Rabu, 14 Agustus 2019

Belajar menjadi kreatif bareng Wahyu Aditya.

Kreatif Sampai Mati
Keterbatasan melahirkan tantangan, menimbulkan reaksi untuk untuk melatih otot-otot pikiran kreatif. Dan kita didorong untuk melihat sesuatu dengan cara baru. 

Kreatif  adalah bisa mencari jalan keluar. Kreatif itu mudah, kreatif itu baik, kreatif itu cara bertahan hidup,  kreatif itu sampai mati. Masih ada ratusan definisi mengenai kreatif dan mengapa harus dilakukan. 

Cara saya berkenalan dengan seseorang selain bertemu langsung adalah membaca karya-karyanya, seperti buku yang baru saja selesai saya baca, buku Kreatif Sampai Mati, Wahyu Aditya. Bukunya sendiri dicetak pada tahun 2013 tepatnya bulan Januaru dan sudah masuk cetakan ke lima pada bulan September 2013. Saking kreatifnya dan mencoba keluar dari pake perbukuan yang sudah ada, daftar isi setiap bab nya diganti dengan istilah butir, dan Kreatif Sampai Mati terdiri dari 17 butir. 

Ada sesuatu yang diluar kebiasaan, menarik minat untuk terus menyelesaikannya hingga akhir. 

Kreatif Sampai Mati.
Wahyu Aditya (WA) dari kecil sudah tumbuh ketertarikannya  didunia seni terutama lukis atau gambar. Ia sendiri menemukan sebuah formula, semua hal yang kita inginkan harus didapat dengan cara menemukan minat dan melatih minat tersebut secara terus-menerus. Berlatih merekam dan meremix berulang-ulang bukan dalam hitungan bulan tapi bertahun-tahun. Dan berlatih karena minat itu beda rasanya dengan berlatih karena terpaksa, ada energi lebih yang kita rasakan (halaman 49).

Orang yang beralasan "saya tidak bisa menggambar" ini menandakan bahwa memang ia tidak berminat dala hal dunia menggambar. 

Bahkan WA mengutip Steve Jobs, "kita tidak bisa merencanakan masa depan kita titik demi titik yang terencana dengan pasti. Apa yang membuat kita tetap menjadi seperti sekarang adalah karena titik-titik yang sudah kita lalui."

Berbekal kegagalan ditolaknya karya animasi yang ia buat untuk sebuah festival film pendek di Jakarta, ini yang membawa dirinya untuk membuat festival sendiri, tarra dan berhasil denga hellofest (baru tahu saya).

Dalam salah satu halamannya WA mengutip Thomas Huxley,  Jadilah seperti anak kecil hilangkan prasangka agar tercipta karya-karya kreatif. 

Bagian dalam dari bukunya Wahyu Aditya 


Sejatinya keterbatasan adalah lahan subur dimana benih-benih kreativitas tumbu dan terus tumbuh. Tanpa adanya tantangan berupa batasan, kreativitas seperti enggan untuk muncul (halaman 112).

Keterbatasan melahirkan tantangan, menimbulkan reaksi untuk untuk melatih otot-otot pikiran kreatif. Dan kita didorong untuk melihat sesuatu dengan cara baru. 

WA mencontohkan seorang seniman lukis dengan keterbatasannya mampu menghasilkan karya berkualitas dunia. Phil Hansen di vonis dokter ada saraf yang tidak dapat disembuhkan ini yang membuat tangannya selalu gemetaran. Siapa sangka setelah bersahabat dengan keterbatasan, karya luarbiasa dapat tercipta (apakah ini kasus khusus atau memang bisa untuk semua orang? ) 

Menarik kreatifiitas yang ditampilkan WA, beberapa jaket almamater ia kritisi penampilan sekaligus mencoba memberikan solusi nyata, bahkan berhasil ia realisasikan untuk seragam sekolah dulu tempat  ia menimba ilmu. 

Atau dilain sisi ia mencoba menawarkan sisi kreativitas uang humanis mengenai logo-logo yang ada di negara kita di bandingkan dengan negara-negara yang pernah ia singgahi.

Lalu bagaimana dengan sesesorang yang memiliki sifat introvert (pendiam), kita harus paham terlebih dahulu bahwa introvert tidak dapat bersosialisasi. Ini hanya permasalahan tentang bagaimana seseorang merespon sebuah rangsangan atau stimulasi. Beberapa pemimpin introvert yang berhasil adalah Ghandhi, Eleano Roosevelt.

Disini saya mulai menyimpulkan WA, kumpulan perjalanan, bacaan, pengalaman, tontonan hingga sharing bersama teman menjadikan ia pribadi yang berkualitas. 

Disatu sisi, ia sepaham bahwa benar seseorang harus diajarkan untuk dapat bekerja sama, namun tidak dapat dipungkiri kita harus diajarkan untuk bekerja sendirian juga. 

Banyak KutipanMenarik dan Kreatif di Bukunya Wahyu Aditya 

Di bab lainnya, WA menegaskan bahwa kreatif adalah ketika kita mampu untuk mengurai sesuatu yang ada menjadi bentuk baru. Ini juga berhubungan dengan kebudayaan disebuah negara. Di Jepang, berdasarkan pengalamannya, WA melihat sosok karakter aneh dan unik menarik dan laku dijual. Tau ga karakter apaan? TAI / TINJA. Disana membicarakan tinja tidak se-tabu di Jakarta. Dan penciptaan karakter Tai ini ada maksudnya juga seperti untuk anak balita paham untuk mampu membuang kotoran diwaktu dan tempat yang tepat. Sementara di kita, Tinja lebih tepat sebagai umpatan dan tidak memiliki makna positif selain kotoran dan sampah sisa. Masih banyak cerita dan karya kreatif WA lainnya yang ia share. 

Seru dan segar selesai baca bukunya.

Senang bisa berkenalan dan membaca karya kreatif dari Wahyu Aditya..... 

Buku Lainnya 










Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: