Jumat, 02 Desember 2016

Diskusi buku di Komunitas Utan Kayu



Mengutip perkataan Pramoedya Ananta Menulis adalah Pekerjaan Keabadian, maka kalau kamu mau abadi, menulislah. 

Tapi terkendala dengan ide yang sering mampet dan macet. Beberapa waktu lalu saya mencatat di blog ini tentang mendapakan   ide untuk menulis. 

Setidaknya ada empat hal, yaitu
  1. Menuliskan ide apa saja yang terlintas di kepala.
  2. Mencari Prompt untuk tulisan dari kejadian, kata benda atau apa aja.
  3. Mencoba untuk mengasosiasikan dua hal yang tidak berkaitan.
  4. Mengecek berita dan kejadian yang terjadi hari ini. 
Nah terkadang untuk menciptakan sebuah tulisan dari sebuah kejadian, salah satunya adalah dengan mengikuti beberapa kegiatan positif lainnya terkait dengan menulis. Salah satunya adalah menghadiri diskusi buku. 

Rasanya kurang pas kalau seseorang yang suka menulis tapi tidak suka membaca (memang sich ada beberapa yang ahli menulis meskipun tidak suka membaca). 

Beruntungnya  beberapa waktu lalu sempat juga ikutan kegiatan di Komunitas Utan Kayu, sehingga ketika ada acara diskusi buku saya mendapatkan informasi dan undangan.

Berikut detil acaranya 


Peluncuran Buku: Moemie, Gadis Berusia Seratus Tahun, karya Marion Bloem

Waktu: 3 Desember 2016, pukul 16:00-18:00

Tempat: Teater Utan Kayu, Jln. Utan Kayu 68H Jakarta Timur

sekilas tentang bukunya 

Sejarah kolonialisme, kita tahu, bisa dibaca dari dua sudut, yaitu sudut kaum penjajah dan kaum terjajah. Tetapi selalu ada sudut yang lebih abu-abu--jika bukan lebih kaya--yatu kaum peranakan.  Moemie, Gadis Berusia Seratus Tahun (penerbit KPG), merentang sejarah sebuah keluarga Indo-Belanda dalam waktu seratus tahun dan menempatkannya dalam konteks global. Ia menyentuh perang Puputan di Bali hingga Perisitiwa 11 September di New York.


Berminat, sampai ketemu disana ya :) 
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih