Jumat, 28 September 2018

Kali ini, menikmati kisah William


Selamat tidur  William, selamat datang dalam kesunyian yang abadi. Hanya kau satu-satunya jiwa mati yang sangat berbahagia atas kematianmu. Hidup yang sesungguhnya dimulai saat kau tak lagi bernafas.

Tepat 2 minggu ini saya menikmati beberapa Karya Risa Saraswati. Tepatnya 3 buah dengan buku William yang ada ditangan saya. Risa menceritakan kisah hantu bukan dari sisi yang biasa kita pahami, seram, gelap, takut dan sejenisnya lah. 

Kalau kalian lahir di era 80-an kalian pasti pernah dengar kisah hantu yang baik hati Casper. Serupa pengemasannya dalam arti menceritakan sisi hantu dari sudut pandang berbeda.

Yang telak perbedaannya buku Risa dengan lainnya, ada kalanya saya diajak untuk mundur menikmati kota kembang Bandoeng tempo dulu, tidak hanya itu saja, pesan moral disisipi dalam setiap kisah yang diceritakan. 

Alih-alih ketakutan dalam membaca setiap karya Risa, yang ada hendak buru-buru menyelesaikannya, menikmati setiap lembaran cerita yang disajikan. Bahkan kadang ikut terhanyut dalam kesedihan dan kepedihan jalan hidup yang harus dilewati. Dan saya benar menikmati setiap detilnya. Ringan kisahnya, sederhana bahasanya dan (kadang-kadang ada juga nuansa sinetronnya, kayak buku yang sedang saya nikmati sekarang ini) ...... so, selanjutnya kalian nikmati sendirilah. 

Menikmati Kisah Willian ditemani secangkir Kopi Hangat 

Dan ini adalah kisah William.
Berbeda dengan Peter dan Hendrick yang belum pernah ke Belanda. William lahir disana dan diajak oleh ayah dan ibunya (yang super duper kaya raya dan dari latar belakang militer juga) untuk merambah ke tanah Hindia Belanda. 

Dan karena kekayaan keluarga mereka, orangtua William terkadang tidak memberikan contoh yang baik terhadap para jongos dan bedinde (jongos wanita kali ya)  yang ada di rumah mereka. Bagian ini yang membuat sedikit jengkel, tapi gimana lagi ya, namanya juga mereka bangsa penjajah dan kita yang terjajah, sukak-sukak merekalah. 

Kalau Peter meskipun ayahnya kejam karena latarbelakang militer, tapi ada sosok si ibu yang berbeda 180 derajat. Dan mencontohkan perlakuan yang baik kepada Peter. Pun dengan Hendricks, karena bukan latar belakang militer tetapi peneliti yang menampilkan kisah yang  berbeda lagi. 

Nah, diawal saja udah kelihatan aura penjajah yang jahat gitu.

Johan Van Kemmen nama ayahnya, merupakan keturunan dari pebisnis kaya di Belanda Nouval Van Kemmen, sementara Maria merupakan anak dari seorang Jenderal besar. Entah kenapa William mengikuti kesederhanaan hidup gaya sang kakek ketimbang hura-hura belanja seperti sang mama. 

Hmmm, benar saja, pengaruh kakek sangat besar dalam kehidupan William kecil. Bahkan kepergiannya ke Hindia Belanda meninggalkan Netherland adalah keinginan ke dua orangtua untuk menjadi lebih kaya lagi dari sebelumnya, padahal mereka tidak terbilang susah ketika hidup di Netherland. 

Satu pesan Nouval (kakek william) yang akan selalu ia ingat "kau tahu, biar bagaimanapun kedua orangtuamu adalah manusia. Dan yang harus kau tahu, manusia selalu dipenuhi mimpi, juga ketidakpuasan. Tak ada yang salah dengan mengejar mimpi. Kau adalah bagian dari mimpi mereka. Ikutlah mimpi mereka, William. Tak perlu takut meninggalkanku, dimanapun kau berada... aku selalu ada, melihatmu mengejar mimpi-mimpi itu bersama mereka. Namamu selalu ada di dalam setiap doaku."


Terlahir sebagai anak yang memiliki kebaikan hati berlebih terkadang membuat ia bertanya kepada Tuhan. Apakah Tuhan tidak salah menempatkan ia di tengah keluarganya. Hingga akhirnya Will bertemu dengan wali kelasnya dan mendapatkan pencerahan, "Tuhan sedang menjadikanmu petunjuk bagi kedua orang tuamu agar tidak terus terbelenggi dalam sikap buruk. Kau pasti bisa menjadi lentera bagi kedua orang tuamu. Suatu saat, masa itu akan datang, William, bersabarlah."

"Jika boleh memilih lebih baik aku terlahir miskin, hidup ditengag keluarga yang pas-pasan tapi saling memiliki satu sama lain. Mereka memiliki  aku sebagai anak mereka tetapi aku tak bisa apa-apa seolah aku tak punya hak yang sama untuk merasa memiliki mereka." William.

Semakin mendekati akhir cerita kok semakin terasa bertele-tele dan mulai berasa bosan (awalnya). Secara alur William udah mulai berasa "sinetronnya" bagaimana sang ibu yang semakin membenci Will, serupa dengan Hendrick, Will berusaha berbuat sesuai yang ibunya inginkan. Apapun itu, sampai bertingkah arogan dan sombong (dan hal ini terlihat baik dimata sang ibu) kepada anak-anak inlader (sebutan untuk pribumi). Yang bagian ini ia akhirnya menyesal dan mencari sahabatnya Toto untuk meminta maaf atas perlakuan kasarnya, meskipun tidak menemukannya seorang sahabat lainnya berpesan kepadanya. 

Pesan Sahabat William 


Sementara sang ayah yang begitu sangat mencintai sang istri tidak dapat berbuat banyak atas perlakuan keras sang istri kepada anak semata wayang. Hingga ada sebuah moment muncul memaksanya tegas terhadap istrinya.

Dalam hempasan rasa yang turun naik bak roller coaster, William harus bertahan untuk menampilkan terbaik yang dilihat orang meskipun remuk didalam demi menjaga citra sang mama. 

Beruntung Tuhan masih baik kepadanya, mengirimkan seorang guru sekaligus walikelas yang mau menjadi sahabatnya dan tetap membimbing Will menjadi pribadi yang baik dan kuat.

Pesannya "tetap jaga mimpi-mimpimu jangan biarkan kabur. Hanya mimpi yang dapat membuat manusia hidup. Bahkan mungkin jika sudah tidak hidup lagi kelak, menjaga mimpi adalah hal paling mungkin dilakukan untuk membuat yang telah mati menjadi hidup kembali."

Dan pertentangan batin yang kerap terjado semakin membuat runcing hubungan keluarga kecil ini. Hingga kedatangan Nippon (baca : Jepang) ke Batavia yang kabarnya akan mengusir kaum kolonoial kembali kr tanahnya. Hal ini pun tidak membuat Johan dan Maria surut dan ikut kembali ke Netherland seperti yang dilakukan teman mereka lainnya. Bahkan sang kakek beberapa kali menyurati untuk kembali karena keadaan semakin panas. 


Mungkin ini yang dinamakan garis hidup sudah ditentukan, jalan sudah ditetapkan hanya tinggal menjalaninya saja. 

Keberadaan bangsa Jepang hadir di Bandoeng dan ketika sdmua sudah menjadi kacau tidak ada tempat untuk berlari atau bahkan sejenak bersembunyi. 

Dibalik ujung kepanikan ini sikap Will semakin menjadi melihat kelakuan sang mama yang semakin miris.

"Kau tahu, aku diam bukan berarti bodoh. Aku diam bukan berarti tak bisa melawan. Dengar Maria (kemarahan Will memuncak hingga memanggil sang mama pun hanya dengan namanya saja) kau sangat membuatku muak! Keputusanmu banyak menjerumuskan hidupku semakin kacau. Jika memang tak menganggapku sebagai anakmu mengapa kau mengatur hidupku seenak hayimu? Jika boleh meminta kepada Tuhan aku juga tak akan meminta lahir dikeluarga ini. Keluarga yang tak pernah menyadari keberadaanku. Dengar Maria, wanita tua yang tadi kau bilang jelek. Aku akan berkata jujur, sesungguhnya  wajahnya jauh lebih cantik daripada dirimu. Hatinya bersih, tak kotor sepertimu. Jiwamu yang selalu jahat dan berpikiran buruk  membuat wajahmu terlihat jelek dan 20 tahun lebih tua. Sekarang minta ampunlah kepada Tuhan atas sikapmu yang selalu arogan. Selamat menikmati sisa hidupmu, Maria." William

Serupa dengan Peter, sabetan bilah pipih itu memisahkan anggota badannya. 

Selamat tidur  William, selamat datang dalam kesunyian yang abadi. Hanya kau satu-satunya jiwa mati yang sangat berbahagia atas kematianmu. Hidup yang sesungguhnya dimulai saat kau tak lagi bernafas.

Hmm, Risa menjelaskan terjawab sudah mengapa sikap Will kepadanya seperti itu. Sosom yang selalu mengingatkan untuk selalu berangkat sekolah. Selalu mengingatkan untuk berbuat baik. 

Dalam kegetiran kisah Peter, Hendrick dan William selalu ada pesan positif yang coba mereka sampaikan. Ada salam kebaikan dari tingkah pongah yang diceritakan, bahkan ada niat tulus ditengah kelicikan dan kejahatan yang dipaparkan. 



Mungkin sejatinya ras manusia akan selalu hadir sosok - sosok seperti mereka, yang menjadi  nila setitik ditengah lautan susu arogansi, kejahatan, kekerasan, ketidak adilan. Hanya saja nila itu tidak mampu merusak lautan susu kejahatan yang sudah mengakar kuat. *Kornelius

Terima kasih William, eehhh Terimakasih Risa sudah menuliskan keluh kesah William. 



6 komentar:

  1. Wah, kata2nya bikin sesak buat yang merasa bersalah nih. Dipikir mungkin betul ya daripada pusing mikirin bagaimana perasaan besalah kita kepada orang lain, mendingan terus berbuat kebaikan tanpa mengharap imbalan. Ikhlas aja gituh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat... dan ilmu ikhlas itu, mudah diucapkan sulit untuk dilaksanakan :)

      Hapus
  2. Risa memang luar biasa (berani) menuliskan kisah Peter dkk.
    Btw, makasih resensiny :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali kasih mba Triani Retno .... Sementara saya lebih lebih menikmati versi bukunya ketimbang filmnya yang menurut saya kurang :(

      Hapus
  3. Alur dan kisah nya semacam tak asing dengan ku. Dalam versi film nya ada, AI (Artificial Intelligence):2001

    Keduanya ini sama2 mengajari kita arti hidup yg sebenarnya. Ketegaran dan kegigihan nya menjalani hidup patut diacungi jempol. Tak peduli seberapa besar cobaan dan masalah yg datang.. Jalani saja. Ini cuma sebentar. Kita juga akan bernasib sama seperti william, akan mengistirahatkan badan ini untuk selamanya jua. Hidup yg sesungguhnya dimulai saat kau tak lagi bernafas. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmm...saya malah belum familliar dengan film AL artificial inteligence :)

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih