Rabu, 19 Oktober 2016

Sebuah Cerita Baru Menanti di depan.

Sebuah pesan untuk diri sendiri
Akhirnya surat keputusan itu keluar sudah. Waktunya kembali mengosongkan gelas, belajar hal-hal baru. Iya, saya katakan belajar kembali hal-hal baru.
Setelah 5 tahun berturut-turut berhubungan dengan pembukuan umum, buku pajak, buku bank hingga berderet-deret laporan lainnya. 

Efektif Januari 2017, awal baru dengan tantangan baru menanti didepan. Bukan sebuah hal mudah memang untuk beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan baru.

Tapi sebagai abdi negara (yang ini sedikit lebay ya) memang sudah sepantasnya harus siap jika ditempatkan dimanapun juga.

Mengutip sebuah tulisan :

"Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun.



Talk to my self

Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;  ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk.

Ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
Tuhan telah membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Tuhan memberikan kekekalan dalam hati manusia. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Tuhan dari awal sampai akhir.

Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Tuhan."

Muncul keraguan, sedikit terbersit khawatir, apakah bisa? Kira-kira seperti apa keadaan di tempat baru nanti?

Ya sudah, setidaknya dengan tempat kerja baru akan menambah wawasan baru dan semangat baru (amien).

Jadi teringat sebuah kutipan dari bukunya Tere Liye, Ayahku Bukan Pembohong. "Hidup harus terus berlanjut, tidak perduli seberapa menyakitkan atau seberapa membahagiakan, biarkan waktu yang menjadi obatnya."

Atau pesan Aryo kepada Ailin di drama BUN, Jangan berada dititik yang sama terlalu lama.



Sepertinya alam semesta ikut berperan serta, sebuah keindahan dan kesuksesan menanti di depan sana. 

Mengutip judul album Sheila On 7, Biarlah semua ini akan menjadi "Kisah Klasik Untuk Masa Depan."

Selamat malam, selamat beristirahat.

2 komentar:

  1. Bang kornelius PNS juga kah? memang harus siap ditempatkan di manapun yaa. sukses yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Trims ya mba ophi. Btw sudah lama kita ngga koodar blogger.

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih