Rabu, 11 Januari 2017

Tanya dan Ale dititik kritisnya (Resensi Novel Critical eleven)

Critical Eleven by Ika Natassa
Kita memilih pasangan seperti memilih biji kopi yang terbaik. Bukan salah mereka (baca:pasangan) jika rasanya kurang enak. Salah kita yang belum bisa melakukan yang terbaik sehingga mereka juga menunjukkan yang terbaik buat kita.

Ok, akhirnya dapat juga bukunya mba Ika Natassa. Sempat beberapa kali ke Gramedia buku ini tidak tersedia. Sekilas melihat sampul depan bukunya, teringat dengan sampul buku Sabtu Bersama Bapak (edisi lawas) nuansa biru mendominasi hampir keseluruhan covernyadan infonya sampul depan ini didesain sendiri oleh mba Ika.

Buku Critical Eleven sendiri resmi terbit di tahun 2015 dan Desember 2016 sudah masuk cetak ulang yang ke 16.

Salah satu keunikan dari novel ini selain nomor halaman yang biasanya terletak dibawah, mba ika menyusunnya di tengah. Sempat bingung nomor apaan ini? Dan jalan ceritanya sedari awal ketebak juga berasa Abegeh yang beranjak dewasa. Bahasa inggrisnya nyampur bareng bahasa lokal.

Tapi bukan gw kalau baca novel yang berkesan ringan dan renyah tapi ngga ngedapetin kata-kata baik. Halaman awal aja langsung digeber, “Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. Menerima fakta bahwa sebagian dari rasa kita ditentukan oleh orang yang menjadi pasangan kita.”


Sebagai sosok yang sangat menyukai berada dibandara tapi sedikit sebal dengan terbang unik juga kepribadiannya.

Bahkan bandara pun memiliki filosofinya sendiri, bandara mengajarkan kepada kita untuk memiliki tujuan. Baca aja disetiap tiket setidaknya ada tujuan yang tertera. Sama seperti hidup kita yang harus memiliki tujuan,  setidaknya kata itu yang terekam jelas dari setiap kelas keuangan yang diberikan mba Ligwina Hananto. Penasaran juga dengan sosok itu?

Ligwina Hananto sendiri adalah perencana keuangan kawakan. Bersama dengan beberapa rekannya ia merintis QM Financial pada tahun 2005. Banyak buku dengan tema keuangan yang telah ia terbitkan rupanya. 


Ligwina Hananto (sumber gambar :Youthmaual.com)


Yang seru itu pas dihalaman 56, ketika ayah Ale yang melakukan pencarian didunia maya bagaimana cara menyeduh kopi ala barista Matt Perger.  Filosofi kopi dalam memilih pasangan ada juga, kita memilih pasangan seperti memilih biji kopi yang terbaik. Bukan salah mereka (baca:pasangan) jika rasanya kurang enak. Salah kita yang belum bisa melakukan yang terbaik sehingga mereka juga menunjukkan yang terbaik buat kita.


Kisah Aldebaran dan Tanya menjadi menarik jika disimak lebih dalam. Tahu ngga kenapa judulnya Critical Eleven. Saya mulai mengait-ngaitkan setelah selesai membaca beberapa bab diawal.  Tanya yang memang cinta berat dengan dunia penerbangan mahfum benar 11 menit yang mmenentukan dalam dunia penerbangan. 3 menit di awal menuju take off dan 8 menuju ketika landing. Siapa sangka ia berjodoh dengan penumpang sebelah tempat duduknya. Awalnya mungkin inilah 11 menit atau 11 jam atau 11 bulan yang akan diceritakan.

Memang sih,  hubungan mereka berlanjut ke jenjang pernikahan. Sotoynya saya tentang critical eleven belum terjawab sebenarnya. Dan memaksa untuk terus menyelesaikan novel sebanyak 344 lembar halaman.



Perjalanan biduk rumah tangga mereka tidak semulus yang dibayangkan. Tapi sosok Tanya bukanlah sosok wanita mudah menyerah. Hobi membacanya luar biasa, baik buku lokal atau international. Semua itu demi memperkokoh pemikirannya, seperti dihalaman 99, ia mengutip sebuah buku The Once and Future King karya TH White dimana ada adegan Merilyn menasehati King Arthur muda, 

The Best thing for being sad is to learn something. That is the only thing that nevel fails. You may grow old and trembling in your anatomies, you may lie awake at night listening to the disorder in your veins. You may miss your only love, you may see the the world about  you devastated by evil lunatics or know your honour trampled in the sewer of baser minds. There is only one thing for it then-to learn. Learn why the world wags and what wags it.

Semakin dalam membacanya ikut terhanyut oleh konflik yang ada diselingi tutur kata yang kadang gaul banget trus kembali ke formal atau bahasanya pun campur-campur antara bahasa kita dan bahasa Inggris.

Tapi setidaknya Tanya sudah mengenalkan saya ke Bakmi Tiongsim di Medan (saya sendiri yang ke medan beberapa kali ngga ngeh ada bakmi Tiongsim) atau Warung Bu Oka di Bali. Tapi untuk yang muslim Tanya berpesan agar tidak menyambanginya.

Sumber gambar : Anggi Alfonso


Disisi lain, Ale yang sedikit banyak juga ikutan terluka mencoba menemukan filosofinya sendiri, ujian keimanan seorang laki-laki itu bukan waktu dia digoda oleh uang, perempuan, atau kekuasaan seperti banyak yang dikatakan orang. Ujian iman itu adalah ketika yang paling berharga dalam hidup laki-laki direbut begitu saja, tanpa sebab apa-apa, tanpa penjelasan apa-apa kecuali bahwa itu memang sudah suratan takdir (halaman 121).

Di moment lainnya, saya merasa diajak Ale dan Tanya menikmati romantisme Newyork, sekedar duduk di Bryant Park, naik Q Train ke Coney Island atau bermain Cylone di Luna Park.
Konflik Anya dan Ale yang menjadi cerita kuat sepanjang Novel mengaduk-aduk perasaan.

Bryan Park NYC


Bahkan ketika Anya memutuskan meninggalkan Ale, yang membuat Ale hampir copot jantungnya. Siapa sangka itu adalah skenario dari keluarga besar Ale untuk memberikan kejutan spesial ulangtahunnya.

Jakarta di mata Anya dan Ale pun menjadi sebuah cerita yang berkesan. Iya, Jakarta yang menyimpan banyak rahasia. Rahasia seorang ayah yang disambut layaknya seorang pahlawan oleh anaknya waktu membawa sepasang seragam sekolah baru demi menggantikan seragam yang sudah usang dan lapuk. Sementara sang ayah hanya dapat tersenyum getir mengingat ibu tua dipasar yang berhasil dirampoknya demi membeli seragam baru buat sang anak (halaman 150).

Jakarta yang pernah ditahbiskan oleh Jurnalis asing sebagai kota ke tujuh yang paling dibenci didunia. Jakarta pula yang menyimpan manis cerita romantis mereka.

Nah sampai di bab 19 halaman 202 tempo membaca sudah mulai kurang. Konflik belum menemukan titik terang sedikit bosan memang. Meskipun hubungan Ale dengan ayahnya berangsur-angsur membaik.

Semakin mendekati halaman terakhir tempo membaca kadang turun kadang naik seperti alur cerita yang semakin cepat atau terkadang melambat kembali.


Demi menghitung semua hari demi hari pertemuan dan kebersamaan Ale dan Tanya. Setiap konflik yang belum terpecahkan dan menemukan jalan buntunya. Ketika sebuah kebersamaan menjadi sebuah keterasingan sendiri menjadi alur ceritanya.

Terakhir, Ale tersadar dengan ungkapan dari bapak penemu teori relativitas yang berujar Everything that can be counted does not necessarily count, everything that counts cannot necessarily be counted. Albert Einstein.

Harapan versi layar lebarnya.
Sebenarnya lebih penasaran dengan versi layar lebarnya yang akan segera dibuat. Pastinya filmnya akan sarat dengan kota-kota dunia yang pernah mereka kunjungi bareng. Atau buku yang sering dibaca hingga lagu yang didengar dan pastinya film yang Ale dan Tanya saksikan bareng.

Karena kalau sekedar dibuat sederhana dan asal. Khawatir seperti judul bukunya Critical Eleven yang misterius tentang apa sebenarnya yang terjadi menjadi sedikit hilang. 11 yang menjadi titik kritis.
11 yang merubah seluruh jalan hidupmu? 11 kebersamaan bersama dirimu atau 11 – 11 lainnya yang berseliweran dikepala penikmatnya kelak.

Semoga sukses versi layar lebarnya se-sukses bukunya yang sudah menjadi National best seller.

 
Tentang Penulis Critical Eleven




6 komentar:

  1. Saya belum baca bukunya. Baca review ini membuat saya sedikit menemukan titik terang. Semoga suatu hari nanti bisa baca dan kebeli bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa baca langsung bukunya mba

      Hapus
  2. Alur ceritanya bagus banget. :)

    BalasHapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih