Selasa, 11 September 2018

Ketika Surga dan Bumi Berdialog (Resensi Buku : Dunia Cecilia)

Burung BullFinch 

Adam dan Hawa diibaratkan Jostein Gaarder melalui Ariel adalah sosok anak-anak yang dengan sosok kepolosan dan keingintahuan akan semua hal menyebabkan mereka terusir dari taman Eden. 

Mengambil latar belakang suasana Natal yang sayup-sayup syahdu gmana gitu, sebuah keluarga merayakan keajaibannya bersama. Sementara Cecilia kecil yang terbaring sakit, pun berharap sama, akan ada keajaiban Natal kali ini. 

Dan saya jadi tau burung apa itu burung BullFinch, karena Cecilia hendak menjadi seperti burung ini yang bebas terbang kemana saja.

Sejatinya keseluruhan buku Dunia Cecilia adalah percakapan Cecilia kecil  dengan seorang malaikat (sempat ga percaya awalnya Cecil dengan sosok malaikat yang hadir dan mulai bercakap-cakap dengannya). 

Dan unik pembicaraan diantara mereka beberapa yang berhasil  saya kutip. 


Tuhan telah merancang agar anak-anak terus terlahir, dan mereka menemukan sebuah dunia baru. Dengan cara seperti itu Tuhan mengatur supaya penciptaan tidak pernah usai. Tahukah kamu, dunia tercipta kembali setiap seorang anak datang kedunia? Halaman 41. 

Atau adalagi ketika Ariel (malaikat kecil) memberikan penjelasan, banyak manusia membayangkan malaikat seperti ruh tanpa tubuh yang melayang pulang pergi antara bumi dan surga. Sementara yang benar (Ariel menjelaskan) bagi malaikat, manusia adalah mahluk yang maya dan tak konkret. Jika kamu tendang sebongkah batu kakimu akan membentur batu tersebut. Sementara jika ariel yang melakukan hal serupa, ia akan menembus batu tadi. Bagi Ariel batu tadi tak ubahnya seperti kabut. Halaman 75. 

Dunia Cecillia Jostein Gaarder 

Dan hal tadi baru terbukti ketika Cecil mengajak Ariel untuk merasakan dinginnya salju. Cecil sadar betapa sulit bagi Ariel untuk memahami hal-hal duniawi  sama seperti kita sulit untuk memahami hal-hal surgawi.

Bahwa percakapan mereka memudahkan saya pribadi untuk menyadari proses penciptaan manusia. Ga kepikiran aja bahwa Adam dan Hawa diibaratkan Jostein Gaarder melalui Ariel adalah sosok anak-anak yang dengan sosok kepolosan dan keingintahuan akan semua hal menyebabkan mereka terusir dari taman Eden. 

Dilain halaman saya diajak untuk berkontempelasi  bahwa setiap keping mata adalah sekeping kecil misteri Ilahi. Penglihatan adalah pertemuan antara benda dan pikiran, mata adalah gerbang agung antara matahari dan pikiran. Mata manusia adalah cermin sisi kreatif dari kesadaran Tuhan bertemu muka dengan diriNya sendiri dalam ranah ciptaan. Halaman 99.

Bahkan Cecil sempat berujar, bahwa pastinya Ariel pernah jadi Pendeta, kalau tidak perkataannya dapat dikatakan bid'ah. Dan Ariel menyahut, bahwa mereka (malaikat) tidak terlalu tertarik dengan hal-hal semacam itu (agama) disurga. Disana mereka selalu menyadari bahwa alam semesta adalah teka-teki akbar. Dan jika sesuatu adalah teka-teki maka kamu tentu boleh sedikit menerka. Halaman 101.

Jadi mereka berdua semacam bertukar informasi, bagaimana rasa menjadi malaikat dari sisi Ariel dan sebaliknya bagaimana rasa menjadi manusia dari sisi Cecilia. 

Para malaikat disurga tidak dapat memahami bagaimana mahluk darah dan daging (sebutan untuk manusia) mendapatkan berbagai kemampuan seperti mendengar, merasakan, bernyanyi, bermain musik dan memanfaatkan semua itu. Disini peran Cecilia sebagai manusia menjelaskan ke lima panca indera kepada Ariel. 

Santorini
Disela-sela kisah mereka terselip keindahan Gunung Vulkanik Santorini. Santorini sendiri merupakan kelompok bundar pulau gunung berapi di laut Aegea. Terletak 200 km dari daratan Yunani, pulau ini merupakan kelompok kepulauan Cyclades. Dengan luas wilayah 73 km dan populasi 13.600 jiwa pada tahun 2011. Pulau yang dikenal dengan sektor pariwisata dan industri wine-nya. Santorini juga memiliki beberapa situs bersejarah dan dulunya merupakan salah satu pusat peradaban yang penting. Hmmm, semoga suatu saat bisa mellihat langsung keindahannya seperti gambar yang saya peroleh dibawah ini (AMIN),


Santorini (Sumber Wikipedia)

***
Dibab lainnya, Ariel berujar, malaikat tak berpikir karena malaikat tak diizinkan berdusta. Malaikat tak perlu menimbang-nimbang untuk menemukan jawaban. Semua yang kami tahu dan semua yang bisa kami tahu tampak dihadapan kami secara serentak. Tuhan mengizinkan sekeping amat kecil dari rahasia akbarNya tapi tidak semuanya. Jadi kami (malaikat) harus diam tentang segala sesuatu yang tidak kami pahami, Halaman 137. Berbeda dengan manusia yang sepanjang waktu selalu berusaha tahu lebih banyak hal. Orang pintar banyak mendapatkan nobel berkat penemuan mereka.

Ketika sudah mendekati kesimpulan, Ariel berujar, dalam pikiran manusia, mereka dapat melakukan semua hal yang bisa dilakukan malaikat dengan tubuh mereka. Saat kita bermimpi atau berimajinasi kita dapat melakukan didalam kepalamu semua hal yang bisa dilakukan malaikat diseluruh alam semesta. 

Dan saat kita bermimpi, tidak ada yang dapat menyakiti kita. Kita sama amannya dengan malaikat disurga. Semua yang kita alami hanyalah kesadaran dan kita sedang tidak menggunakan panca indera (bagian ini harus baca pelan-pelan, agak ribet soalnya).

Dan Cecil mendapatkan pencerahan, sebuah jawaban sederhana mengapa manusia harus tidur.  Karena didalam tidur kita bisa mendapatkan sebuah mimpi, supaya kita bisa meninggalkan sejenak keadaan kita sehari-hari. Banyak orang amat menderita sehingga mungkin mereka sudah mati karena kesedihan seandainya saja mereka tidak memimpikan sesuatu yang indah disela-sela penderitaan mereka.

Dan saya sendiri belum mengetahui seberapa parah sakitnya Cecilia ini? Atau ada halaman terlewat yang belum dibaca kali ya?

Dan sampai juga ke pertanyaan final Cecilia, dimanakah surga itu? Tak seorang astronout pun pernah melihat Tuhan atau malaikat. 

Ini serupa dengan seorang ahli bedah yang belum pernah menemukan pikiran didalam otak manusia. Dan tidak ada seorang psikolog manapun pernah melihat mimpi orang lain. Ini berarti pikiran dan mimpi tak benar-benar ada dalam kepala manusia. 

Tuhan menciptakan alam semesta dengan alasan tertentu. Bedanya malaikat dengan manusia adalah keberadaanya. Malaikat karena tidak dapat terbakar dan membeku mereka dapat tinggal dimana saja diruang angkasa. Akan berbeda halnya dengan manusia, hanya bumi tempat yang cocok untuk ditinggali. Semua tempat lain dialam semesta terlalu panas dan terlalu dingin untuk mahluk yang memiliki darah dan daging seperti kita. 

Tau ga, ketika Neil Armstrong sampai ke bulan untuk pertama kalinya. Padahal banyak malaikat disana yang melihat dan menantikannya hanya saja mereka tidak melihatnya. Lucu aja, merasa merekalah yang sendirian sampai dibulan. Bahkan ada ucapan Neil yang terkenal hingga sekarang "satu langkah kecil seorang manusia, sebuah lompatan besar bagi seluruh umat manusia."

Bahkan bagi Ariel yang menyenangkan itu berada diatas komet halley, seperti berada di roller coaster. Atau ia juga pernah bermain lompat-lompat dari satu asteroid ke asteroid lainnya. Hmmm, imajinasi saya diajak keluar dari sebuah kebiasaan berfikir pada umumnya.

Tertampar itu ketika dihadapkan pada salah satu perkataan Ariel dihalaman  163,  'jika Tuhan menciptakan seluruh alam semesta ini hanya untuk menunjukkan kekuasanNya pastilah Dia sangat egois." Sebab ada 100 milliar galaksi dialam semesta dan setiap galaksi memiliki 100 milliar matahari. Jadi jika kita hanya bisa menebak berapa jumlah planet dan bulan, bagiamana dengan jumlah asteroid.


***
Semakin cerdas pertanyaan yang diajukan Cecil, banyak orang bilang kami akan pergi ke surga setelah kami mati, benarkah? 

Dan Ariel menegaskan, bahwa kalian (manusia) sekarang sudah berada didalam surga. 

Cecil makin ga ngerti, sebab pada dasarnya ia ingin juga merasakan yang Ariel rasakan, bermain lompat-lompatan antar asteroid dan merasakan hidup yang abadi. 

Tak ada yang punya kehidupan yang abadi, termasuk malaikat. Karena malaikat pada dasarnya tidak hidup. .

Cecilia pun berujar, kalau mimpi itu indah dan berlangsung selama-lamanya, ia rasa ia akan lebih memilih mimpi. 




Dan Ariel membalas bijak, setelah Cecil bertanya apa pilihannya, menjadi abadi dan hidup seperti malaikat atau sebagai manusia? Bijaknya adalah baik ia dan ariel tidak dapat memilih jadi ga ada gunanya di bicarakan.  Pastinya akan lebih baik mendapat satu kesempatan menyaksikan alam semeata ini ketimbang tidak mengalami apapun . Bahkan segala sesuatu yang belum diciptakan tak punya hak menuntut untuk diciptakan. 

Cecilia tidak kalah akal, dan berujar, tapi mungkin mereka lebih suka tidak diciptakan ketimbang hidup hanya sebentar. Jika tidak diciptakan mereka tidak akan kehilangan apa-apa. 

Lalu bagaimana kehidupan sesudah kematian, kembali berulang pertanyaan ini. Alam semesta maupun surga adalah misteri akbar yang tidak bisa dipahami manusia dibumi ataupun malaikat disurga. 

Lalu apakah Ariel sudah pernah bertemu dengan Tuhan? Ia pun menjawab, bahwa ia sekarang sedang bertatap muka dengan sepotong kecil diri-Nya, sama artinya aku melihat dan berbicara dengan Dia. 

Dan yang ekstrem menurur saya adalah ketika Ariel berujar, saat kita mengeluh Tuhan itu bodoh mungkin sebenarnya Tuhan sedang menuduh diri-Nya sendiri bodoh. Kalau yang kristen pastinya masih ingat kisah ketika Yesus disalib. Bahkan Ia berseru, Tuhan,Tuhan mengapa Engkau meninggalkanku? Hmmm, bingung ga kalian?

Ada sebuah kecacatan dalam sebuah rancangan agung yang terjadi. 

Dan kita tidak bisa menyelami lebih dalam lagi darah dan daging. Karena darah dan daging hanyalah sebuah kolam dangkal.  Darah dan daging tidak lebih dari tanah dan air. Tapi Tuhan telah meniupkan sebagian ruhNya kedalam diri manusia. Karena itulah ada bagian dirimu yang bersifat Ilahiah. 

Endingnya yang bikin perut bergolak, ketika semua duduk mengitari Cecilia, sementara Cecil merasa semakin sembuh atau keinginan sembuhnya semakin kuat. Sementara aura suram semakin muncul diantara papa, mama, kakek, nenek dan Lars (adiknya Cecil). 

Terakhir bintang pohon natal yang hilang itu sudah berhasil ditemukan. Dan boneka kupu-kupu demam diberikan kepada sahabatnya. Hingga tiba waktunya, Cecil tidak perlu digendong Ariel untuk dapat terbang melayang. Ia sudah dapat merasakan dirinya terbang melayang, meskipun ada rasa geli di perutnya. Tapi rasa itu akan hilang dengan sendirinya. Dan ia pun takjub sebab saat itu ia dan Ariel duduk di samping jendela memandangi Cecilia yang sedang tertidur lelap dan mengagumi kecantikannya. 

Bahkan Cecil terlihat lebih cantik ketika sudah bersama Ariel di keabadian yang tidak abadi. Sebab tidak ada yang abadi bahkan dikeabadian itu sendiri,  bukan. Dan harapan terbang seperti burung Bullfinch pun menjadi sebuah kenyataan. 

Judul Buku : Dunia Cecilia 
Judul Asli : Through A Glass, Darkly
Penerbit : PT. Mizan Pustaka
Pengarang : Jostein Gaarder
ISBN : 978979433865
Tebal : 209 Halaman 
Harga : Rp 25.000,- s/d Rp. 40.000,-


2 komentar:

  1. Tidak ada yang abadi di alam fana ini..... Menarik ulasan tentang kehidupan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya po sobari...ga ada yg abadi... buku ini membahas filsafat secara ringan

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih