Sabtu, 18 Maret 2017

Ini kisah Borno Bujang Berhati Lurus Sepanjang Kapuas (Kau, Aku dan Sepucuk Angpao Merah).





Pertemuan yang membuat jalan cerita semakin rumit dan menarik sedikit. Borno harus mengatur siasat agar dapat bertemu dengan Mei setiap harinya. Berawal dari sepucuk angpao yang tertinggal.

Yess, akhirnya baca lagi karya mas Tereliye. Yup kali ini akan saya bahas buku Aku, Kau dan sepucuk Angpao Merah. Kalau sudah terbiasa dengan karya beliau sedikit gagap juga baca yang lain. 

Tapi baca karya selain mas Tere juga sangat  perlu. Selain menambah wawasan juga penyegaran pastinya.

Ok..ini dia Aku, Kau dan Sepucuk Angpao Merah.

***
Kisah sepanjang Aku, Kau dan Sepucuk Angpao Merah akan berputar sekitar kehidupan Borno sebagai tokoh utama. Borno kecil yang berjuang sebagai anak yang ditinggalkan bapak sedari kecil membuatnya akrab dengan kerasnya kehidupan sungai Kapuas. Sisi positifnya, kerasnya kehidupan tidak merubah Borno menjadi sosok yang keras seturut tempaan jamannya melainkan tetap memiliki hati yang lurus (bahasa kerennya anti main stream).

Kisah bermula ketika sang ayah dipanggil Tuhan, pertemuan itu tanpa sengaja terjadi seolah-olah alam semesta ikut campur tangan. Borno kecil memulai jalan ceritanya,


Pernah kalian diperhatikan seperti tontonan yang menarik? Aku belum, baru kali itu. Aku ikut menatapnya, tetapi dia tetap memperhatikanku dari ujung kaki hingga ujung rambut seperti sedang melihat mahluk dari galaksi lain. Halaman 15, pertemuan Borno dengan gadis kecil kala sang ayah meninggalkannya. 

Borno hidup di tepian Sungai Kapuas, Pontianak. Menceritakan sedikit asal muasal nama Pontianak yang berasal dari hantu sejenis Kuntilanak yang di beri nama Ponti. Nah Ponti ini berhasil dilumpuhkan oleh seorang anak muda. Alhasil nama Pontianak disematkan oleh anak muda tadi.

Halaman awal menceritakan perjuangan Borno tanggung mencari pekerjaan. Mulai dari bekerja di pabrik karet hingga menjadi penjaga pintu masuk pelampung (sebutan kapal besar di Pontianak). 

Bahkan pekerjaan Borno disalah satu pelampung membuat “gerah” penduduk dan sempat memboikot dengan  tidak mengizinkan Borno menumpang kecuali ia berhenti dari pelampung. Bahkan ketika berhenti pun beberapa masih mempertanyakan. Untunglah. Ada pak tua yang membela Borno remaja. Dengan kalimat bijaknya ia menghalau musuh-musuh Borno, "Dalam banyak urusan, kita terkadang sudah merasa selesai sebelum benar-benar berhenti, bukan." Yang ada para pembenci Borno mundur teratur dan perlahan.

Persahabatan Borno dengan Andi dari kecil kental diceritakan, tak luput peran Pak Tua tetangga sekaligus sebagai peganti sosok ayah bagi Borno. Atau ada lagi Bang Togar pendatang sekaligus penguasa kecil juga ketua dari perkumpulan “sepit” di mana Borno tinggal.


***
Kisah berjalan, 300 halaman pertama sangat ringan bahkan menurut saya terkesan sedikit membosankan. Karena hanya seputar kehidupan Borno dengan kampong kecilnya di pinggiran Sungai Kapuas, yah meskipun sedikit senang mengetahui budaya sekitaran Pontianak, saya diajak sebentar untuk mengenal Istana Kadariah.

Istana Kadariah Punya Ka wiki

Wiki Pedia menjelaskan sedikit mengenai Keraton Kadariah adalah istana Kesultanan Pontianak yang dibangun dari tahun 1771 sampai 1778 masehi. Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri adalah sultan pertama yang mendiami istana tersebut. Keraton ini berada di dekat pusat Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Sebagai cikal-bakal lahirnya Kota Pontianak, Keraton Kadariah menjadi salah satu objek wisata sejarah. Dalam perkembanganya, keraton ini terus mengalami proses renovasi dan rekrontruksi hingga menjadi bentuk yang sekarang.

Atau di lain cerita saya diajak mengenal panglima burung dari Suku Dayak pedalaman, yang mana salah satunya adalah mertua dari bang Togar. 

Ini membawa saya kepada penelusuran dan menemukan di boombastis.com bahwa Panglima Burung yang dianggap sebagai gambaran dari suku Dayak. Sosoknya dianggap  kalem, sopan, sangat menghormati alam dan tidak suka macam-macam. Tapi, sosok yang seperti ini dapat hilang dalam sekejap ketika Panglima Burung dihadapkan pada situasi yang mengancam eksistensi orang Dayak. Ia akan jadi pemarah, kejam, dan tanpa ampun. 

Panglima Burung sumber boombastis.com


Banyak cerita beredar di masyarakat maupun internet tentang kesaktian sosok Panglima ini. Sering dikatakan jika Panglima Burung kebal terhadap benda tajam apa pun. Sehingga sangat sia-sia melawannya dengan memakai senjata.
 
Sosok Panglima Burung juga memiliki kemampuan legendaris seperti bisa menerbangkan Mandau yang akan mencari korbannya sendiri. Ia juga bisa mencium bau musuhnya dengan sangat jelas hanya dari aroma dan darah. Satu hal lagi, ia juga punya mistis yang sangat kuat. Bayangin bang Togar yang jahat terhadap istrinya, jika saja mertuanya mau membunuh dia dengan sekali lempar pasti mampu, demi melihat anaknya sudah memaafkan, sang panglima hilang pula murkanya terhadap Togar.

***
Cerita berjalan, waktu pun berjalan, Borno tumbuh dewasa yang memaksanya mau tidak mau harus menekuni profesi sebagi penarik sepit. Kisah dimulai disini kala pertemuannya dengan Mei. Gadis berwajah sendu keturunan Tionghoa Pontianak. 

Pertemuan ini yang membuat jalan cerita semakin rumit dan menarik sedikit. Borno harus mengatur siasat agar dapat bertemu dengan Mei setiap harinya. Berawal dari sepucuk angpao yang tertinggal. Siapa sangka kebersamaan mereka hanya sebentar, Mei mampir ke Potinanak demi menyelesaikan tugas akhir kuliahnya.
Waktu juga yang membawa Borno menyusul Mei ke tempatnya di Surabaya. Dalam perjalanan ceritanya Borno banyak bertukar pikiran dengan Pak Tua. Sementara Pak tua membagi sebuah kisah romantis temannya masa lampau, Fulan dan Fulani, siapa sangka akhirnya mereka bertemu dengan kisah cinta Fulan dan Pulani yang bukan sebatas cerita tetapi menyaksikan langsung. 

Bahkan Bang Togar ikut memberikan Tips kepada Borno agar mendapatkan hati wanita.

  • Jadilah diri sendiri, banyak pecinta yang yang justru hendak tampil hebat, keren, gagah sampai-sampai dia lupa menjadi diri sendiri.

  • Jadilah pendengar yang baik. Banyak sekali pecinta yang merusak acara mereka karena dia justru mendominasi pembicaraan. Ingin terlihat pintar ingin menutupi gugup sehingga banyak bicara.

  • Pusatkan perhatian pada wanita. Tunjukkan betap kau tertarik kepadanya.

  • Terakhir ditutup dengan kalimat bahwa kau senang menghabiskan waktu bersamanya.
Yah, entah kebenaran keberhasilannya buat Borno, tapi dengan rumus itu bang Togar mampu menarik perhatian anak kepala suku dayak pedalaman. 

Siapa sangka gayung bersambut, Mei memberikan respon positif. Hanya saja alam semesta sepertinya masih memberikan ujian dan cobaan kepada hubungan mereka berdua. 

Ketika situasi memburuk ketika semua teras berat dan membebani jangan pernah merusak diri sendiri. Hal 479 pesan pak tua ketia Borno mulai rapuh.

Hingga perjuangan Borno tidak berakhir disana, alam semesta membawanya kepada pertemuan dengan gadis Tionghoa lainnya. Sarah, seorang dokter gigi. Dari sarah ini semuanya akan terkuak informasi sepuluh tahun lalu. 

Perihal kepergian sang ayah yang meninggalkan budi baik dan kesan positif kepada keluarga Sarah. Ini juga yang membawa Borno tahu sosok siapa Mei sebenarnya. 

Dan siapa sangka Angpao yang di letakkan Mei di sepit Borno bukan sembarang Angpao melainkan sepucuk surat yang selama ini tidak pernah Borno baca. 

Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan perasaan senang, gembira, sedih sama dengan suka makan gulai kepala ikan, suka mesin. Kita ini terbiasa mengistemewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan terus menggumpal dan membesar. Coba saja kau cueki, kau lupakan maka gumpal cinta itu juga akan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan. Pesan pa Tua kepada Borno Halaman 430.


Keterangan Buku : 

Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah 
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2012
ISBN : 978-979-22-7913-9
Tebal : 512 hlm.

8 komentar:

  1. Belum baca nih buku TL yang ini..

    BalasHapus
  2. Buku tere liye ma cuman bikin mewek mewek baca ceritanya hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. hampir sebagian besar iya.. tapi di negeri para bedebah dan negara di ujung tanduk engga juga :)

      Hapus
  3. Bener juga yaa, gumpalan perasaan yang kalau diingat terus tetep menggumpal dan apabila dicueki, gumpalannya akan berkurang, Seru bukunya

    BalasHapus
  4. baru punya satu bukunya Tere Liye. hahahaha.. baca satu aja udah baper.. wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya ada beberapa sich mas uwan.. tapi sejauh ini belum baper2an :)

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih