Kamis, 21 Desember 2017

Menikmati Delapan Sisi

Cover Depan Delapan Sisi 

Sedih dan miris, kisah baik berakhir tragis. Orang berkualitas tetapi melampaui batas.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan buku setebal 170 Halaman, Delapan Sisi adalah buku yang merupakan karya perdana lulusan akademi bercerita Plotpoint. Cetakan pertama buku ini tahun 2013 bulan Juni.

Kalau membaca sekilas sampai selesai, memang sedikit bingung, ini ceritanya saling terkait atau terpisah ya. Tapi merujuk ke sinopsis di halaman belakang jelas terbaca,

Seorang remaja yang harus memilih diantara cinta dan masa depan, seorang ibu yang harus memilih untuk menuruti tuntutan sosial atau tuntutan anak kandungnya, seorang pengasuh yang harus memilih satu dari puluhan anak yang diasuhnya atau seorang bapak yang menghadapi pilihan untuk percaya pada mimpi atau pragmatis saja.

Dan seorang dokter yang harus memilih untuk setia pada janji atau setia pada diri, seorang pendidik yang harus memilih untuk tutup mata atau menghadapi kesalahannya, seorang mertua harus memilih kebahagiaan dirinya atau anak menantunya. Terakhir ditutup dengan seorang istri yang dihadapkan pada pilihan cintanya pada suami atau anaknya.

Delapan Sisi menampilkan 8 bab dengan masing-masing judul penamaan tokohnya. Bab pertama kita akan berkenalan dengan Rini, anak dari seorang ibu miskin yang bernama Yani, yang sedari kecil sudah akrab dengan perjuangan dan kerasnya hidup. Rini yang beranjak dewasa berkenalan (di dunia maya) dengan seorang pria dan pergaulan bebas membawanya kearah yang salah. Usia dini sudah berkenalan dengan aborsi (cerita sudah dimulai dan berkenalan dr. Urip).

Beranjak ke bab berikutnya Surti, seting tempat ada ditahun 1965 Yogyakarta, tempat para pelarian PKI yang takut tertangkap oleh aparat pemerintah. Lepas dari tokoh Rini, sekarang beralih ke Antok dan Surti dengan 2 orang anaknya Rahma dan Rahmi. Hingga ada sebuah peristiwa yang membuat Surti memutuskan meninggalkan Antok (sang suami) demi bertahan hidup dengan Rahma. Dunia gelap malam pun berkenalan dengan ibu 2 anak ini. Dan menyisakan sebuah kisah baru untuk masa depan yang kelam.

Di Bab ke tiga Lastri, cerita beralih ke sebuah panti yang menampung anak-anak terbuang kisah Sugeng kecil dimulai. Sugeng yang terkenal karena kejahilan terhadap sesama teman panti, tiba-tiba di hari ulang tahunnya harus meninggalkan teman-temannya tanpa sempat berpamitan demi masa depan kelangsungan panti.

Kisah Mujis dibab empat dari Delapan sisi, sedikit melenceng keluar, tapi masih dalam rel cerita. Mujis seorang guru yang sekaligus penarik becak disekitaran dr. Urip praktek. Karena penghangsilan guru tidak cukup menghidupi keluarganya, penarik becak dijadikan sebagai alternatif tambahan meskipun tahu ada yang salah dengan tempat praktek dimana sering ia mengantarkan pasien yang berobat.

Salah Satu Halaman dari Delapan Sisi


Dalam Bab berikutnya, kisah Urip sudah mulai diceritakan, seorang dokter muda yang dibesarkan dengan orangtua angkat. Dengan ekonomi yang cukup diawal hingga jatuh miskin (karena ditipu rekan bisnis) keluarga Wicaksono berhasil mendidik Urip hingga ke jenjang kuliah kedokteran.

Yang unik, awalnya Sugeng sempat ragu dengan keluarga yang  mengadopsinya, tetapi setelah ayah angkatnya memainkan lagu di piano, moonlight sonata, sugeng sempat berpikir “ngga mungkinlah orang jahat memainkan nada selembut ini” dan itu pula yang memacu Urip untuk bisa memainkan moonlight sonata. (ini dibawah Moonlight Sonata, pilu-pilu gimana gitu)




Dan masih ada beberapa kisah, mulai dari Dosen yang pernah mengajar Urip dibab selanjutnya, ada kesamaan benang merah kehidupan yang dialami. Dan sang dosen sampai pada kesimpulan harus membedakan antara pendidik dengan pengajar. Dibab Iris ini terasa miris, ia yang sebagai dokter dan juga pengajar merasa kecewa berat, terlebih anak dan istrinya telah lebih dahulu meninggalkannya (ini bagian yang perihnya, orang baiknya selalu yang banyak menderita) sebelumnya ia berjuang habis-habisan demi mempertahankan anak dan istrinya dan binggo dua-duanya lenyap seketika. Sementara muridnya berprofesi menggugurkan bayi-bayi yang malang.

Ada lagi kisah gay Thomas dan Leo di bab Jeremy, dan terakhir ditutup dengan manis dengan kisah Fendira dan disini jelas semua terbuka. Sedih dan miris, kisah baik berakhir tragis. Orang berkualitas tetapi melampaui batas.

Oh iya buku ini saya dapatkan di gramedia ketika ada cuci gudang, harganya cuman 12 rebuan..





Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih