Sabtu, 08 Maret 2014

300 The Rise Of An Empire ... Film yang luar biasa Brutal :(



Artemsia dengan armadanya
Sedari beberapa bulan yang lalu, melihat cuplikan yang disajikan, jujur saya tertarik untuk menyaksikannya. Berharap, merupakan sekuel lanjutan dari Film  sebelumnya yang berjudul 300. Setelah keluar dibioskop, buru-buru saya menyaksikannya.  Penasaran, bagaimana kelanjutan ceritanya setelah Leonidas dengan 300 prajuritnya tewas.

Sekilas saya ceritakan, 300 itu adalah film heroik yang menceritakan kehebatan raja Leonidas dalam menentang jajahan dari penguasa Persia Xerxes, hanya saja pada waktu itu tidak dijelaskan mengapa Xerxes ujug-ujug datang ke Spartan dan mau menjajahnya. Leonidas tidak terima, tetapi jika menunggu keputusan senat akan memakan waktu lama terlebih ramalan orang suci (yang telah disuap) mengatakan Spartan akan jatuh kalah.   Yang ada Leonidas  mengumpulkan 300 prajurit terbaiknya untuk melawan Xerxes, dilembah “Hot Gates” Leonidas berhasil membunuh pasukan persia lebih dari yang bisa dibayakan siapapun. Meskipun diakhir cerita ia dan pasukkannya tewas mengenaskan.


Nah, di Film 300 The Rise of An Empire ini menceritakan kisah lengkap dari versi 300 sebelumnya. Rupanya 10 tahun sebelum Persia datang ke Yunani. Raja Darius Pemimpin Persia telah datang, hanya saja kedatangan ia pada saat itu berhasil dipukul mundur oleh Themistokles. Bahkan Themis berhasi membunuh Darius raja Persia itu, hanya saja kala itu ia tidak sekalian membunuh sang anak Xerxes yang kelak akan kembali membalaskan dendam ayahnya. Dalam kematiannya sang ayah berpesan, agar jangan kembali ke Yunani, sebab hanya dewa sajalah yang mampu mengalahkan mereka. 

Rupanya, Artemesia Jenderal  Wanita Persia (Tangan Kanan Raja Darius) menghasut Xerxes untuk membalaskan dendam sang ayah. Jika hanya dewa yang mampu mengalahkan Yunani, maka Xerxes harus berubah menjadi “raja dari segala dewa”. Artemesia memanggil  semua tukang tenung, tukang sihir demi membuat Xerxes menjadi kuat. Tak luput ia pun membunuh semua yang berkaitan dengan Xerxes, bahkan kerabat dan orang kepercayaan Xerxes semuanya ia bunuh. Hal ini dilakukan agar Xerxes fokus terhadap balas dendamnya. Meskipun diakhir cerita dapat diketahui, bahwa sebenarnya Artemesia adalah seorang Yunani, tetapi karena kekejaman Yunani yang memporak-porandakan desanya  bahkan membunuh semua keluarganya, ia dendam kepada Yunani terlebih ia diselamatkan dan dilatih perang oleh orang Persia. Xerxes dengan segala kekuatan ilmu hitamnya telah merubahnya menjadi seorang monster yang di segani dan ditakuti.

Pada saat Xerxes berjibaku dengan Leonidas di gerbang “ Hot Gates” dibelahan Yunani lainnya Artemesia sedang sibuk bertarung  melawan Themistokles. Ribuan armada laut Artemesia melawan puluhan armada lautnya Themistokles (jadi ingat kisah komodor Yos Sudarso di laut Arafuru). Artemesia mengalami banyak kekalahan,bahkan dengan liciknya ia mencoba merayu Themistuckles agar bergabung menjadi wakilnya. Themis menolaknya mentah-mentah, dan penolakan  ini semakin membuat gusar Artemesia.

Sementara itu Themistuckles tetap berusaha membujuk Ratu Gorgos (istri dari Leonidas) agar mau mengerahkan armada laut Spartan demi mengalahkan pihak Persia. Ratu Gorgos yang sedari awal memang tidak suka dengan niat Themis yang hendak menyatukan Yunani untuk melawan Persia, ditambah pada saat itu Ratu Gorgos sedang berduka atas kematian suaminya. Ia menolak mentah-mentah tawaran itu. 

Themist tidak punya pilihan lain, jika Spartan tidak mau bergabung bersamanya. Ia mohon kepada ratu Gorgos agar membalaskan kematian Leonidas. 

Dengan prajurit yang tersisa, Themistukles berencana untuk menyerang habis-habisan armada lautnya Artamesia, mengingat ia telah mentah-mentah menolak tawarannya untuk bergabung. Tidak ada pilihan lain, lebih baik mati secara merdeka daripada hidup tetapi dijajah Persia. 5 armada Themsituckles yang tersisa melawan ratusan armada Persia dibawah pimpinan Artemesia. 

Prajurit Yunani yang terdiri dari barisan petani, tukang besi dan lainnya bertarung habis-habisan melawan Persia. Demikian pun dengan Themistukles. Artemesia yang sudah kandung benci dengan Themis, angkat senjata untuk membunuhnya. Akhirnya Artemesia berhasil dikalahkan oleh Themist. Themis memaksa Artemesia untuk mengatakan kepada anak buahnya agar mundur. Tidak sedikitpun Artamesia bergeming, sebab ia yakin secara jumlah Artemesia menang dibandingkan Themist. Rupanya pikirannya salah, dibelakang armada laut mereka muncul ribuan Armada Laut Spartan yang sudah siap meramaikan pertempuran. Ratu Gorgos sendiri yang memimpin armada ini. 

Eh, habis dech… belum ketahuan nasib tuch Xerxes. Bagaimana? Apakah ia akan menang melawan armada lautnya Spartan atau ia akan kembali ke Persia. 

Secara keseluruhan film ini sarat dengan kekerasan dan tidak layak untuk disaksikan anak dibawah umur.  Darah dimana-mana,brutal pokoknya sadis dech.

Kalau di 300 yang pertama, ada nilai filosofi yang bisa diambil. Semangat kebersamaan dan jiwa kepimpinan Leonidas bisa dijadikan contoh. Kalau edisi yang sekarang.. kayanya ngga ada dech….

Kalau bisa nich film tidak layak untuk ditonton.


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih