Selasa, 21 Februari 2017

Misteri Soliteir-nya Jostein Gaarder


Ini buku ke 2 nya Jostein atau tepatnya buku 3 yang sudah saya baca. Yang pertama itu Dunia Sophie, ada kali itu 10 tahun yang lalu. Sementara yang ke dua itu gadis jeruk. 

Satu hal yang saya selalu suka dari bukunya Jostein ini adalah banyaknya kata-kata filsafat yang dikemas secara sederhana. 

Seperti di halaman 30 ketika Hans menceritakan sang nenek yang memilih pasangan hidup yang tidak semestinya. Ia berujar, "Sayangnya, kita tidak selalu bisa memilih pada siapa kita akan jatuh cinta."

Ini kisah perjalanan Hans Thomas yang dikemas manis oleh Jostein. Di bab dua sekop, dibagian atas ia menuliskan "Tuhan duduk disurga tertawa karena orang-orang tak percaya kepadaNya." Entah apa maksud awalannya. 

Sampai di empat sekop perjalanan ayah dan anak mencari ibunya masih terkesan membosankan. Belum ada "greget" yang muncul disini. Saya juga sedikit ngantuk membacanya.

Ditengah perjalanan inilah cerita dimulai. Intinya sich cerita diatas cerita. 

Perjalanan Hans dan sang ayah berhenti sebentar di sebuah pompa bahan bakar, dengan penjaganya yang mirip-mirip kurcaci. Disini pula Hans diberikan kaca penbesar oleh kurcaci yang berpesan dia akan membutuhkannnya kelak.

Siapa sangka perjalanan berlanjut membuatnya bertemu dengan pemilik Toko Roti Albert Kleges. Ia juga memberikan 4 buah roti kadet. Dan meninggalkan pesan agar menyisakan 1 yang paling besar dan makan pada saat sendirian. 

Nah mulai dech, cerita ala negri dongeng dimulai. Tetiba dari remahan roti yang ada dimulutnya nyangkut sebuah buku setebal 100 halaman dengan bentuk super mini. Soda Pelangi dan Pulau Ajaib judulnya. Inilah buku yang dibaca Hans menggunakan kaca pembesar pemberian kurcaci ketika singgah di pompa bensin. 

Dalam buku itu Albert menceritakan kisahnya kepada Ludwig tentang perkenalannya dengan Hans Pemilik Toko Roti (ini Hans yang berbeda dengan Hans diawal ya). Kelak Hans lah yang mengenalkannya akan soda pelangi dan rahasia kartu remi. Dan rahasia ini lula yang akan diteruskan kepada Ludwig, demi menjawab ke-ingintahuan-nya dan pertanyaan dari penduduk sekitar tentang toko roti Albert.

Memang kalau tidak menyimak dari awal secara serius pasti sedikit bingung-bingung. Perjalanan Hans dan sang ayah ditingkahi cerita Albert kepada Ludwig tentang Hans.

Halaman 103, ayah Hans yang merupakan kolektor dari kartu Joker menceritakan filosofinya, Joker adalah sosok konyol yang berbeda dengan orang lain. Ia bukan keriting, wajik, hati atau sekop. Ia bukan delapan atau sembilan, raja ataupun wajik. Joker itu orang luar. Namun ditempatkan dikotak yang sama dengan kartu-kartu lain, tetapi tempatnya bukan disana. Karena itu ia bisa diambil tanpa ada yang merasa kehilangan. 

Sedikit banyak Hans sudah mulai ikutan dengan gaya filosofi sang ayah, ia juga melakukan pengamatan aneh, Bahwasannya manusia, sangat pandai dalam banyak hal-menjelajahi angkasa luar hingga menemukan komposisi atom-tapi kita tidak memiliki pengetahuan yang luas tentang apa kita ini. 

Disambut dengan jawaban sang ayah, kalau otak kita cukup sederhana untuk kita pahami, sangat bodohlah kita kalau kita tidak dapat memahaminya sama sekali. Halaman 222. Saya juga bingung, untunglah si anak juga bingung. Hingga kalimat selanjutnya muncul, ada otak yang jauh lebih sederhana daripada otak manusia, misalnya kita tahu bagaimana  otak cacing tanah bekerja. Setidaknya sebagian besar otaknya. Sementara cacing tanah sendiri tidak memahaminya, otaknya terlalu sederhana.

Hingga sang anak menarik kesimpulan, sama seperti cacing. Ada Tuhan yang mampu memahami otak manusia. 

Dalam perdebatannya bertukar pikiran dengan sang ayah. Hans menyempatkan untuk terus menyelesaikan buku kecil yang harus ia baca dengan kaca pembesar. Tanpa sepengetahuan sang ayah pastinya.

Disela-sela aktivitas membacanya seolah-olah alam semesta mendukung. Ia sering bertemu dengan kurcaci yang memberinya kaca pembesar sementara si ayah berkeras bahwa yang ia lihat adalah manusia cebol biasa.




Meskipun ada gangguan, Hans tidak berhenti membaca kisah Hans yang terdampar di sebuah pulau dalam pelayaran yang kandas ditengah lautan. Siapa sangka Hans bertemu dengan manusia kurcaci dengan tanda ditubuh serupa dengan kartu remi, ada wajik, hati, sekop keriting hingga as. Dan disinilah bertemu dengan sang Joker Senior. 

Awal cerita Soda pelangi diceritakan dengan jelas oleh Frode (saya menyebutnya Joker Senior). Sama seperti Hans ia memiliki pengalaman kapal kandas dan terdampar dipulau yang mereka tempati sekarang. Bahkan muasal kurcacinya pun jelas ia tuangkan disana. Hans tergagap-gagap menerimanya, sama saya juga hampir berulang-ulang untuk sekedar memahaminya lagi.

Soliter sudah seperti 30 atau 40 tahun lalu dengan 52 sosok. Hanya ada satu pengecualian. Joker adalah tambahan yang pertama muncul di pulau, enam belas  atau tujuh belas tahun lalu. Joker pembuat onar yang mengusik kedamaian saat kami ( Frode dan teman2 soliternya) semua sudah terbiasa dengan keberadaan barunya. Halaman 248.

Lalu tahukah kalian arti filsuf? Filsuf itu sendiri adalah orang yang mencari kebijakan. Tapi tidak berarti seorang filsuf lantas bijak. 

Orang pertama yang berbuat sesuai dengan arti filsuf adalah Socrates. Mengapa demikian, singkatnya semakin Socraes sadar ketidaktahuan membuat ia ingin selalu belajar mengetahui segala sesuatu. Sementara yang lain sudah puas dengan pengetahuannya yang sebenarnya jauh dibawa Socrates, detilnya ada di halaman 263. 

Lalu perjalanan berlanjut untuk mengetahui kesinambungan masing-masing pesan yang dibawa masing-masing kartu. Semakin terbuka dan terbaca pesannya maka akan menunjukkan pada regenerasi pemain peran berikutnya. 

Saya beberapa kali sempat membaca berulang-ulang untuk mengetahui pesan yang dibawa kartu yang pada akhirnya saya lengkap baca pesannya dibagian belakang. Tetap juga masih bingung. Hehehe...

Tapi ketika keseluruhan selesai ada benang merah yang terbaca dimana semuanya terhubung dengan kutukan joker itu sendiri tanpa disadari. 

Menurut saya pribadi novelnya masih tergolong ringan dan renyah disimak. 

Buku ini dibanderol seharga Rp. 78.000,- 
Cetakan pertamanya dibukan Januari 2016
Terbitan Mizan memang identik dengan buku berkulitas (menurut saya loh).

Sayang aja kalau buku ini dilewatkan untuk dibaca dan cocok juga sebagai teman sekedar untuk menghabiskan akhir pekan. 

Buku ini juga memperoleh penghargaan sebagai pemenang Norwegian Critics Prize for Literature. Ini mungkin terkait dengan sindiran terhadap perilaku penjajahan Jerman pada masa dulu. 

Ok.. dech.. Selamat membaca.

Penang, Lam Wah Ee, disela-sela antrian menunggu giliran dipanggil dokter :)



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih