Rabu, 26 September 2018

Menapaki Kisah Hidup Hendrick Koning.



Hendrick Konings menjadi anak yang dipuja disekolah, karena tak hanya pintar ia juga tampan dan berasal dari keluarga yang cukup disegani di Bandoeng. Tubuhnya menjulang tinggi meskipun usianya baru beranjak delapan tahun. 

Hmmm, sepertinya kepintaran dan ketampanan Hendrick banyak berasal dari sang mama, Nina Roux yang pernah tinggal di Kaysersberg,  Prancis. Jadi Kayserberg  adalah sebuah kota kecil di Haut-Rhin. Alsace, Perancis.  Dalam bahasa Perancis penduduk kota ini disebut sebagai Kaysesbergeois / Kayserbergeoises dan dalam bahasa Jerman Kaisersberg yang berarti Gunung Kaisar (wikipedia).

Yang saya suka dari novel ringan karya mba Risa Sarasvati selalu disisipi pesan positif, simak di halaman 43 ketika Hendricks ribut besar dengan orangtuanya dan diam-diam kabur ke rumah tetangga, ga perlu oma rose (si tetangga) tau perihal apa yang diributkan tetapi dengan keheningan yang terjadi ia paham ada yang salah sedang berlangsung hingga ia menasehati Hendricks "suara tawa kalian jarang terdengar lagi, perbaikilah, sayang, manusia bisa pergi kapan saja. Aku tak mau akhirnya kau menyesal karena tak melakukan banyak hal terhadap orang-orang yang ada disekelilingmu."



Novel ringan ini mengaduk perasaan, ketika Hendrick Konings merasakan kebersamaan dan kehangatan keluarga, disitu pula sang papa pergi meninggalkan Hendrick berdua dengan sang mama.





Mungkin pesan diatas adalah pesan terakhir kepada Hendrick sebagai penanda akan kepergiaan sang papa. 

Mereka berdua larut dalam rasa menyalahkan yang dalam atas kepergian sang papa, hingga akhirnya Hans mengingatkan "satu-satunya rasa bersalah yang boleh kaupikirkan adalah rasa bersalah karena tak menghargai dirimu sendiri atas segala hal yang terjadi didalam hidupmu." Halaman 125. 


Emosi yang semakin diaduk 
Lepas halaman diatas, emosi semakin diaduk-aduk. Baca aja sendiri, lebih membawa perasaan bacanya ketimbang kisah Peter yang angkuh. Memang sama angkuhnya tapi ada benang merah perubahan, dan benar perubahan itu sejatinya selalu menyakitkan (bahkan juga untuk yang hanya sekedar membacanya).

Semakin diaduk-aduk bukan :)
Yup, selesai juga membaca kisah Hendrick Konings setebal 246 halaman. Kisah haru biru, mengaduk emosi dengan hasil akhir yang tidak teprediksi hingga saya dipaksa tuntas untuk membaca keseluhuruhan kisahnya.

Happy ending akhirnya, engga juga sih. Kalau gitu sad ending, engga masuk dalam kategori sedih juga. 

Tapi kisah Hendrick tidak sesederhana kisah Peter. Lebih kaya bahkan. Selain berkenalan dengan sosok yang keras kepala dan manja rupanya ada sosok bersahaja didalamnya.

Satu lagi kisah hantu yang inspiratif menurut saya. Risa Sarasvati mengemasnya dengan baik. Salut.

Kalian harus baca buku ini. 



2 komentar:

  1. Waduh... 246 halaman ini berapa hari berapa malam bacanya, mas? Salut de, aku udah lama ga baca novel yang tebal2 begini :) Menohok banget ya kata2nya yang rasa besalah karena ga menghargai diri sendiri...wiiiih, Syedih ini bisa mewek bombay kayaknya. Pinjam dooong bukunya? hihii :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, mba nurul... saya juga dapat pinjaman :)

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih