Senin, 30 Januari 2017

Tumpengan Sederhana untuk Peresmian Gedung PTTUN Jakarta


Gedung MARI, Medan Merdeka Utara
Untuk Peresmian gedungnya sendiri diadakan bersamaan dengan peresmian Gedung Mahkamah Agung yang terletak di Medan Merdeka Utara. Kami, seluruh keluarga besar Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta menyaksikan langsung via Streaming peresmian Gedung Mahkamah Agung. Minus keberadaan pak Ketua Pengadilan yang langsung hadir bersama dengan Ketua lainnya di Mahkamah Agung RI (MARI).

Dalam sambutannya Ketua Mahkamah Agung menegaskan bahwa awal tahun 2017 MARI telah berhasil menyelesaikan pembangunannya dan ada sekitar 135 Gedung Peradilan dari empat wilayah peradilan, mulai dari Peradilan Umum, Agama, TUN dan Militer yang dibangun atau direnovasi.

MARI sendiri menggunakan anggaran  Rp. 243 Milyar dengan kontrak Multiyears. Harapannya MARI mampu menjadi ikon positif serta mewujudkan visinya Mewujudkan Peradilan yang Agung.

Selasa, 24 Januari 2017

Penandatanganan Pakta Integritas dan Pelantikan Pejabat Baru PTTUN Jakarta




Tepat pukul 08.30 aula lantai 3 Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta sudah dipenuhi seluruh pegawai.

Ada acara bersejarah hari ini yang akan rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Hanya butuh waktu setengah jam untuk melaksanakan penandatanganan Pakta Integritas.

Ketua Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Jakarta DR. Istiwibowo,SH,MH berpesan agar  pakta integritas yang baru ditandatangani bukan sekedar seremonial belaka saja. 

Di dalamnya ada nilai-nilai positif yang harus dilakukan.

Dan sesuai dengan konsideran  UU ASN, membentuk pegawai ASN yang memiliki Integritas, Profesional dan Netral (bebas dari intervensi kepentingan politik) serta bersih dari praktik KKN,  mampu memberikan pelayanan publik kepada masyarakat dan menjadi perekat kesatuan bangsa NKRI berdasarkan UUD 1945.

Senin, 23 Januari 2017

Bukan Pasar Malam-nya Pramoedya Ananta Toer



Diawali hanya kesalahpahaman dalam berkirim kabar dengan sang ayah yang berujung ke penyesalan seumur hidup (hati-hati kalau berkomunikasi dengan orangtua), berlanjut hingga menjadi kisah 103 halaman.
 
Ok. Saatnya beranjak membaca buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin ini salah satu resolusi saya di tahun 2017 mulai berkenalan dengan Pramoedya Ananta Toer.

Secara sebelumnya sudah mulai akrab dengan renyahnya karya Tereliye, mulai berani dikit-dikit baca yang sedikit berat dan bermakna dalam (kata sebagian orang ya)


Sekilas tentang buku Bukan Pasar Malam.
Ini buku junlah halamannya hanya 110 halaman saja. Tapi saya butuh sekitar 2 sampai 3 hari menyelesaikannya. Mungkin masih butuh waktu untuk membaca cepat karyanya pak Pramoedya Ananta Toer.

Secara buku ini adalah sumbangan Indonesia untuk dunia loh. Jadi masih berhati-hati membacanya. Entah nanti kalau sudah buku ke dua atau ke tiga.

Pengalaman yang didapat setekah baca buku ini berasa berada di masa perjuangan setelah kemerdekaan dulu (suasana stasiunklender ada diceritakan).

Kamis, 19 Januari 2017

Pengantar Tugas sekaligus Purna Bhakti di PTTUN Jakarta




Tepat pukul 10.00 WIB, semua Pejabat hingga pegawai  Pengadilan TInggi Tata Usaha Negara Jakarta sudah hadir memenuhi aula lantai 3. 

Hanya dihadiri seluruh keluarga besar PTTUN Jakarta dengan perayaan sederhana. Pengantar Tugas Pak Arif Nurdu’a ke PTTUN Surabaya dan Purna Bhakti ibu Ratna Soejoto dan Ibu Tiambun Simanjuntak.

Sambutan Pak Arif Nurdu’a
Tanpa berpanjang lebar dan mengulur waktu Pak Arif diberikan kesempatan maju untuk  emberikan sepatah kata perpisahan kepada warga PTTUN yang hadir. 

Senin, 16 Januari 2017

Semalam di Penang, Negeri Orang.

Pagi di jalan hijau 

Matahari sudah lumayan terik disekitaran jalan hijau 5. Tapi lalu-lalang kendaraan belum seramai seperti di jalanan ibukota Jakarta.

Iya, Penang sedikit lebih lengang daripada Jakarta.

***
Sedari semalam, tepatnya pukul 03.00 pagi waktu setempat. Rumah sakit Lam Wah Ee sudah dipadati antrian pasien.

Sepertinya kehidupan sudah mulai disini. Meskipun matahari belum menampakan dirinya.

Persis pukul 06.30 seorang perawat bertubuh subur dan berkulit legam sepertinya keturunan india mendekati meja dan mengaktifkan nomor antrian.

Sontak semua yang antri sigap berdiri dan merapatkan barisan.

Minggu, 15 Januari 2017

Sekarang mau cerita naik Lion Air

LION AIR 


Baru kemarin saya merasakan kenyamanan dengan maskapai citilink. Bahkan beberapa bulan lalu sempat juga menggunakan Lion,  Minggu sore beranjak dari Sumatera ke Penang menggunakan Lion air.

Bandara Kualanamu ramai dipadati pengunjung sore kemarin. Mungkin karena besok itu hari senin semua siap-siap kembali ke kota asalnya untuk ber-aktivitas seperti sedia kala.

Berbeda sedikit dengan saya. Lepas menghadiri hajatan kerabat di Kabanjahe kami (saya dan istri) meneruskan perjalanan ke Penang.

Yup. Pilihan jatuh kepada Lion selain karena ketersediaan pesawat harga juga merupakan salah satu unsur yang menjadi pertimbangan.

Dari Medan ke Penang menggunakan Lion itu jatuh di harga Rp. 665.000,- tapi kalau menurut saya sich ngga murah-murah banget kan ya.

Kamis, 12 Januari 2017

Pengalaman naik Citilink rasa Garuda.


Citilink Pagi Parkir di Bandara


Semoga kehati-hatian dalam lepas landas citilink tetap terjaga bukan karena hati-hati hanya pasca kejadian pilot mabok.

Pasca rame-rame insiden pilot mabok beberapa waktu lalu yang setidaknya membuat mundur direktur Citilink. Tetap tidak membuat para pecintamoda transportasi udara enggan untuk menggunakan Citilink.

Pastinya akan ada penurunan dari pengguna maskapaiini meskipun jumlahnya tidak seberapa.

Tapi dari sepengamatan saya menggunakan citilink untuk penerbangan Jakarta-Kualanamu. Untuk jam keberangkatan pukul 05.00 pagi hampir sebagian besar terisi penuh.

Rabu, 11 Januari 2017

Tanya dan Ale dititik kritisnya (Resensi Novel Critical eleven)

Critical Eleven by Ika Natassa
Kita memilih pasangan seperti memilih biji kopi yang terbaik. Bukan salah mereka (baca:pasangan) jika rasanya kurang enak. Salah kita yang belum bisa melakukan yang terbaik sehingga mereka juga menunjukkan yang terbaik buat kita.

Ok, akhirnya dapat juga bukunya mba Ika Natassa. Sempat beberapa kali ke Gramedia buku ini tidak tersedia. Sekilas melihat sampul depan bukunya, teringat dengan sampul buku Sabtu Bersama Bapak (edisi lawas) nuansa biru mendominasi hampir keseluruhan covernyadan infonya sampul depan ini didesain sendiri oleh mba Ika.

Buku Critical Eleven sendiri resmi terbit di tahun 2015 dan Desember 2016 sudah masuk cetak ulang yang ke 16.

Salah satu keunikan dari novel ini selain nomor halaman yang biasanya terletak dibawah, mba ika menyusunnya di tengah. Sempat bingung nomor apaan ini? Dan jalan ceritanya sedari awal ketebak juga berasa Abegeh yang beranjak dewasa. Bahasa inggrisnya nyampur bareng bahasa lokal.

Tapi bukan gw kalau baca novel yang berkesan ringan dan renyah tapi ngga ngedapetin kata-kata baik. Halaman awal aja langsung digeber, “Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. Menerima fakta bahwa sebagian dari rasa kita ditentukan oleh orang yang menjadi pasangan kita.”

Sabtu, 07 Januari 2017

Terkadang niat dapat berubah ditengah perjalanan (Film: The Great Wall)


Wiliam demi melihat keseriusan Orde Tanpa Nama melumpuhkan Tao Tei terutama komandan Lin, sedikit banyak hatinya terbagi dua. Bubuk mesiu atau membantu komandan Lin dan William memutuskan yang ke dua.

Sebenarnya ada beberapa acara yang harus dilakukan hari ini, tetapi karena ada kerabat yang kebetulan tidak bisa. Ya sudah habiskan acara sabtu siang ini bersua dengan teman di sekitaran Metropole Jakarta Pusat.

Berasa udah lama juga ngga main ke sini (baca Metrople) meskipun lokasinya ngga jauh dari tempat kerja, sudah banyak berubah nich tempat. Palingan sempat tahun lalu ke sini tapi di parkiran depan aja, ngobrol di salah satu tenda warung kopinya.

Hmmm, film apa yang menarik disimak siang ini dan pilihan jatuh ke film The Great Wall, rupanya sekarang XXI sudah ada buletin dan terbit setiap bulan.