Sabtu, 15 Oktober 2016

BUN, Drama Musikal Keajaiban sebuah Roti



Tiket Pertunjukan Drama Musikal BUN


Di beberapa segmen saya seperti sedang menyaksikan drama dengan latar musik ala Yovie and the Nuno. Atau di Segmen lainnya terhibur dengan latar musik ala K.Pop  dan Jakarta 48.

Lokasi yang diadakan di Kota Kasablanka membuat saya harus bergegas dan bersiap 3 jam sebelum pertunjukkan berlangsung. Bayangin acara jam 18.00 WIB, sudah harus berangkat dari Jati Asih jam 15.00 WIB. Dan benar saja, kemacetan mengular dimana-mana.  Terlebih lepas hujan sekitaran Cibubur dan wilayah Bogor. 

Pemilihan jalan menjadi hal yang sangat crucials, mendengar informasi radio sepanjang perjalanan dan memperhatikannya dengan seksama akan menentukan seberapa cepat sampai tempat tujuan.

Tepat depan SMP 115 hingga putaran Kota Kasablanka butuh waktu 40 menit dan persis masuk Mall Kota Kasablanka tepat 1 jam. 

Kalau akhir pekan Jakarta Macetnya Luar Biasa


Drama Musikal BUN
Tepat pukul 18.00 WIB putaran drama musikal ini di mainkan. Tepat waktu meskipun sebagian besar penonton belum banyak yang hadir (dugaan saya pastinya karena macet).  Lantai 3 Kota Kasablanka yang biasanya untuk kebaktian minggu disulap  menjadi sebuah ruang pertunjukkan drama musikal.

Suasana ruangan lantai 3 kota kasablanka


Dari judulnya sendiri BUN sempat bertanya apakah ada hubungannya dengan Roti BUN? Dan benar saja ceritanya sendiri seputaran toko Roti dan persaingannya. 

Jadi terlintas Novel Madre karya Dee Lestari, ceritanya tentang bibit roti dan pernak-perniknya. 

Hmm, jadi berasa menyaksikan Madre dalam bentuk Visualisasi Drama Musikal (yah, meskipun alur cerita berbeda, tapi masih seputaran roti.) 

Sebelum menyaksikan drama jangan lupa persiapan  Roti sebagai bekal didalam

Cerita di awali kisah Ailin dan Tjwan yang tinggal bersama nenek. Mereka hidup dari menjual roti, BUN nama toko rotinya. Tapi sang cucu mempertanyakan kebaikan yang selalu diberikan sang nenek kepada siapa saja yang tidak mampu membayar roti mereka. 

Tjwan memutuskan pergi meninggalkan nenek bersama Ailin  dan berusaha sendiri membangun kerajaan rotinya. 



Tepat kepergian Tjwan, sang nenek meninggal. Sempat ia berpesan kepada Ailin, “bukan apa yang dituliskan di resep yang penting, tetapi untuk apa sebuah roti dibuat, itu yang lebih penting.”

Waktu berjalan, toko roti BUN tetap buka seperti biasa, dengan toko roti Tjwan yang terletak di seberangnya lebih laris jauh berada diatas toko roti BUN. 

Latar belakang sebuah stasiun yang menamakan kota tempat tinggal mereka “Shangkarta”`Toko Roti Tjwan menang persaingan dari toko BUN. Ditingkahi pemilik toko mainan Wijaya Ko Budhi yang kebetulan sangat gemar bermain media sosial dan berniat menjadi artis ibukota. Bayangin followernya aja udah sejuta orang. Sedikit-sedikit selfie dan upload ke medsos.

Aryo Muncul memberi warna sendiri

Hingga munculah sosok Aryo, pengemis yang datang dari desa dan membuat kegundahan di kota Shangkarta. Ia tidak memiliki uang hanya mampu bekerja. Datang ke toko roti Tjwan, jelas –jelas ditolak. Kalau mau roti harus bayar, kalau mau kerja, tidak ada lowongan. 

Beruntungngnya Ailin yang bersedia menolonng dan menampung Aryo. Roti Bun bagi Aryo sangat enak, padahal menurut Ailin biasa saja. Terlebih tidak adanya pembeli semakin meyakinkan Ailin bahwa kejayaan roti BUN sudah tamat.

Hingga tiba kesempatan Aryo masuk ke toko Tjwan dan memakan roti buatan Tjwan serta menemukan resep buatannya. 

Resep yang ia curi dari toko Tjwan di serahkan ke Ailin, syukur-syukur dapat membantu Ailin untuk mengubah resepnya dan membuat kejayaan rootinya kembali seperti sedia kala. 

Bukannya pujian yang didapat Aryo tapi kecaman dan amarah dari Ailin. Ia sangat tidak setuju dengan apa yang dilakukan Aryo, memang kejayaan roti BUN duah berakhirr tetapi tidak boleh juga Aryo mencuri kejayaan dari toko Tjwan untuk toko rotinya.

Ailin mengembalikan resep yang dicuri Aryo kepada Tjwan, Tjwan murka dan sedikit lega ketika Ailin menawarkan perdamaian dengan memberikan seluruh tabungannya demi menebus kesalahan Aryo. 

Polis Shangkarta sempat memberikan wejangan kepada Aryo, Ingat. “Cara yang salah dapat merubah niat yang baik.” Jangan buat keributan lagi di Shangkarta atau akan berhadan dengan beliau.

Cerita beralih kepada koko Budi pemilik toko mainan Wijaya, ia sedih dan kecewa. Muasalnya gagal casting yang membuat ia tidak menjadi artis terkenal. Ia merasa sendiri. Ailin datang dan menghiburnya.

Saya merasa hidup saya sepi, Ailin, ko Budi berucap.
Sepi sudah menjadi teman akrab dari Ailin kecil, ujarnya

Ailin  pun berujar “Lebih baik punya sedikit teman yang tau siapa kita ketimbang banyak tapi tidak kenal siapa kita.”


Ya sudah demi menghibur Ko Budi, ia meminta Ko Budi merasakan roti buatan BUN yang sudah di modifikasi.

Awalnya Ko Budi sempat ragu untuk dijadikan kelinci percobaan menikmati roti BUN yang sudah habis masa jayanya. Tapi siapa sangka  Roti BUN sudah berubah menjadi roti yang didalamnya terdapat magic. Iya magic. Siapa saja yang makan roti buatan BUN tidak hanya enak tapi dapat membuat hati senang.

Ko Budi mengunggah keistimewaan roti BUN ke sejuta follower instgramnya. Alhasil kejayaan roti BUN mulai pulih kembali, toko Tjwan sendiri meradang dan mengklaim bahwa BUN berhasil akibat resep curian sebelumnya.

Demi melihat roti BUN kembali bangkit, Ailin tetap Humble dan masih memberikan roti gratis kepada yang tidak mampu.  Hingga ia jatuh sakit.

Tjwan menyalahkan sakitnya Ailin kepada Aryo. Semenjak kedatangan Aryo, Shangkarta menjadi ricuh.

Padahal sedari kedatangan Aryo ke toko BUN ia mengajak Ailin agar “tidak berada di titik yang sama terlalu lama.” Harus dilakukan sesuatu, perubahan kearah yang lebih baik. 


Diakhir cerita, sakitnya Ailin sudah berangsur membaik, kesuksesan toko BUN kembali seperti sedia kala. Tjwan semakin gemas dengan keberhasilan BUN.

Standing Applause untuk Drma Musikal BUN

Sementara Aryo dan Ailin tetap humble  dan bahkan mengajarkan cara membuat roti kepada siapa saja yang mau menjadi pengusaharoti seperti mereka.


Drama yang sarat dengan pesan Moral.
Total waktu pertunjukkannya sekitar 90 menit. Sempat bosan juga di tengah ketika terlalu banyak adegan bicaranya. Tapi berubah segar ketika diselingi musik dan tari-tarian. 

Sepengamatan saya genre musik yang ditampilkan lumayan kaya,  ada lagu lawas yang diaransemen ulang. Banyakan sich lagu yang mereka buat sendiri.
Latar belakang panggung drama musikal

Di beberapa segmen saya seperti sedang menyaksikan drama dengan latar musik ala Yovie and the Nuno. Atau di Segmen lainnya terhibur dengan latar musik ala K.Pop  dan Jakarta 48.

Sementara pasangan saya (baca : istri)  memuji kreativitas total para pemainnya. 

Terakhir selesai Drama, ditutup dengan standing applause dari penonton yang hadir.

Terakhir Ailin sempat menitipkan pesannya. 

Hanya segaris senyum tapi sanggup mengubah dunia.

Kita harus menjadi inspirasi bagi orang lain dan menerima diri kita apa adanya. 

Indahnya berbagi, indahnya menemani. Ailin
















6 komentar:

  1. dari roti disulap jadi drama musikal, keren (dan ndadak bikin paper)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha. Kalau laper ya makan mba maria :)

      Hapus
  2. Saya membaca lewat post ini serasa menikmati drama pertunjukan dan sarat makna ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan memang benar mba, drama ini sarat banget dengan makna

      Hapus
  3. Wowww...ide ceritanya inspiratif sekali. Dari roti di angkat jadi drama musikal. Keren idenya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ide dan pentas drama musikalnya memang kreatif lae horas.

      Cukup puas dapat menyaksikan langsung acara ini kemarin sore

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih