau penghianatan disisi lainnya.

Pulangnya Lelila S Chudori masuk dalam karya satra dengan pengumpulan data cerita yang akurat. Dalam salah satu testimoni eks Tapol Djoko Sri Moeljono, meskipun cerita ini fiksi tapi ia terhanyut.

Seru memang setelah mengetahui endingnya seperti apa dan tidak terduga. Memang sempat sedikit membosankan ketika awal cerita dibekali dengan tetek bengek latar belakang pertemanan Dimas dan Hananto. Beralih ke pertemanan Dimas, Nugroho, Risjaf dan Tjai yang bertahan di Perancis dengan membangun sebuah rumah makan.

Cerita mulai berasa ada "greget"nya ketika Lintang Utara terbang ke Jakarta untuk menelusuri cerita PKI itu sendiri. Dan memang seperti ada pesan dari si penulis sendiri. Bahaya laten komunis memang berdampak buruk bagi bangsa ini tetapi dampak setelah penumpasan itu sendiri masih masif terhadap keluarga dan turunan serta kerabat yang notabene tidak tahu atau tidak terlibat. 

Seperti dihadapkan pada sebuah ironi, ketika hukuman yang diberikan bukan sekedar untuk membuat jera tetapi lebih kepada efek yang membuat seseorang merasakan dampak yang sama dari apa yang sudah dilakukan para PKI pada masa itu.

Hmm kalau buku ini dibahas pastinya akan ada pro dan kontra dan lebih asik lagi kalau buku ini dibuat film (atau jangan2 sudah ada filmnya), pastinya akan memudahkan para penikmat visual mencerna novel setebal 450 halaman

Lalu bagaimana kisah kelanjutan Lintang mencari informasi yang dibutuhkan ditingkahi bumbu romantisme Ia dengan Alam atau Ia dengan Naraya. 

Lalu bagaimana dengan Dimas sendiri selepas Lintang pergi? Kondisi fisik yang berangsur-angsur turun tetapi ditutupi dengan semangat hidup alakadarnya seolah memberikan pesan tersendiri kepada Lintang.



Sekilas buku Pulang.
Cetakan pertama tahun 2012 Februari 2017 masuk cetakan ke 17.

ISBN. 13:978-602-424-275-6
Harga di Gramedia Rp. 90.000,-


2 komentar:

  1. Sudah lama buku ini masuk dalam daftar yang pengen dibaca. Habis baca ulasan ini jadi makin pengen tahu kisah si Lintang ini. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang suka dengan bacaan berat dan berkelas macam sastra gitu buku ini cocok banget untuk pecinta genre ringan pastinya bakalan bosan baca lembar2 awalnya aja.. heheheh

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih