Jumat, 25 November 2016

Belajar lagi 8 habbit-nya Stephen Covey. (Bab 1)



Apabila  hendak  membuat sumbangan baru, kita harus juga membuat persiapan yang serba baru.  

Setelah beberapa waktu lalu menulis tentang ballpoint yang ada sangkut pautnya dengan Covey dan mendapatkan sebuah ballpoint Franklin Covey. Jadi terlintas untuk menyelesaikan sebuah buku bacaan yang belum selesai tuntas dibaca.

Penulisnya sendiri Stephen. R. Covey, sudah meninggal beberapa tahun lalu. Beliau sendiri dikenal sebagai penulis “the 7 habbits.”. Buku wajib bagi penikmat manajemen sumber daya manusia.  Seinget saya tahun 2006 saya sudah tahu dan baca bukunya. Baru pada tahun 2010, tepatnya 6 Mei di Gramedia Depok, saya menyempatkan membeli The 8 Habbit, Melampui Efektivitas dan Menggapai Keagungan.  Baca seluntas sudah selesai, rasanya terlintas untuk membacanya pelan-pelan dan menikmati setiap pengajaran dari Stephen. R. Covey ini.

Di halaman cover Stephen menjelaskan 8 Habbit mengajak kita untuk memperhatikan kebutuhan orang-orang disekitar kita, untuk melampui efektivitas dan meraih kesuksesan. Kedua hal ini dapat diraih dengan melakukan 4 peran kepemimpinan,  yaitu 1. Menjadi Anutan (Panutan), 2. Menjadi Perintis Jalan. 3. Menjadi Penyelaras, 4. Menjadi Pemberdaya. Sehingga Stephen menegaskan bahwa kita akan menemukan panggilan jiwa dan mengilhami orang lain tentunya dituntun dengan paduan 4 kecerdasan, Kecerdasan  Fisik (PQ), Kecerdasan Mental (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), Kecerdasan  Spiritual (SQ). Jadi semakin prnasaran dengan catatan yang dibuat Srephen didalam bukunya ini. Mari kita simak.

Kepemimpinan merupakan sebuah pilihan dan bukan sebuah posisi, Stepehen. R. Covey.

Apabila  hendak  membuat sumbangan baru, kita harus juga membuat persiapan yang serba baru. Kutipan yang membuat Stephen sadar untuk menjadi pembelajar lebih dari sebelumnya.


Dalam sebuah survey, ditemukan bahwa hanya 1 dari 5 pegawai yang merasa antusias mengenai tujuan tim dan organisasi mereka. Hanya 15% yang merasa bahwa mereka bekerja dalam suatu lingkungan dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.
Bahkan hanya 17% yang merasa bahwa organisasi mereka mendorong komunikasi terbuka yang menghormati gagasan yang berbeda  dimana semuanya bermuara pada terciptanya gagasan-gagasan yang baru dan lebih baik. 

Tentunya survey diatas dilakukan di negara asal Stephen Covey, dimana kemajuan sebuah organisasi sudah mapan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata. 

Lalu ia (Stephen. R. Covey) melempar pertanyaan kepada dirinya sendiri, apakah 7 habbit masih relevan dengan adanya perubahan keadaan dan lungkungan kerja kita?  Jawabannya adalah semakin komplet suatu keadaan maka semakin relevan keberadaan 7 kebiasaan positif.  7 habbit adalah tentang bagaimana menjadi sungguh efektif dengan menampilkan kerangka kerja yang komplet  dari prinsip-prinsip karakter dan efektivitas manusia yang universal dan abadi tak terikat pada waktu tertentu.

Nah panggilan kita (pembacanya) saat ini, yang disebut era baru adalah keagungan, kehebatan (greatness). Kita dituntut untuk mengejar pemenuhan diri (fullfillment), pelaksanaan yang penuh semangat (passionate execution), dan sumbangan yang bermakna (significant contribution). Tentunya dalam mencapai semua hal tadi diperlukan sebuah perangkat pemikiran baru, keahlian baru, perangkat peralatan baru dan kebiasaan baru.


Kebiasaan ke 8 dalam buku ini menjelaskan kepada pembacanya untuk menemukan suara panggilan jiwa sendiri dan mengilhami orang lain untuk menemukan panggilan jiwa mereka.

Stephen mencoba menjelaskan secara sederhana habbit ke delapan lebih kepada Suara yang merupakan makna personal yang unik. Yang jika digambarkan merupakan persinggungan dari Bakat, Gairah, Kebutuhan dan Nurani.

Intinya adalah jika kita terlibat dalam suatu pekerjaan yang mendayagunakan bakat dan mengobarkan gairah hidup serta muncul dari kebutuhan didalam dunia, sehingga kita merasa terdorong oleh nurani untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka dapat dipastikan disitu letak suara hati.  Suara kita adalah panggilan jiwa dan arah hidup yang akan memuaskan jiwa.

Pak Stephen mengambil ilustrasi dari salah satu tokoh dunia, pendiri Grameen Bank, Muhammad Yunus. Penyalur kredit kecil bagi kaum miskin di Bangladesh. Yang awalnya Yunus tidak memiliki visi yang jelas, hanya sekedar mengajar teori ekonomi hingga memunculkan visi, dunia tanpa kemiskinan.

Melampau Efektivitas dan Menggapai Keagungan

Yunus sendiri mengatakan bahwa ia harus meninggalkan pola pandang seperti burung yang hanya melihat segala-galanya jauh dari atas, lebih kepada pola pandang seekor cacing yang berusaha mengetahui apa saja yang terpapar didepan mata, mencium baunya, menyentuhnya dan melihat apakah ada sesuatu yang bisa kita lakukan langsung.

Yunus mampu mengalahkan paradigma dan pemikiran yang berkembang pada saat itu.  Yoga Sutra dari Patanjali berujar “ketika kamu terilhami oleh suatu tujuan mulia, suatu proyek yang luar biasa, pikiranmu akan menerjang berbagai pembatasnya. Pikiranmu akan menembus keterbatasan, kesadaranmu akan meluas ke segala arah dan kamu akan menemukan dirimu berada didunia yang baru, yang kuar biasa dan mengagumkan.”

Ini kita masih bicara bab satu tentang derita, derita ditempat kerja, keluarga, komunitas dan di masyarakat.

Maka kita akan beranjak mengenai masalahnya.

Iya, bab 2 akan dibahas mengenai masalah,
















6 komentar:

  1. Mantap betul bang, saya tunggu bab selanjutnya :)

    BalasHapus
  2. wah saya jadi pengen beli bukunya mas, di gramedia ada kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ngga tau kalau sekarang mas... Buku ini saya beli 3 tahun lalu dech. Tapi harusnya sih sebesar toko gramedia masa ngga ada ya.

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih