Sabtu, 07 Oktober 2017

Menapaki Kisah Hidup Ray (Buku : Rembulan Tenggelam Di Wajahmu)




Kalau Tuhan menginginkannya terjadi, maka sebuah kejadian pasti terjadi, tidak perduli seluruh isi langit bumi bersekutu menggagalkan. Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menginginkannya, maka sebuah kejadian niscaya tidak akan terjadi, tidak perduli seluruh isi langit-bumi bersekutu melaksanakannya.

Setiap buku apapun menceritakan hal berbeda, meninggalkan setiap kenangan akan pengalaman setelah membacanya. Demikian juga setelah membaca Rembulan tenggelam diwajahmu. Sekilas memang dari judulnya agak sedikit “dangdut” gimana gitu (sambil cengir-cengir sendiri inget lagunya Caca Handika yang judulnya Rembulan bersinar lagi.... ).

Tapi terlepas dari judulnya yang menurut saya tidak ear cathing, tetap saja saya memutuskan untuk menjadikannya salah satu koleksi buku perpustakaan pribadi. Dan benar saja, meskipun judulnya sederhana  buku Rembulan Tenggelam d Wajahmu sudah masuk Cetakan ke 33 tepat bulan juni 2017 lalu. Cetakan pertaman sendiri itu 1 Februari 2009. Memang si Tere Liye ini kalau bikin buku kebanyakan ngehits, beberapa yang telah saya baca dan rangkumkan, kalau menurut saya pribadi beliau (tere liye) kaya dalam meramu sebuah rangkaian cerita namun tetap sederhana menyampaikannya kedalam kata-kata.

Untuk buku Rembulan Tenggelam di Wajahmu saya dapatkan ketika mengunjungi Pameran IIBF 2017 lalu, secara sering ke Toko Buku “G” ngga pernah liat buku yang satu ini. Baru kemarin buku terbitan Republika Publishing ini menyasar mata. Tidak penasaran awalnya dengan tampilan warna sampul yang merah sederhana dan judul yang alakadar-nya, setelah membaca sebagian, penasaran dan memutuskan untuk membelinya dan menuntaskannya.


Rembulan Tenggelam Diwajahmu.
Menghabiskan buku setebal 425 halaman perlu waktu seminggu bagi saya, dan ini terbilang cukup lama mengingat kalau baca buku Tere Liye palingan hanya butuh waktu 1-2 hari untuk buku diatas 300 halaman. Tapi entah kenapa buku ini memaksa saya menikmatinya perlahan-lahan.

Yup, daya khayal bercampur ketika membaca Rembulan Tenggelam diwajahmu. Kalau yang lahir di generasi 80 an pastinya kenal dengan film Quantum Leap, ituloh sosok yang dapat berpindah-pindah ke tubuh seseorang melewati ruang dan waktu. Ini pun serupa hanya saja, Ray (tokoh utamanya) melompati ruang dan waktu untuk melihat kehidupannya sendiri.

Kisah dimulai dari kehidupan Rinai seorang anak kecil di salah satu panti asuhan, cerita yang berawal dari pertanyaan, “mengapa saya tidak memiliki ayah dan ibu?”

Langsung layar cerita berubah ke kerasnya kehidupan seorang bocah kecil yang juga sama yatim – piatu, bedanya dia tahu orangtuanya sudah meninggal dalam sebuah kebakaran yang menghanguskan komplek mereka tinggal.

Sama-sama yatim piatu tapi dilahirkan dengan hati yang berbeda. Kisah Rinai akan terjawab diujung cerita sementara kisah Ray-lah yang dikilik Rembulan Tenggelam diwajahmu.

Ray kecil tumbuh dilingkungan panti dengan pengasuh panti yang memiliki karakter kejam dan keras terhadapnya. Yang pada akhirnya menjadikan sosok Ray membangkang dan keras kepala. Kerasnya kehidupan terminal dan jalanan sudah menjadi makanan sehari-hari. Kebencian akan bapak pemilik panti sudah mengakar dan mengurat kedalam hatinya (yang akan dikenangnya sepanjang umurnya kelak).

Dua buku dari pameran kemarin 

Sementara kerasnya kehidupan dipanti tidak menggerus rasa persaudaraan yang tertanam antara Ray dengan Diar. Bahkan untuk kesalahan yang Diar lakukan Ray bersedia menanggung akibatnya (tapi lebih kepada karena kebencian dia kepada pemilik panti). Tapi siapa sangka karena kebodohannya juga yang menyebabkan Diar meregang nyawa.

Tapi siapa juga sangka jalan hidup membawanya ke petualangan selanjutnya, kepergian Diar membuat si pemilik panti sadar akan kesalahannya dan memutuskan untuk membantu keseluruhan pengobatan Ray. Untuk setiap hal dimuka bumi pasti ada alasan, karena Ray (yang ini perwakilan kita sebagai manusia) tidak dapat melihat keseluruhan cerita kehidupan.

Perjalanan kehidupan Ray selanjutnya tidak kalah kerasnya, lepas kehilangan Dias, ia kembali tinggal tapi tidak dipanti tapi dirumah singgah, disini ia beranjak dewasa dan berkenalan dengan orang-orang baik Bang Ape, pemilik rumah singgah, selalu memberikan pesan dan nilai positif. Ray butuh waktu untuk bisa akrab dengan penghuni rumah singgah dan ketika keakraban itu sudah hadir, ada saja yang mengusik ketenangan itu. Sampai ketika ada anak bengal yang mengusik anak rumah singgah, Ray emosi dan kembali manghajar para begundal yang mengusik anak rumah singgah. Memang sich balas dendam terbayarkan tapi dampaknya yang tidak pernah Ray sedikitpun pikir. Bahkan dalam salah satu percakapan dengan Bang Ape dan Ray, bang Ape berpesan “Mungkin untuk urusan ini semua orang akan berpihak kepadamu. Tapi apakah dengan semua orang  memihakmu maka apa yang baru saja kau lakukan bisa dibenarkan? Terkadang pilihan lari dari mereka akan menimbulkan akibat negatif lebih kecill” halaman  125. Tapi Ray belum dapat menerima pesan dari Bang Ape, baginya lari adalah pilihan pengecut.

Dalam hal memberikan pesan positif kepada Ray, bang Ape lah jagonya, halaman 127, “kalian akan tetap menjadi saudara dimanapun berada, kalian sungguh tetap akan menjadi saudara, tidak ada yang akan pergi dari hati. Tidak ada yang akan hilang dari sebuah kenangan. Kalian sunggu akan tetap menjadi saudara.”

Kehidupan panti berantakan bagi Ray, ketika tinggal dirumah singgah keadaan sudah menjadi baik tetapi tetap (sepertinya) kebahagian itu direnggut darinya. Alih-alih untuk membela rumah singgah semuanya hancur berantakan dan untuk semua hal berantakan yang sudah terjadi Ray selalu menyalahkan keadilan Tuhan (saya rasa ini nilai atai norma yang coba tere liye sampaikan). “Ray, kehidupan ini selalu adil, keadilan langit mengambil berbagai bentuk. Meski tidak semua bentuk itu kita kenali, tapi apakah dengan tidak mengenalinya kita bisa berani-beraninya bilang Tuhan tidak adil?” Halaman 172.

Ray rupanya menyimpan sebuah pertanyaan sedari kecil, mengapa orang tuanya meninggal dalam kebakaran dan siapa sebenarnya yang menyebabkan itu semua terjadi. Meskipun pesan bang Ape masih terngiang di kupingnya “Kita bisa menukar banyak hal menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki, lebih abadi. Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan itu sementara. Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian menyakitkan itulah abadi, dan benar kita bisa memilih untuk menerimanya” halaman 212. Tapi tetap saja Ray selalu bersikukuh pendapatnya selalu benar.

Dihalaman selanjutnya ketika Ray diajak kembali melihat masa lalunya, ia diingatkan, Ray kalau Tuhan menginginkannya terjadi, maka sebuah kejadian pasti terjadi, tidak perduli seluruh isi langit bumi bersekutu menggagalkan. Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menginginkannya, maka sebuah kejadian niscaya tidak akan terjadi, tidak perduli seluruh isi langit-bumi bersekutu melaksanakannya. Kejadian buruk itu datang sesuai takdir langit. Hanya ada satu hal yang bisa mencegahnya. Satu hal, sama seperti siklus sebab akibat, berbagi, ya berbagi apa saja dengan orang lain. Tidak juga. Sebenarnya berbagi tidak bisa mencegah secara langsung, tapi dengan berbagi kau akan membuat hatimu damai. Hanya orang-orang dengan hati damailah yang bisa menerima kejadian buruk dengan lega. Sayangnya, apa mau dikata, selama ini kau (Ray) tidak pernah berdamai dengan hatinya.

Dan faktanya Tere dalam bentuk Malaikat Ray bercerita Sayangnya kita selalu menurutkan perasaan. Kita selalu berprasangka buruk dan membiarkan hati yang mengambil alih. Menduga-duga. Tidak puas dengan itu kita membiarkan hati mulai menyalahkan. Dan kemudian tega sekali menjadikan kesalahan orang lain sebagai pembenaran atas tingkah laku keliru kita, Halaman 200.

Sebenarnya inti dari Rembulan Tenggelam di Wajahmu adalah Ray diberikan kesempatan melihat secara keseluruhan proses hidup yang sudah dilewatinya. Ia diberikan 5 pertanyaan yang untuk kesemuan jawabannya Ray sendiri melihat proses itu (tapi pada saat proses itu berlangsung ia tidak berbuat apa-apa, ketika ia melihatnya dan hendak berbuat sesuatu, Ray tidak bisa, karena ia hanya diijinkan mellihatnya saja).

Ilustrasi 


*** 
Kalau saya sempat bertanya sebenarnya, hubungannya dengan judul Rembulan Tenggelam di Wajahmu apa ya? Hmm, ini terkait dengan kesukaan Ray menatap rembulan dari ketinggian dan menekuri keindahannya dan masih berterimakasih kepada Tuhan untuk keindahannya yang dihadirkan.

Terakhir pertanyaan saya terjawab juga ketika kaitannya Ray dengan Rinai, ada loh dimuka bumi dengan masalah yang serupa (hampir mirip bahkan lebih susah) tapi penerimaan akan keadaan itu berbeda dengan yang lainnya.

Kalau saya bilang sich, yang cocok baca novel ini adalah orang-orang yang sedang dirundung kekecewaan mendalam atau orang –orang yang kurang mensyukuri indahnya sebenarnya  kehidupan ini atau memang orang-orang yang sukanya baca buku (seperti sayah, halllah).

Baiknya sich kalian baca isi Novel ini secara keseluruhan biar tuntas, pastinya kalau jadi Ray akan mengangguk-anggukan kepala sendiri (tanda persetujuan), banyak hal  terjadi kalau diselami saat itu pasti sulit untuk dimengerti tapi kalau dillihat secara keseleruhan baru mengerti.

Perjalanan hidup Ray, sianak panti bengal, yang  beranjak baik lalu hancur lagi hingga berada diujung tangga kesuksesan dan ketika mengetahui semua hal yang terjadi dan menyaksikan secara langsung. Bahkan tanpa disadari ia juga merupakan peenyebab untuk kejadian lainnya.

Lalu bagaimana sebenarnya kehidupan Ray? Rumah tangganya? Siapa nama anaknya? Atau siapa keluarganya?

Setelah Ray sukses meniti karir dari nol, beranjak besar ketika mengetahui siapa-siapa saja yang jahat dan yang baik?


Semacam menemukan serpihan filosofi sederhana dalam bentuk sebuah novel ya.

2 komentar:

  1. Kayaknya novelnya bagus ya.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau karya tere liye memang sudah terbukti karyanya bagus dan mudah untuk dinikmati.

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih