Sabtu, 09 Juli 2016

Sabtu Bersama Bapak #Rindu Ayah The Movie

Sabtu Bersama Bapak 
Ok, selesai membaca buku Sabtu Bersama Bapak kebetulan selesai ber-hari raya ke rumah kerabat, akhirnya saya dan pasangan memiliki “me time” juga. Dan kami putuskan untuk melipir ke studio terdekat.  Plasa Cibubur, selain lokasi yang tidak jauh dari rumah, harga tiketnya juga masih lumayan murah di bandingkan studio yang lain, di plasa Cibubur tiket XXI Jumat-Minggu Rp. 35.000,-

Niat dari awal memang sudah mantap untuk menyaksikan Sabtu Bersama Bapak dengan harapan studio masih kosong. Rupanya itu hanya angan-angan belaka, jalanan juga masih lumayan antri plus pengunjung Plasa Cibubur lumayan banyak. Sepertinya selain tempat wisata, tempat makan, Mal/ Plasa  juga ramai dikunjungi ketika liburan tiba.


Libur tapi tetap ramai 

Masuk ke Studio juga tidak jauh berbeda, kerumunan massa (baca : orang) sudah menumpuk. Plasa Cibubur itu hanya memiliki 6 studio. Alhasil film Sabtu Bersama Bapak hanya di putar  1 studio saja bersaing dengan film Rudi Habibie, Koala Kumal dan Film Asing Legend Tarzan.

Ckckckck... antrian sudah lumayan panjang. Ini kalau ngga dapat tiket nonton Sabtu bersama bapak, ya sudah “balik kanan” saja.

Untunglah nasib baik masih berpihak kepada kami. Pemutaran Sabtu Bersama Bapak yang tayang pukul 19.00 WIB masih tersisa beberapa seat, memang sich harus menunggu 1 jam, tapi tak apalah, 

Toch masih mendapatkan tempat duduk yang diinginkan. Ya sudah demi menghabiskan waktu 1 jam, keliling – keliling sebentar, sekalian cuci mata. Sebagian toko masih tutup, tapi sebagian lagi sudah beroperasi seperti hari biasa. 

Sepatu Bata Bukan Sepatu Bapak ya :) 


Toko Sepatu Bata bahkan sudah beroperasi normal sejak hari ke dua lebaran. Sempat juga bertanya ke petugasnya, “kok ngga tutup mbak?” lumayan ramai pengunjungnya mas dan juga Plasa Cibubur  sudah beroperasi normal kok.

Sabtu Bersama Bapak
Satu jam selesai keliling-keliling dan “chit-chat” sama petugas Toko Sepatu Bata (meskipun ngga beli), kami (saya dan Istri) memutuskan kembali ke Studio.

Dan benar saja, antrian mau masuk studio 5, Studio Sabtu Bersama Bapak sudah ramai, meskipun pintu belum dibuka.

Penonton yang berbaris rapi mencari tempat duduknya masing2 


Ketika pintu dibuka, penonton berbaris rapi dan masuk satu persatu dan duduk sesuai dengan nomor bangku. LUAR BIASA, seluruh studio penuh terisi. Tidak ada satupun bangku yang kosong. Ckckckckck.. GIILLLLAAAAKKKK pecinta film Indonesia. Antusiasnya sangat tinggi.

Kalau saya sendiri yang dapat barisan depan mungkin akan enggan atau setidaknya memilih menunggu di waktu lain  atau hari lain. Tapi entah kenapa hari itu bahkan hingga bangku depan semuanya terisi ya.  SALLLLUTT

Istri saya belum sempat baca bukunya, tapi penasaran dengan filmnya. Saya  sudah selesai membaca bukunya memang tidak menceritakan detil isinya, takut kehilangan gereget.

Para pemain di Film Sabtu Bersama Bapak ada Acha Septriasa sebagai Rissa, Satya diperankan Arifin Putra, Deva mahendra sebagai sosok Cakra, Ibu diperankan Ira Wibowo.

Secara keseluruhan Film ini mengaduk perasaan istri dan penonton lain. Saya sempat mendengar beberapa penonton tersedu (entah karena filmnya atau karena Pilek ya.. ). Terlebih ketika adegan sang Ibu yang hendak di operasi. Atau kembali terhibur ketika Wati stafnya Saka yang kelakuannya Lucu, ngga jelas tapi menghibur.

Ditingkahi kelakuan Saka sendiri yang aneh, ada di salah satu scene, ketika ia mencoba merayu Ayu (karena pemeran Saka identik dengan “tetangga kok itu sich” jadi terbawa ke situ lucunya) “iya kita kan berteman, teman hidup, kamu teman dan kamu hidup (bernapas).”  Gimana si Ayu ngga Tambah IllPell  (Ilang Feeling).



Atau ketika Cakra mengatakan bahwa “ia sering ditolak cewek karena beda prinsip, Saka Prinsipnya suka sama tuch cewek sementara tuch cewek prinsipnya ngga suka sama dia.”

Itu bagian yang penonton riuh ramai mengomentari, dan akan berubah hening ketika sang Bapak mengingatkan kembali pesan-pesan yang pernah di ucapkan. “benar bapak selalu mengajarkan pentingnya perencanaan untuk keluarga, tapi jangan juga lupakan keberadaan sekarang, jangan lupakan ada anak-anakmu dan istrimu, maafkan bapak yang tidak berada disisimu.”

Lalu bagaimana perjuangan Cakra/Saka mendapatkan Ayu? Atau ia setuju dengan perjodohan yang ajukan ibunya?

Atau bagaimana dengan Ayu yang diperingati Wati agar jangan kebanyakan senyum terlalu manis, hati-hati diabetes.

Atau hilangnya anak Satya di Paris yang menyebabkan Satya dan Rissa sempat bertengkar hebat?

oo00oo
Secara keseluruhan saya merasa terhibur sich dengan film yang diangkat dari judul yang sama Sabtu Bersama Bapak. Monty Tiwa selaku sutradara mampu mengemas dengan baik tulisan dari Adhitya Mulya.

Sabtu Bersama Bapak  


Tapi memang jika dibandingkan dengan buku akan ada perbedaan. Dan hal ini diakui pasangan saya ketika selesai menyaksikan film penasaran dengan bukunya (selesai juga baca bukunya)

Ada beberapa bagian yang tidak ada atau ada penambahan di bagian lainnya. Nah di bagian itu selaku penikmat film dan pembaca buku kami sudah menjadi kritikus. Mencoba mencari kekurangan dan kelebihan (jika ada). Atau memberikan pujian atau “keripik pedas”. STOOOOPPPPP

Akhirnya kami berdua sepakat, kami puas dan terhibur. Pesan Moralnya sampai, dan terhibur juga oleh aksi kocak Firman (Ernest Prakasa) dan Wati. Sama Saka juga sich. 

Terlebih ini film karya anak bangsa, kalau bukan kita yang menyaksikannya lalu siapa lagi, berharap bangsa lain yang akan tergila-gila (amin dan semoga saja).

Kalau kalian menyaksikan film Sabtu Bersama Bapak jangan lupa ajak anak-anak, pasangan kalau bisa orang tua sekalian ya.. cocok kok untuk disaksikan bersama keluarga besar.


Selamat Menyaksikan J

Plasa Cibubur XXI masih Murah Meriah 





16 komentar:

  1. Yay, udah nonton ya, keren banget kann. Saya baru ntar sore nih jadwal nobarnya di Depok :)

    BalasHapus
  2. Jadi makin penasaran, kyknya seru bgt ini, , , besok cuuzz aahhh ke XX1,

    BalasHapus
  3. keren2, saya juga kemarin abis nonton. sedih2 ngakak gitu sih, apalagi bagian si cakra di ledekin terus hahaha

    BalasHapus
  4. Udah nonton dan aku nangis hahahahah soalnya udah pernah baca bukunya jadi lebih tau silsilahnya. Untuk yg belum baca mungkin agak kesulitan memahami alur yg lompat - lompat

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang ada sedikit perbedaan dengan versi cetaknya mba KPM .. tapi benanng merahnya serupa ya,. menghibur dan dapat pesan moralnya :)

      Hapus
  5. Saya juga nangis tersedu-sedu dan memang juga lagi pilek, Mas :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nangisnya karena pilek itu mba.. Bukan karena pilemnya.. Jangan lupa minum obat ya

      Hapus
  6. Pengen nonton, bagi anak perempuan bapak biasamya istimewa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus nonton mba.. Dan memang biasanya anak perempuan bpak istimewa :)

      Hapus
  7. waini, keren fil-film Indonesia suuudah banyak banget ya yang menikamtinya. Apresiasi yang bagus banget Mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun ini ada beberapa film karya anak bangsa yang lumayan untuk dapat di nikmati bersama kekuarga mas..

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih