Minggu, 28 Februari 2016

Rumah Geriten dan Rumah Siwaluh Jabu (Sekilas Tentang Orang Karo)

Suku Karo yang tinggal di pegunungan Sinabung dan Sibayak
Suku Karo, salah satu suku yang tinggal di bawah kaki Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak. Suku Karo  merupakah bagian dari suku Batak. Batak sendiri terbagi menjadi 5 yaitu, Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Simalungun, Batak Karo dan Batak Pak-Pak. Beberapa kalangan mendebat bahwa Suku Karo bukan bagian dari Suku Batak yang sudah ada. Tapi bukan itu yang akan kita bahas.

Suku Karo hampir sebagian besar tinggal di sekeliling perbukitan yang subur dan hijau. Sebagian besar penduduknya  hidup dari hasil pertanian. Budayanya juga unik. Mulai dari Bahasa yang biasa di sebut Bahasa Karo, Tarian, baju adat yang didominasi warna merah, Uis Nipis untuk kaum perempuan dan Beka Buluh untuk kaum pria, hingga arsitektur rumah adatnya, Rumah Geriten dan 
yang dihuni 8 keluarga. 


Rumah Geriten
Yang hendak saya coba angkat kali ini adalah  Rumah Geriten (rumah tengkorak). Saat ini sudah hampir punah. Rumah yang biasa digunakan untuk menyimpan tulang belulang bagi suku karo yang sudah meninggal. Beruntung saya sempat melihat langsung dan mendokumentasikan   rumah geriten yang tersisa di desa Lingga waktu berkunjung ke Tanah Karo beberapa waktu lalu. 

Rumah Geriten yang masih ada di desa Lingga 

Rumah Geriten juga berbentuk seperti rumah adat tetapi bentuknya jauh lebih kecil dan mempunyai empat sisi. Rumah Geriten berdiri di atas tiang, mempunyai dua lantai. Lantai bawah tidak berdinding sedang lantai di atasnya berdinding. Di lantai yang bawah ini terdapat sebuah pintu. Dan dari pintu inilah dimasukkan kerangka orang yang telah meninggal. Rumah Geriten berfungsi untuk menyimpan kerangka atau tulang-tulang sanak keluarga pemilik Rumah Geriten yang telah meninggal di bagian atasnya sedangkan bagian bawah merupakan tempat duduk atau tempat berkumpul bagi sebagian warga, terutama kaum muda. 

Rumah Geriten juga digunakan sebagai tempat bertemunya laki dan perempuan untuk saling mengenal
Meskipun berhubungan dengan tulang belulang dan kematian, tapi jauh dari kesan mistis. Karena Rumah Geriten yang ada masih digunakan sebagai tempat bertemunya para pemuda untuk saling mengenal.

 
Rumah adat Siwaluh Jabu
Rumah adat karo biasa di sebut Siwaluh Jabu, namanya diberikan karena Rumah ini dapat menampung kisaran 8-10 keluarga didalamnya.  Memilliki ciri serta bentuk yang sangat khusus, didalamnya terdapat ruangan yang besar dan tidak mempunyai kamar-kamar (sebagian sudah dibagi menjadi kamar-kamar).

Rumah Adat Siwaluh Jabu
Rumah adat Siwaluh Jabu berupa rumah panggung, tingginya kira-kira 2 meter dari tanah yang ditopang oleh tiang (ruang kosong ini biasa digunakan untuk kandang ternak atau tempat menyimpan kayu), Tiang penopangumumnya berjumlah 16 buah dari kayu ukuran besar. 

Rumah ini mempunyai dua buah pintu, satu menghadap ke barat dan satu lagi menghadap ke sebelah timur. Di depan masing-masing pintu terdapat beranda, biasanya terbuat  dari bambu-bambu bulat yang disusun rapi (disebut ture). Ture ini digunakan untuk tempat bertenun, mengayam tikar atau pekerjaan lainnya, pada malam hari ture atau serambi ini berfungsi sebagai tempat naki-naki atau tempat perkenalan para pemuda dan pemudi untuk memadu kasih. 

Rumah siwaluh Jabu saat ini sudah menjadi obyek wisata ketimbang ditinggali sebagai rumah tinggal


Atap rumah Siwaluh Jabu dibuat dari ijuk. Pada kedua ujung atapnya terdapat anyaman bambu berbentuk segitiga, disebut ayo-ayo. Pada puncak ayo-ayo terdapat tanduk atau kepala kerbau dengan posisi menunduk ke bawah(tanduk kerbau diyakini masyarakat karo sendiri sebagai penolak bala)

Uniknya Rumah Siwaluh Jabu adalah terbuat dari kayu dan hanya diikat dan saling dikaitkan antara satu kayu dengan kayu lainnya, Tidak ada unsur paku dan besi di dalamnnya. Bahkan konon kabarnya membuat satu rumah adat ini diperlukan  waktu yang tidak sebentar dan orang yang tidak sedikit

Bagian dalam Ruma Siwaluh Jabu serta bagian dapur yang coba diterangkan maknanya

Didalam Rumah adat ini juga terdapat dapur. Dapur bagi masyarakat Karo juga mempunyai arti seperti  Tungku tempat menaruh alat memasak, terdiri atas lima buah batu, kelima batu menandakan adanya lima marga besar dalam suku karo yang mendiami Lingga, yakni Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan, dan Peranginangin.

Bagian Bawah biasa diguakan sebagai kandang ternak atau tempat menyimpan sesuatu

Pada saat dahulu, keberdaan Rumah adat Siwauh Jabu menunjukkan strata ekonomi golongan tertentu. Sebab semakin besar dan semakin banyak yang mendiami rumah adat ini menandakan siempunya mampu menjaga kekerabatan yang ada dan akan mampu saling melindungi jika ada serangan dari luar. 

Pun berlaku sama dengan Rumah Geriten, keberadaan dan kemewahaanya menunjukkan tingkat kemapanan seseorang.

Tapi sepertinya arsitektur ke dua rumah adat ini semakin tergerus jaman. Selain semakin sulitnya menemukan bahan untuk membangun rumah adat. Serta sedikitnya generasi muda yang tertarik untuk tinggal dan meneruskan tradisi yang ada.

Tetapi dengan adanya desa Lingga setidaknya saya dapat mengetahui masih ada Rumah adat Siwaluh Jabu yang terjaga kelestariannya dan beberapa rumah Geriten yang sengaja dilestarikan  agar generasi muda  masih dapat menyaksikan langsung dan menyentuh serta membayangkan kehidupan suku Karo sebelumnya.

 
Pintu Masuk Desa Lingga yan masih kental dengan budaya suku Karo itu sendiri

Ornamen dinding rumah siwaluh jabu, Cicak yang panjang dan memiliki makna tersendiri

Rumah Siwaluh Jabu dari luar utuh keseluruhan

20 komentar:

  1. dulu waktu sekolah pernah dibawa study tour ke tempat ini. keren memang tempatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah mba momo sudah ke desa lingga juga.. sekarang semakin tambah keren tentunya :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. memang bagus kok mas ... bagus banget malah :)

      Hapus
  3. Wiiih. Makasih Bang Lius sudah diajak jalan-jalan menelusuri peninggalan adat Batak Karo. Membayangkan betapa harmonisnya kehidupan di Rumah Adat Siwaluh Jabuh deh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama sama mas.. setidaknya mas dhani jadi lebih tahu sedikit tentang Suku Karo .. Rumah adatnya siwaluh jabu dan rumah geriten (tengkorak)

      Hapus
  4. wah aku belum pernah ke sana nih bang , mudah-mudahan bisa kesana ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba lidya fitrian.. saya doakan semoga suatu saat didepan bisa berkunjung ke desa lingga dan menyaksikan langsung :)

      Hapus
  5. Iya e, aku nyadar; tiap ada teman dari Batak karo pati bilangnya; saya dari Karo. Salamnya beda kan?? Ada yang Horas dan Majuajua tah apa gitu :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas.. kalau batak Toba identik dengan HORAS sementara KARO identik dengan MEJUAH-JUAH..

      Hapus
  6. Saya belum pernah ke daerah Sumut,
    Desa Lingga memelihara rumah adat dan rumah geritang,
    blog reportase ini menyampaikan lagi, hingga pembaca merasa ikut berkunjung ke tanah Karo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga mba winnaz bisa berkunung dan menikmati langsung rumah adat karo dan geritennya :)

      Hapus
  7. rumahnya macem macem ya sesuai dengan fungsinya. mudah2n tetap terjaga sehingga bisa dilihat terus sampai kapanpun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat ini memang masih ada desa lingga mas yang berupaya melestarikan dan menjaga rumah adat yang tersisa... semoga ke depan mereka terus konsisten menjaganya...

      Hapus
  8. aduh bagus bangeeeet rumahnya , mudah2an banyak yg mempertahankan jangan sampai punah

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang bagus dan unik bentuknya mba Tira...harapan saya sama dengan Mba Tira.. semoga desa lingga mampu menjaga dan melestarikan rumah adat siwaluh jabu ini ya :)

      Hapus
  9. Baru tau ada batak pak pak ... temen2 gw kebayakan karo atau toba
    Btw kmrn sempet berkunjung ke rumah itu di berastagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. aih..udah sampe ke berastagi aja abang ini.. mantab kian...

      Hapus
  10. Semoga suatu saat saya bisa kesana hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya doakan dari sini mba titis :)

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih