Senin, 27 Maret 2017

Kisah Jim yang membuat dongengnya (Resensi : Kisah Sang Penandai)






Kisah Jim berlanjut dengan berlayar bersama Armada Terapung menuju Tanah Harapan. Iya, dimana tanah yang belum pernah dikunjungi manusia benua lain. Siapa sangka perjalanan Jim rupanya bertemu dengan pembuat dongeng lainnya yang dipandu sang penandai juga.


Ada sahabat yang juga gemar membaca buku mengutarakan bahwa hampir sebagian besar karya Tere membuat Baper (bawa perasaan). Kalau menikmati karya Tere secara berlebihan pastinya akan seperti itu. 

Dan memang dari judulnya saja kalau disimak sudah pasti akan bikin baper, sebut saja Aku, Kau dan Sepucuk Angpao Merah atau Tentang Kamu. Tapi coba simak juga Negeri di Ujung Tanduk atau Negeri Para Bedebah, pasti akan sedikit merubah persepsi kalian. 

Seperti bukunya mas Tere yang saya beli di Gramedia Matraman, bukan tertarik dengan judulnya (yang menurut saya tidak eksotis) atau desain sampulnya (untuk edisi yang saya pegang masih terasa kesan jadulnya).

Lalu pastinya kalian akan bertanya kenapa memilih buku ini? Tau kenapa? Saya hanya melihat halaman testimoni yang membaca, salah satunya adalah wartawan kompas Budiarto Shambazy yang menyatakan Tere Liye berhasil membawa khayal kita ke dunia antah berantah yang penuh kejutan. Atau seorang pengamat ekonomi Faisal Basri menuturkan, saya seumur-umur belum pernah membaca novel sampai habis. Novel yang menakjubkan! Sungguh novel ini sangat menyenangkan hingga ke akhir cerita, jauh dari membosankan dan tidak cengeng.


Entah mereka diberikan buku lalu memberikan kesan setelah membacanya atau mereka secara sukarela membeli sendiri (seperti saya) dan memberikan kesan, hanya mereka dan mas Tere yang tahu.

Menarik bukan sekelas mereka memberikan kesan positif dan apresiasi terhadap Kisah Sang Penandai.Entah nanti isinya menarik atau tidak setidaknya buat saya pribadi, membaca sudah menjadi sebuah kewajiban. Dan ada kenikmatan ketika berusaha menceritakannya kembali.

Berikut kisahnya, Kisah Sang Penandai.
Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya, halaman 29. 

Kata-kata diatas yang menjadi pengingat sepanjang perjalanan hidup Jim. Diceritakan diawal cerita Jim pemuda tanggung yang kehidupannya biasa saja. Dan berubah 180 derajat ketika bertemu Nayla. Seorang gadis yang datang dari keturunan bukan biasa-biasa saja. Cinta mereka berpaut, sayang alam semesta dan keluarga tidak mendukung. Nayla mengambil jalan pintas, ketimbang dijodohkan dengan pria lain selain Jim, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Sementara Jim yang masih kaget dengan cepatnya kejadian itu bimbang, mengikuti jejak Nayla ia tidak punya nyali. 

Hingga datanglah Sang Penandai, sosok misterius yang kedatangannya disertai ribuan capung. Pesan diatas jelas diucapkannya. Jim harus pergi dan membuat cerita dongengnya sendiri. Siapa sangka waktu berkejaran. Suku beduin yang diutus keluarga Nayla menginginkan kematin Jim juga. 

Saya jadi kenalan juga dengan suku beduin, salah satu terkejam. Apa sih suku Beduin itu? Informasi dari Wikipedia menjelaskan bahwa Suku Badui atau Badawi (بدوي) atau Bedouin (/ˈbɛdᵿ.ɪn/) adalah sebuah suku pengembara yang ada di Jazirah Arab.  Sebagaimana suku-suku pengembara lainnya, suku Badui berpindah dari satu tempat ke tempat lain sembari menggembalakan kambing.

SUmber Foto archief.wereldomroep.nl

Suku Badui merupakan salah satu dari suku asli di Arab. Perawakan suku Badui yang khas menyebabkan suku ini dapat langsung dikenali. Perawakannya sebagaimana ditulis dalam buku-buku sejarah Arab: suku ini berperawakan tinggi, dengan hidung mancung. Lain halnya dengan suku pendatang yang ada di Arab, suku Badui tetap mempertahankan budaya dan cara hidup mengembara. Berbeda dengan yang diceritakan di Kisah sang Penandai, suku Beduin terkenal sadis dan garang.

Mengutip merdeka.com tahun 2012 Suku Beduin yang mendiami daerah Semenanjung Sinai kerap merampok dan menculik para pelancong dan membuat daerah itu tidak aman. Mereka melakukan itu sebagai tekanan kepada pemerintah setempat lantaran wilayah itu miskin dan seakan mereka tidak diperhatikan. Februari lalu, dua turis asal Amerika diculik di wilayah sama. Kalau yang ini agak mirip sedikitlah sama konsep ceritanya Sang Penandai.

Tapi tenang, Sang Penandai demi menolong Jim menorehkan dongengnya. Suku Beduin bukan tandingan sang penandai.

Tahukah kalian di kota tempat tinggal Jim yang terkenal dengan kota seribu jam. Setiap tanggal tujuh di bulan tujuh akan berdentang tujuh kali di pukul tujuh demi mengingat sebuah kisah perpisahan 200 tahun sebelum sekarang.

Buku Kisah Sang Penandai sendiri sudah masuk cetak ulang yang ke 9 tahun 2016 Nopember lalu dengan cetakan pertama di tahun 2011 bulan Juli. Covernya bernuansa gelap dengan latar perahu besar dan dua sosok diatasnya. Kalau istri saya melihat covernya saja tidak tertarik.

Hanya butuh waktu 2 hari menyelesaikan buku 293 halaman yang dibanderol seharga Rp. 55.000, -. 

Kisah Jim berlanjut dengan berlayar bersama Armada Terapung menuju Tanah Harapan. Iya, dimana tanah yang belum pernah dikunjungi manusia benua lain. Siapa sangka perjalanan Jim rupanya bertemu dengan pembuat dongeng lainnya yang dipandu sang penandai juga.

Persahabatan Jim dengan Pate terjalin kuat lepas setelah menjadi kelasi Armada Terapung. Dibawah komando Laksamana Ramirez mereka berdua menjadi sosok tangguh.

Siapa sangka yang awalnya sebutan Jim adalah kelasi yang menangis (karena awal naik kapal kerjanya hanya menangis terus) berubah menjadi Jim yang tangguh dan pandai memainkan pedang dan terpilih juga sebagi wakil Laksamana tapi tetap saja nama yang disematkan adalah wakil laksamana yang menangis.

Dalam sebuah percakapan antara laksamana dengan Jim terungkap bahwa "Tapi yang amat penting bagimu dan juga kau adalah kita memang tidak pernah tahu kekuasaan apa saja yang ada diatas dunia ini, apalagi kekuasaan yang ada dilangit." Halaman 117  ketika Jim mencari tahu siapa sosok laksamana sebenarnya yang disebut Pate adalah sosok terpilih.

Lalu siapa penandai itu? Dia adalah yang mengukir dongeng melalui orang-orang yang dipilihnya. Menggurat dongeng yang dibutuhkan oleh dunia. Memberikan pengharapan bagi yang mendengarnya, janji kebaikan selalu memang, kejahatan selalu kalah. Pesannya adalah jangan pernah berhenti bermimpi, agar kehidupan berjalan jauh lebih baik. 

Masalahnya yang muncul kemudian adalah semakin lama orang-orang semakin disibukkan dengan akal sehat dan rasio. Dikalahkan oleh rutinitas dan ketakutan akan hidup itu sendiri. Dibutakan oleh batasan-batasan sesuatu yang masuk akal dan tidak masuk akal. Maka hilanglah kepercayaan atas dongeng-dongeng itu. Halaman 258.

Menjelang halaman akhir ada kebijaksanaan terungkap, kita tidak akan pernah bisa berdamai dengan masa lalu jika kita memulainya dengan memaafkan diri sendiri. Kita harus mulai memaafkan semua kejadian yang telah terjadi. Tidak ada yang patut disalahkan. 

Dalam kasus Jim, semua hal terjadi bukan semata kesalahan orang tua Nayla, pemburu suku Beduin atau pemilik semesta alam yang menakdirkan segalanya. Jim harus memulainya dengan tidak menyalahkan dirinya sendiri. 

Biasalah Tereliye selalu memberikan pesan positif kepada pembacanya. Meskipun nanti diujung cerita kembali kisah dongeng itu yang terjadi.

Jim sendiri berjuang keras menciptakan dongengnya sendiri, bahkan ia memutuskan untuk terus lanjut berjuang. Setidaknya dua kali ia bertemu dengan sosok yang menarik hatinya, bahkan terakhir Jim bertemu dengan sosok yang persis serupa dengan Nayla. Bimbang kembali menerpa, apakah terus lanjut ke Tanah Harapan atau berhenti dan selesai?

Ada lagi cerita menarik dan tegang ketika armada Kota Terapung harus berhadapan dengan perampok atau bertemu dengan kura-kura raksasa yang akhirnya sepakat hingga hari ini, para pelaut tidak boleh menangkap kura-kura di laut.

Seru dan menghibur sich secara keseluruhan juga ringan banget.. 

Selamat membaca :) 







4 komentar:

  1. Agak beda ya dengan cerita roman ala Tere Liye macam Daun yang Jatuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba nita yang ini beda dengan daun yang jatuh

      Hapus
  2. masih ada gak ya buku nya kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku ini tergolong buku baru dan laris..jadi masih tersedia banyak di gramedia terdekat mba elina :)

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih