Minggu, 18 Desember 2016

Nimba ilmu dan pengalaman dari mba Prita dan Mas Nana


Berawal dari kesamaan atau hobi sekumpulan anak muda akan kecintaan terhadap alam. Muncul ide untuk berkumpul dan saling bertukar ide di sebuah tempat.

Banyak jalan menuju ke Roma, demikian ungkapan acapkali keluar ketika menimba ilmu atau sedang melakukan sesuatu. Pun berlaku sama dalam dunia perbloggeran, Dunia maya menjadi tempat berkenalan dan dunia nyata menjadi tempat nyata untuk bertemu dan berbagi.

Minggu ini saya memang sudah siapkan untuk bertemu dengan mba Prita Hw, seorang blogger traveler dan mas Nana seeorang Fotographer. Uniknya mereka adalah pasangan suami istri yang pastinya saling melengkapi. Mas Nana yang menemukan passion di dunia fotografi sedikit enggan untuk menulis sementara Mba Prita crazy banget dengan dunia kepenulisan.

Lokasi kopdarnya sendiri di Kedai Pendaki, sekitaran Ahmad Yani, kalau kalian dari arah Cililitan Kedai Pendaki berada di jalur lambat setelah Fly Over Jatinegara. Lepas Fly Over lamat-lamat di jalur lambat agar tidak terlewat lokasi Kedai pendakinya.

Mas Nana asik dengan laptopnya
Acaranya yang sejatinya dimulai pukul 09.00 pagi sedikit mulur dan baru dimulai tepat pukul 10.00. Layaknya acara kopdaran Blogger, bedanya kali ini saya beruntung  dapat berkenalan dengan anak-anak yang aktif dalam Forum Lingkar Pena (FLP) Bekasi. Beberapa teman lain memang baru hendak memulai dunia kepenulisan dan belajar dasar-dasar fotografi.

Sedari Awal Mba Prita membuka acara menjelaskan konsep acaranya adalah lebih ke acara berbagi pengalaman, jadi siapa saja peserta yang hadir diperkenankan juga untuk bercerita tentang pengalamannya.

Untuk memecah kekakuan, diawal acara mba Prita melakukan ice breaking  dengan mengumpulkan satu buah barang peserta dan dikumpulkan, secara acak peserta lainnya mengambil barang itu dan mencari siapa pemiliknya dan menggali informasi pemilik barang tersebut.

Botol Minum kepunyaan mba Hannie Pramesti 

Terakhir mba Prita kembali meminta yang hadir untuk membentuk sebuah kelompok kecil dan mencoba menceritakan pengalaman selama di acara atau pengalaman menuju ke acara (sebab ada beberapa yang sempat nyasar juga loh).

Nah kalau dari kelompok 3 (tiga) kelompok saya dan beberapa teman lainnya mencoba menulis tentang Kedai Pendaki begini tulisannya :

Kedai Pendaki
Berawal dari kesamaan atau hobi sekumpulan anak muda akan kecintaan terhadap alam. Muncul ide untuk berkumpul dan saling bertukar ide di sebuah tempat.


Tempat yang tidak terbilang mewah tapi cukup nyaman. Berada di bawah fly over Ahmad Yani. Persisnya berada di jalan Arjuna 3 no 37 Jakarta Timur.

Sore itu pukul 05.00, ketika hujan mengguyur Jakarta, ditemani secangkir kopi pahit, tapi  tidak sepahit hidup yang kulewati (halllah).

Dan ternyata, aku tersadar Negriku memiliki ragam akan kopi dengan kualitas terbaik. Dari buku menu yang disajikan setidaknya ada 15 jenis kopi dari delapan daerah berbeda di Indonesia. Seperti Kopi Mahameru yang ku sruput sore ini, manis diawal tetapi pahit diakhir ( pastikan itu tidak terjadi dalam kehidupan kita ya)

***
Rupanya Kedai Pendaki bukan hanya sekedar kedai kopi biasa. Tempat ini juga dapat digunakan untuk acara workshop dan sejenisnya. Seperti siang tadi Workshop Writing  and Fotogaphie (Wripho) digelar apik dan menarik oleh mba Prita dan mas Nana.

Dekorasi salah satu dinding di kedai pendaki 


Mba Prita berbagi pengalamannya muali dari menulis tentang perjalanannya dan tips bagaimana memenangkan lomba traveling blog.  Sementara  mas Nana berbagi ilmu Fotografi Travel, sebut saja Landscape Fotografi, Still Life, Street Fotografi dan cara pengambilan Angle fotografi. Kombinasi yang sempurna bukan antara menulis dengan fotografi bidang traveling.

Uniknya di Kedai Pendaki tidak ada fasilitas wi-fi seperti kedai lain pada umumnya, Kenapa? Harapannya adalah terbangun interaksi sosial secara langsung yang lebih kuat antar sesama pengunjung.

Sebab ada adagium, Smartphonemu mendekatkan yang jauh sementara menjauhkan yang dekat.

So, nikmati kopi yang ada, simpan handphonemu dan bangun komunikasi.
Selesai....

Ayo tuliskan jalan-jalanmu 


Memang mba Prita maunya langsung teman-teman yang hadir spontan menuliskan tentang pengalaman baik menuju ke Kedai Pendaki atau selama acara berlangsung. Apa yang dirasakan, terutama pengalaman pribadi yang memang kuat untuk diceritakan. Sebab diawal ia menjelaskan Travel Writer itu tidak hanya melalui riset pustaka saja tetapi dapat juga pengalaman langsung.  Beberapa Travel Writer sebut saja Trinity yang menceritakan pengalamannya pribadi.

Nah dalam perjalanan waktu terbagi lagi ada juga yang Slow Travel seperti karyanya mas Agustinus Wibowo, ia seperti mengeja waktu, merawat makna dan memperlambat waktu.

Masih ada beberapa ilmu yang dishare Mba Prita, kalau ada waktu dan kesempatan kita bahas lagi.


4 komentar:

  1. Asik, berarti masi ada lanjutan dong mas? Saran buat yg typo2 mas, diediting dikit :) Ga sabar nih nunggu lanjutannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap mba Prita, nanti diediting lagi... Ditunggu kelanjutan ceritanya ya :)

      Hapus
  2. kayaknya seru juga menghadairi acara workshopnya di kedai kopi Pendaki ......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang seru mas, selain tempatnya penuh dengan gambar gambar kreatif, ragam pilihan menu dan minumannya ... cocok untuk workshop anak muda

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih