Rabu, 14 November 2018

Sebuah Pelajaran Untuk Selalu Terus Bersyukur.

Illustrasi dari pixabay.com
Makan itu dikatakan luarbiasa, kalau menikmati tiga kali dalam sehari, kalau hanya 2 kali sehari itu masuk kategori hebat, kalau satu kali  dalam satu hari masuk golongan sudah biasa. 

Hadeuh, kayaknya berat ya beban hidup guwe, mungkin sebagian dari kita merasa seperti itu, saya juga terkadang tidak luput dihinggapi perasaan serupa. Ya, sebagai manusia lumrah kali diliputi perasaan demikian. Merasa hidup paling menderita ketimbang yang lainnya. Merasa hidup kok seakan-akan tidak adil, saya begini, dia begitu, giliran saya begitu dia malah begini. 

Well, saya baru tadi pagi, ngobrol-ngobrol sambil menyeruput kopi hitam pagi ini, berbincang-bincang kecil dengan seorang anak abegeh yang masih duduk di bangku sekolah kejuruan. Selama ini saya bertanya-tanya didalam hati, kenapa setiap jam makan siang tiba, dia tidak pernah keluar istirahat untuk makan siang atau keluar jajan sesuatu. 

Dan pagi ini sebagian besar pertanyaan saya terjawab sudah, yup, ditemani secangkir kopi dan dua roti yang saya bagi untuk menemani alur cerita yang ia bagikan (hallah, kayak mau masuk intro-intro sedih gmana gitu ya...)






***
Untuk memudahkan cerita kita pagi ini, sebut saja narasumber kali ini BURHAN ya (kayak disurat kabar sebelah tempo dulu kan sering pake inisial itu). Burhan dilahirkan dari keluarga kecil dengan 4 orang saudara. 

Tinggal dirumah petakan yang mampu menampung 7 orang, ia dan ke empat saudara dan kedua orangtua. Beruntung sekarang abang yang pertama sudah pindah ke daerah lain bersama istri dan anaknya. Praktis tinggal mereka berenam. Hmm, kalian bayangkan untuk rumah petakan diisi 6 orang didalamnya. 

Cerita belum berhenti disana, ayah yang bekerja sebagai tulang punggung keluarga harus menghidupi ke 5 anggota keluarga, itu belum termasuk dirinya, sementara sang istri/ibu  tidak bekerja hanya mengurus rumah petakan yang mereka huni. Kalau yang belum tahu, pasti akan menduga, penghasilan si ayah lumayanlah, meskipun tinggal di rumah petakan mampu menghidupi keluarganya. 

Saya sendiri bertanya langsung, berapa sich penghasilan ayahanda selaku kepala keluarga? Siapa sangka jawaban yang diberikan jauh dibawah UMR, iya, penghasilan ayah yang hanya Rp. 600.000,-seminggu, harus dan terpaksa cukup dan dicukup-cukupi untuk kehidupan setiap minggunya.





Lah kalau enam ratus ribu seminggu, berarti kan sebulan itu hanya dua juta empat ratus ribu-an. Burhan sendiri mengatakan dari penghasilan ayah yang segitu itu, ibu harus memutar otak dengan pinjam sana-sini dan diganti akhir pekan ketika upah ayah sudah "cair". Bahkan pernah dari upah ayah perminggu tidak tersisa (seringnya demikian) demi membayar hutang yang sudah lebih dulu dilakukan. 

Memang abang burhan yang nomor 2 sudah bekerja juga sebagai pelayan toko di sebuah pusat belanja grosir terbesar di kawasan Jakarta Timur, berapa besar sich upah sebagai penjaga toko, sementara sebagian upah tersebut sudah juga dialokasikan untuk mencicil pembayaran motor yang digunakan Burhan sehari-hari. Dengan konsekuensi sebelum melaksanakan akfitas setiap harinya Burhan harus mengantar sang abang bekerja dan menjemputnya kembali kala sore datang.

Sementara kakak yang ketiga karena ada kendala fisik, tidak dapat beraktivitas layaknya orang normal. Dan Burhan anak keempat masih sekolah di salah satu sekolah kejuruan dan sang adik masih duduk dibangku sekolah seperti dirinya.

Pfuuf, berbincang dengan Burhan, jadi semakin sadar, kehidupan punya jalannya masing-masing untuk tetap dapat terus bertahan hidup. Mari kita bayangkan sejenak, penghasilan ayahanda yang hanya 2 juta empat ratus perbulan belum dipotong biaya sewa rumah petakan sekitar 1 juta, lalu biaya listrik dan air, belum lagi biaya kebutuhan sehari-hari. Dan mereka tetap dapat bertahan hidup hingga hari ini. 

Memang saya juga sempat bertanya, kan sudah ada motor, kenapa ga ikutan ojol atau narik sekitaran tempat tinggal, yah Burhan hanya menjawab, pikiran saya sama seperti itu awalnya, tetapi sang ibu agak keberatan, dan meminta anak untuk fokus ke sekolah saja.

Alhasil, Burhan sendiri lepas sekolah tidak ada kegiatan yang berarti selain berdiam dirumah, menonton televisi, bermain hape, itu pun masih disyukuri sang ibu dan Burhan sendiri, bahwa ia masih bisa ada dirumah dan sepengetahuan sang ibu, ketimbang harus berada diluar rumah dan tidak jelas kegiatannya.

Memang Burhan dari tampilannya bukan seorang anak muda yang suka gagah-gagahan, petantang-petenteng ga jelas. Kalau waktunya sekolah ia sekolah, kalau waktunya pulang maka bergegas ia pulang, lepas itu tidak ada kegiatan.

Maka dari itu Burhan bertekad kuat, lepas sekolah kejuruan ia sudah harus bekerja, apapun itu dan harus menghasilkan seberapapun itu demi meringankan kedua orang tuanya. Burhan sendiri belum tahu harus bekerja apa dan meminta gaji berapa. Dalam pikiran sederhananya, ia hanya harus bekerja (apapun itu, selama halal ya) dan berapapun gajinya kelak akan ia terima.

Sang ibu pun menasehati juga katanya, nanti kalau sudah bekerja jangan lupa sisihkan penghasilan untuk ditabung buat biaya kuliah, karena sang ibu sadar bahwa ia tidak dapat membiayai sang anak hingga bangku kuliah. 


Ilustrasi dari sumber yang sama dengan diatas 


Kesimpulan Buat Saya Pribadi.
Masih ingatkan beberapa waktu lalu saya sempat juga berbincang dengan abang ojol, dan dapat juga pencerahan dari beliau. Sekarang saya dapat ilmu kehidupan dari anak kemarin sore.

Tak dapat dipungkiri, banyak kisah sukses diluar sana yang dapat kita baca dan memotivasi diri kita. Tetapi berbeda sedikit bro, ketika kita mendengarnya langsung dan melihat dari dekat bahwa kerasnya hidup  akan membuat kita menjadi pribadi yang tangguh dan kuat. Iya kuat, Rambo pernah berujar, "sesuatu yang tidak membunuhmu akan membuatmu semakin kuat."

Pun sama dengan Burhan, yang  notabene hanya makan itu dikatakan luarbiasa, kalau menikmati tiga kali dalam sehari, kalau hanya 2 kali sehari itu masuk kategori hebat, kalau satu kali  dalam satu hari masuk golongan sudah biasa.

Memang dalam urusan sekolah ia terbilang biasa, tidak ada yang menonjol, tetapi ia terus berusaha untuk menjadi pribadi yang baik. Setidaknya dengan tidak melibatkan diri dalam pergaulan yang tidak jelas juntrungannya.

Sempat ia berujar, mungkin roda hidup saya saat ini  berada dibawah, tetapi ia percaya roda kehidupan akan berganti. Semangatnya berjuangnya tidak luntur.

Lalu saya juga teringat anak seorang bos, yang pernah berujar, bahwa untuk urusan kopi-kopi-an saja dan hangout bareng teman, ia dapat menghabiskan hampir 2 kali dari penghasilan ayahanda Burhan.

Dan beruntung saya dapat mendengar langsung dan melihat langsung kontras kehidupan yang tengah berlangsung, sekaligus melatih saya untuk  selalu tetap bersyukur atas kehidupan yang saya jalani dan tengah berlangsung.

Terakhir sebagai penutup, entah kenapa terlintas di kepala saya Serenity Prayer.

God, Grant Me The Serenity To Accept The Things I Cannot Change
Courage To Change The Things I Can And Wisdom To Know The Difference.

Sukses selalu buat bro burhan kedepannya ya... Sukses juga buat kita semua.















Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih