Senin, 05 November 2018

Belajar Dari Abang Ojol (Kerja Itu Ibadah)



Illustrasi dari piaxabay 
Dia bukan sedang narik penumpang ojek saja, tapi bekerja melayani, mengantarkan penumpang sampai hingga tujuan dengan selamat.  Sama mulianya dengan pekerjaan kantor lainnya, ga ada bedanya.

Klise sebenarnya, kerja itu adalah ibadah. Mudah untuk diucapkan sulit untuk dilaksanakan. Berapa banyak dari kita yang bisa menjawab jujur, apakah kita sudah bekerja seperti kita beribadah? Saya pribadi belum, teriak-teriak anak Tuhan lah masih banyak kerjaan yang belum beres dalam pelaksanaannya. Sampai kemarin ketemu babang gojek dan kembali diingatkan.

Hello, daerah Cikini apalagi untuk jam-jam datang dan pulang kerja sangat sulit untuk melakukan pemesanan ojek online, anehnya banyak abang-abang gojek yang pada nongkrong.  Dan beberapa kali ketemu babang gojek yang mengeluhkan pendapatan yang semakin minim sementara persaingan antar driver semakin ketat.

Lalu kalau persaingan makin ketat kenapa juga masih ada driver ojol yang ongkang-ongkang kaki ketika jam sibuk, bukan? Pertanyaan sederhana ini saya simpan rapi dalam benak saya, entah kapan akan terungkap kelak, waktu itu.


Pertanyaan sederhana lainnya muncul, kalau di ojek online sudah tidak nyaman, lalu mengapa yang melakukan pendaftaran makin hari semakin banyak saja. Lalu untuk para driver yang mengatakan persaingan di ojek online sudah semakin ketat, mengapa tidak mencoba bermigrasi ke usaha atau pekerjaan yang lain? Ini juga masih saya simpan rapi didalam benak saya.

***
Hingga kemarin saya bertemu dengan seorang driver ojek online, usianya paruh baya, kalau dari suaranya mungkin usianya sekitaran 45-50 tahun. Tidak terbilang muda tapi tidak terlalu tua juga untuk usianya. Tapi semangat berbagi ceritanya itu yang berapi-api. Padahal kala itu ia bercerita kondisi fisiknya sedang drop a.ka sakit.

Mengapa ia bercerita berapi-api, alasan sederhananya ia juga jengkel dengan driver-driver yang suka memilih-milih pesanan. Begini ya pak, “saya sich, sebisa mungkin menerima semua pesanan, bukan untuk mengejar point tapi untuk mengejar uang, kalau point pasti nyusul kok.”

“Saya keluar rumah jam 6 pagi, saya usahakan minimal saya dapat tarikan (sebutan ketika mendapatkan orderan penumpang) sekitar 20 an, persetan itu nanti jauh atau dekat ya. Selama masih bisa di laju pakai motor akan saya ambil. Nah dari 20 tarikan tadi kan minimal dapat 1 point, apalagi kalau di jam sibuk seperti jam datang dan pulang kerja, pastinya akan  mendapat 2 point.” Lanjutnya.

Hmmm, terus pak, saya juga tertarik untuk terus mendengarkan cerita dari kursi belakang sepeda motornya. “Kerja bagi saya itu ibadah, pak”. Kata-kata itu beberapa kali ia ulangi sepanjang percakapan. Banyak-banyak ucap syukur aja, pak, gitu lagi tambahannya.




Ia pun menganalogikannya secara sederhana, dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore  itu 12 jam, kalau beruntung dapat jalur pendek 1 jam itu bisa 2 kali atau  3 kali tarikan. Kita katakanlah dapat 20 tarikan sampai sore. Hitung aja sekali tarikan tarifnya Rp.10.000,- aja, karena menurut beliau ada beberapa rute konsumen yang mendapat promo tarifnya bisa di bawah Rp.10.000,-. “Ok dech kita hitung aja rata-rata 8 ribuan ya pak”, lanjutnya.

Delapan ribu dikalikan 20 orderan penumpang, sekitar Rp.160.000 ribuan kan pak, sambil masih bersemangat menceritakan pengalamannya. Itu belum termasuk tips yang dibagi sama konsumen (tapi ini ga bisa dipastikan ya, karena ga semua konsumen memberikan tips). Dan dari 20 orderan tadi pihak penyedia jasa driver online akan memberikan bonus kisaran Rp.80.000,-  perhitungan ini sudah sangat minim loh pak. Paling potongan untuk biaya hidup dijalan sama bensin habis-habis sekitar Rp, 50,000,-

Coba bayangin pak, “kapan lagi punya penghasilan bersih Rp.190.000,- , kita bulletin aja yak angka Rp.200.000,- perhari dikalikan 22 hari kerja, ia sabtu minggu mengkhususkan diri untuk tinggal dirumah dan bermain bersama keluarga, total ia dapat sebulan sekitar 4 jutaan.” keren kan pak, imbuhnya lagi.

Itu belum termasuk kalau di hari tertentu ia selalu dapat lebih dari 20 point kadang 30 point, waktu saya naik itu, ia sempat menunjukkan appsnya bahwa saya penumpang yang sudah memberikan padanya point hingga 16 point, alhasil ia hanya nunggu 2 orderan lagi (karena waktu itu jam 5 sore) 1 orderan akan mendapatkan 2 point. Palingan jam 6 nanti genap 20 point, udah saya mau pulang aja, istriahat pak, katanya.

Ia sendiri mengaku tinggal disekitaran Depok bersama keluarga kecilnya, hanya saja motor ia titipkan ke rumah orang tuanya disekitaran gondangdia dan ia  memilih pulang dan pergi menggunakan commuter line. Praktis ia merasa ia seolah-olah memang sedang bekerja layaknya pekerja-pekerja lainnya.

Memang untuk penumpang ia selalu tidak memilih, tetapi untuk yang lain ia pilih-pilih juga, katanya. Terutama untuk pesanan makanan dan pengiriman barang, beberapa kali ia kena dikerjain sama konsumen-konsumen nakal yang melakukan pesanan fiktif, untuk makanan memang bisa dibawa untuk keluarganya, lah kalau barang, beberapa kali pernah ia harus menghabiskan waktu lebih dari setengah harian untuk melakukan pengiriman barang, bukan karena jauhnya tapi karena konsumennya sulit untuk dihubungi.

Tapi untuk antaran penumpang hampir tidak pernah ia tolak, untuk makanan masih sesekali ia terima asalkan konsumen dapat dihubungi.




Kerja itu Ibadah.
Lihat, setengah jam berbincang sepanjang jalan dengan driver online, mendapatkan semacam pencerahan. Bagi itu driver, dia bukan sedang narik penumpang ojek saja, tapi bekerja melayani, mengantarkan penumpang sampai hingga tujuan dengan selamat.  Sama mulianya dengan pekerjaan kantor lainnya, ga ada bedanya.

Dari segi penghasilan, driver ini sangat puas  dan bangga ia dapat menghidupi keluarganya bahkan masih memiliki waktu akhir pekan bersama keluarga. Edan bukan, sementara beberapa dari kita masih mengutuki pekerjaan, ada yang belum sesuailah, atau beban kerja yang terlalu berlebihan yang tidak sesuai dengan penghasilan yang diterima atau masih banyak segudang alasan buruk lainnya.

So, masih merasa kita yang paling kurang beruntung atau sekarang sudah merasa bahwa kita sebenarnya kurang bersyukur.

Semangat Beraktivitas, Edisi Menyemangati Diri Sendiri.





2 komentar:

  1. Ceritanya keren Mas! Jadi pengen ketemu sama abang ojol model beginian yang selalu punya niat buat kerja cari duit yang bener. Dan kebanyakan yang begini malah yang sudah agak lanjut usianya. Atau yang malah muda2 sekalian. Yang usianya nanggung2 tuh yang suka nyebelin. Berasa paling susah sedunia tapi cari duit ogah2an. Ya ga semua kayak gini sih. Tinggal balik ke motivasi masing2 orangnya saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia bro nuno... yang saya ceritakan ini jarang banget,,, seringan dapet yang berkeluh kesah gmana gitu.. menjengkelkan banget kadang2 :)

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih