Jumat, 23 November 2012

Orang baik rejekinya juga baik

"Orang baik rejekinya juga baik". Beberapa waktu lalu di jalan, setelah pulang kerja, entah ada angin apa. Mobil yang kami naiki bersenggolan dengan motor. Dari sudut pandang saya selaku pengendara mobil menyalahkan perilaku pengendara motor yang seenaknya saja mengambil jalur saya. Tapi pengendara motor tetap keukeh bahwa ia benar berada di jalurnya, sebaliknya saya yang salah. Daripada berdebat ditengah jalan pengendara motor yang pada akhirnya saya tahu bermarga sianipar ini, mengajak untuk berunding dikantor polisi terdekat. Singkat cerita bertemu kami di polsek sekitaran kalimalang.
Saya mengeluarkan sim dan stnk saya. Pada waktu itu ditangani oleh seorang Polisi. Saya tidak mencatat nama dan pangkatnya. Pak sianipar ini yang mengaku kakinya terkilir akibat terlindas roda saya menyatakan ketidaksukaan dia. Dan menyatakan kecewa atas sikap saya yang mengatakan "untung pelan seandainya saya cepat bawa mobilnya sudah mati tadi bapak"
Lalu polisi ini bertanya " ya sudah" bapak sebagai korban maunya seperti apa?  terus saja pak sianipar ini mengoceh dan mengutarakan kekecewaanya terhadap saya. Saya pun tidak mengeluarkan sepatah kata. Polisi ini mulai gemas dan menegaskan "lalu bapak maunya seperti apa?
Intinya pak sianipar ini minta ganti rugi. Sebagai pengobatan ke tukang urut. Saya coba kasih 50 ribu. Yang ada dia makin kecewa. Ini sebenarnya alasan saya tidak mau berdamai di jalan. Yang ada saya takut bapak ini memanfaatkan keadaan. Pak Sianipar ini pun berceloteh, bisa ngga bapak (saya) mengganti 15 juta. Saya pun keberatan. Apa dasar 15 juta.
Pak sianipar ini meminta ganti rugi sebesar 500 ribu pada akhirnya.

Saya pun melakukan negosiasi didepan polisi. Sudah, maksimal saya sanggupkan untuk ganti rugi tukang urut sebesar 200 ribu. Kalau bapak mau ambil dan terima. Kalau tidak ya sudah perpanjang sekalian. Bila perlu panggil polantas dan teman-temannya untuk menyelesaikan masalah ini.
Sebelumnya dia pun sesumbar kenal semua orang pengadilan (kok dia ngga kenal saya ya)
Saya pun beritikat baik mau melakukan penggantian bukan karena saya setuju saya salah. Tidak. Tetapi ketika dia bawa nama pengadilan dan corps tempat saya bekerja. Saya tidak mau nama tempat saya bekerja tercemar. Saya lakukan semampu saya dan saya rasa pantaslah 200 ribu untuk tukang urut. Kalau tidak mau di bilang berlebihan. Saya saja urut ke tempat langganan saya dikenakan tarif 75.000...

Ini juga saya tidak menyatakan keberatan. Jangan -jangan memang dari awal berangkat dia terkilir. Dan kebetulan tersenggol. Makin bertambah parahlah.
Daripada masalah tambah panjang, selain menyita waktu saya dan pak sianipar ini sekaligus pak polisi. Akhirnya pak sianipar pun menerimanya. Masalahpun selesai. Saya pun tidak merasa kecewa atau gimana. Ya sudah anggaplah uang 200.000 itu memang sudah harus keluar dan saya anggap sebagai uang sekolah untuk lebih berhati hati lagi.

Tapi siapa sangka, esok harinya, ada saja orang yang memberikan uang kepada saya. Bahkan melebihi dari jumlah yang sudah saya keluarkan kemarin.
Lihat, terlalu banyak cara Tuhan menolong manusia kan. Meskipun saya merasa dicurangi dan tidak komplain melainkan ikhlas dan berharap uang yang saya berikan berguna. Alih - alih rugi, yang ada Tuhan menyediakan lebih bagi saya. Baik penggantian secara materiil. Padahal jika tidak diganti pun sudah saya anggap sebagai uang sekolah untuk pelajaran lebih berhati - hati dalam berkendara. (sudah berhati - hati saja masih tersenggol apalagi tidak)
Sekali lagi diakhir tulisan saya, yang hendak saya bagikan adalah "orang baik rejekinya juga baik"
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih