Selasa, 17 Oktober 2017

Bukan Generasi Sembarangan (My Generation The Movie)



Kita hidup dimasa yang dimana seharusnya rasa saling menghargai sudah semakin tinggi, baik sebagai orangtua maupun anak. Segala keputusan yang sudah sepakat diambil baiknya tetap dijaga kebaikannya. Mengenai masa depan siapa yang mengetahui, tetapi menikmati kebersamaan saat ini adalah sebuah anugerah tersendiri.

Linimasa akhir – akhir ini ramai sekali dengan kehadiran salah satu film karya anak bangsa yang akan mucul awal Nopember nanti. Nah bicara mengenai film karya anak bangsa, sudah sewajarnya kalau ada waktu kita saksikan bersama teman, keluarga dan kerabat. Hmm, pastinya ini akan menjadi perdebatan, lah ngapain juga menyaksikan film karya anak bangsa yang kualitasnya belum jelas. Dan memang kalau kalian hendak datang hanya untuk mencari kekurangan dari sebuah film ada aja dan siap-siap akan kecewa.

Sementara saya sendiri beberapa kali menyaksikan karya anak bangsa, dan betul memang ada kecewa untuk beberapa film yang tidak sesuai ekspectasi (terutama untuk film yang bukan genre saya, horor ngga jelas gitu) tapi tetap saja saya enggan mengomentari terlalu jauh. Setidaknya dengan tidak banyak berkomentar saya menunjukkan apresiasi besar saya terhadap karya anak bangsa.

Pun sama dengan film My Generation yang akan tayang Nopember nanti, cek hastagnya saja #MygenerationFilm #FilmMyGeneration #NungguFilmMyGeneration banyak informasi yang bisa kalian temukan disana. Dan sukses membuat saya penasaran untuk turut menantikan dan menyaksikannya.


Salah satu Cupllikan Perbedaan pendapat antara anak dengan orang tua.

Ide kreatifnya segar dengan menampilkan konflik keluarga kekinian. Belum tayang saja beberapa teman sudah mempertanyakan akan jalan ceritanya. Dan memang masalah kekinian yang berhubungan dengan anak muda yang berbeda pendapat dengan generasi yang lebih lawas selalu menarik untuk disimak, semangat perlawanan melawan bijaknya pengalaman, gemuruh pemberontakan versus kematangan yang tenang.

Dalam salah satu postingan FB saya mengibaratkan Kalau kata Bang Rhoma nich, darah muda, darahnya para remaja, yang selalu merasa gagah ngga mau mengalah.. darah muda.  Dan memang selalu banyak yang dapat diceritakan dari masa muda yang kita sudah lewati bukan. Nah ada baiknya tidak hanya menceritakan/mendengarkan kisah masa muda yang sudah dilewati, tetapi menyaksikan bersama-sama keluarga cerita masa muda dengan versi yang berbeda (baca;generasi kekinian) ada kesan yang berbeda. Semoga film ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dan semoga tidak menjadi kontroversi apalagi dijadikan sebagai bahan provokasi.

Salah satu scene film My Generation


Dan untuk menyaksikan film ini kita perlu menyiapkan hati dengan setiap perbedaan  pendapat yang akan muncul, perdebatan yang hadir sebagai bumbu manis dalam sebuah jalan cerita yang ditampilkan di Film ini.

Film ‘My Generation’
Film ini mencoba bercerita tentang persahabatan 4 anak SMU, Zeke, Konji, Suki dan Orly. Diawali dengan gagalnya mereka pergi liburan karena video buatan mereka yang memprotes guru, sekolah, dan orang tua going viral di sekolah mereka. Hingga mereka dihukum tidak boleh pergi liburan. Tapi mereka terlalu keren untuk mengutuki keadaan dan membuat orang-orang yang sudah menghukum mereka puas.

Liburan sekolah yang terkesan tidak istimewa, akhirnya justru membawa mereka pada kejadian-kejadian dan petualangan yang memberi pelajaran sangat berarti dalam kehidupan mereka. Karakter mereka yang berbeda menjadi kekuatan cerita film ini, Orly sebagai perempuan yang kritis, pintar dan berprinsip dan ia sedang dalam masa senang-senangnya melakukan pemberontakan akan kesetaraan gender dan hal lainnya yang melabeli kaum perempuan, salah satu iisu hangatnya adalah keperawanan (ini isu sensitif terutama kita yang menganut prinsip ketimuran yang kuat).

Ini dia Para Pemainnya

Atau lainnya Zeke, pemuda pembangkang yang easy going dan sangat loyal pada sahabatnya ternyata memendam masalah yang sangat besar dan menyimpan luka hati. Zeke merasa orang tuanya tidak mencintainya dan tidak menginginkan keberadaannya (entah benar demikian atau hanya perasaan Zeke saja?)

Ada lagi Suki, sosok perempuan paling cool diantara yang lainnya. Suki memiliki krisis rasa percaya diri yang berusaha ia sembunyikan dengan keras. Sementara krisis itu semakin besar seiring dengan sikap orang tua yang selalu berfikiran negatif terhadapnya.

Sosok yang terakhir adalah Konji, pemuda polos dan naif yang tengah mengalami dilema denga masa pubertasnya. Perasaan konji mengatakan bahwa ia tertekan dengan aturan yang dibuat oleh orang tuanya. Hingga puncaknya ada sebuah peristiwa yang membuatnya  balik mempertanyakan moralitas orangtuanya yang sangat kontradiktif dengan semua peraturan yang orangtua tuntuk kepada konji.

Film yang merupakan besutan IFI Sinema ini dengan bangga mempersembahkan My Generation dan dengan apik disutradarai oleh mba Upi / @Upirocks yang salah satu filmnya itu my stupid bos, masih ada beberapa lainnya. Dan banyak pemain baru ditampilkan dalam film My Generation ini, sebut saja Bryan Langelo, Arya Vasco, Alexandra Kosasie dan Lutesha. Tapi masih ada juga pemain senior yang mendampingi juniornya, ada Om Tyo Pakusadewo, Ira Wibowo, Surya Saputra dan beberapa lainnya.

Pesan yang coba diangkat dari film ini adalah permasalahan yang dihadapi generasi kekinian lebih kompleks. Dan sebagai orang tua juga dituntut untuk terus belajar.

Dalam salah satu postingan saya juga pernah berbagi ide "Kita hidup dimasa dimana seharusnya rasa saling menghargai  sudah semakin tinggi, baik sebagai orang tua maupun anak. Segala keputusan yang sudah sepakat diambil baiknya tetap dijaga kebaikannya. Mengenai masa depan siapa yang mengetahui, tetapi menikmati kebersamaan saat ini adalah sebuah anugerah tersendiri.

Harus dipahami setiap keinginan yang diutarakan anak adalah baik, kemauan orang tua juga baik, mempertemukan dan memfasilitasi semua keinginan yang muncul bukan perkara yang mudah. Terlebih ketika ego hadir ditengah itu semua.

Jiwa jiwa kreatif yang sedang melalui masa pemberontakannya
Orang tua dengan pengalamannya sementara anak juga datang dengan segudang mimpi dan harapannya dan memperbandingkan mana yang lebih baik sepertinya tidak bijak. Terlebih zaman orang tua tumbuh dengan zaman anak tumbuh pastinya berbeda dan diperlukan kebijaksanaan untuk melihat dari setiap sisi yang ada. Ada kekurangan dan kelebihan dari setiap zaman yang dilewati dan akan dilalui."

Ifi Sinema sendiri bukan pemain baru dalam industri perfilman, sejak tahun 2007 sudah memproduksi film seperti Coklat dan strawbery, Radit dan Jani, 3 Doa 3 Cinta, Serigala Terakhir, Mika dan masih ada beberapa lainnya.

Terakhir saya sudah melingkari tanggal 9 Nopember nanti untuk launching perdananya  bersama dengan pasangan dan kalau memungkinkan bersama keluarga besar juga biar seru.


@mygenerationfilm
@upirock




16 komentar:

  1. iya teknologi semakin berkembang zaman juga terus mengikuti perubahan. Masalah anak2 juga makin kompleks ya . Tapi kita nggak perlu parno apalagi menjauh. Dengan komunikasi yang terus berjalan semua akan berjalan baik ya. Belajar memang nggak ada habisnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik orang tua maupun anak2 diperlukan sikap belajar yang ngga pernah habis ya :)

      Hapus
  2. Anak perlu bimbingan, jangan sampai salah jalan dan jangan biarkan mereka mencari jati diri yang salah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seoakat anak jangan sampai mendapatkan bimbingan yang salah.. fatal akibatnya

      Hapus
  3. Wah, tak sabar pengin nonton filmnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama ngga sabarnya.. jangan lupa ajak keluarga dan teman2

      Hapus
  4. Benar - benar harus menjalin persahabatan antara anak dan orangtua, jadi komunikasi dapat terjalin dengan baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup.. sehingga anak tidak mencari sahabat instan di luaran sana

      Hapus
  5. dengan adanya teknologi sebenarnya orang tua dipaksa melek dan lebih canggih dari anak-anaknya ya, jadi bisa mengarahkan anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.. orang tua juga setidaknya mau belajar dan mengerti teknologi meskipun hanya sebatas pengguna saja (setidaknya tahu)

      Hapus
  6. iya saya sadar betul kalo ngasuh anak abg komunikasi yg paling penting

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepakat memang kata kuncinya adalah komunikasi yang menjadi peran sangat penting dalam mengasuh anak2 (generasi masa depan bangsa ini).

      Hapus
  7. Wah, film ini ditonton anak-anak perlu pengawasan, soalnya ada adegan yang seharusnya tidak diperlihatkan pada anak2, sebab mereka lebih rentan melakukan apa yang mereka lihat dan dengar

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar mba elva.. terutama untuk anak dibawah umur (belum remaja) sebaiknya dihindari.. tapi kalau anaknya beranjak remaja, bisa dijadikan ajang nobar dan sekalian ajak diskusi setelah menyaksikannya

      Hapus
  8. lebih baik orangtua tahu kelakuan anaknya sekalipun itu tidak terpuji, ketimbang orang tua cuma tahu kelakuan baik-baik anaknya aja tapi gak tahu di belakangnya. dan dari film ini orangtua bisa belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepakat.. ada yang bisa kita pelajari dari film ini

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih