Minggu, 14 Agustus 2016

Kisah Gary dan Lina (Resensi Euforia, Givary Muhammad)

EUFORIA, Givary Muhammad 

Pelarian Gary yang bertemu dengan Lina menjadi sebuah Euforia tersendiri. Kita akan diajak mampir menikmati kekayaan budaya Nusantara. Sebut saja ketika mampir di kota Padang, siapa sangka dulunya disana ada kerajaan yang bernama Pagaruyung, dan rumah adatnya yang dihiasi tanduk kerbau (Bagonjong).

Penulisnya masih terbilang muda, Lahir tahun 1998. Tapi untuk kualitas tulisan, boleh dikatakan tidak muda lagi. Mengapa demikian? Merujuk dari bahan bacaan yang sudah di baca sebagai riset untuk bukunya. Givary Muhammad juga sudah membaca beberapa karya klasik, sebut saja Max Havelaar, Multatuli (aku yang menderita).

Euforia, Buku terbitan Sinotif Publishing. Cetakan pertamanya sendiri ada di tahun 2014. Entah sekarang sudah memasuki cetakan yang ke berapa.


Nukilan Euforia.
Kutipan halaman belakang bukunya diambil dari percakapan Gary dengan Lina di sebuah stasiun, “Ada momen dimana kamu pasti takut untuk melakukan sesuatu, atau ada juga dimana momen kamu berani dan menghiraukannya.”

Siapa Gary? sosok anak SMU kekinian. Terbilang sedikit pandai meskipun tidak terbilang cerdas. Setelah kepergian kedua orang tuanya, (baru dihalaman tengah diceritakan mengapa mereka meninggalkan Gary). Gary muda tinggal bersama pamannya yang pensiunan tentara dengan pangkat terakhir Kolonel.

Awal cerita di mulai dari kerasnya didikan sang paman yang membuat Gary tidak kerasan dirumah. Tapi apa daya, berlama-lama di luar juga akan semakin membuat murka sang paman. Lingungan sekolah yang sudah tidak ia rasa bersahabat dengan dirinya. Semakin menambah kejengkelannya terhadap kehidupannya.

Setelah berdiskusi dengan Glen, teman lain kelas di sekolah yang sama. Gary memutuskan untuk keluar dari sekolah dan rumah.

Intinya cerita perjalanan kabur Gary yang menjadi kekuatan utama cerita novel EUFORIA ini.  Dalam perjalanannya ke Sumatera dari Bandung. Gary harus berjuang untuk menjadi sosok yang keluar dari zona nyamannya yang tidak nyaman.

Siapa sangka, ketika singgah di terminal kampung rambutan, ia bertemu dengan pedagang buku emperan. Satu buku Coklat dengan judul “Euforia” menarik perhatiannya.

Buku yang berisikan cerpen pendek, sebagian isinya menyemangati dirinya, sebagian lagi hampir serupa dengan pengalaman dirinya dan terakhir sebagian isi bukunya menceritakan masa depan dari dirinya.

Salah satu kisah dongeng dari buku Euforia yang di beli Gary adalah Pohon tertawa, pohon yang akan tertawa jika ada binatang yang bernaung di bawahnya. Atau ada lagi kisah perempuan yang selalu menjerit kesakitan di balik bilik, tetangganya tidak ada yang berani mendekat untuk melihat wanita itu. Sebagian mengatakan gila sebagian lainnya tidak peduli.

Hmm, Bahkan ketika ia bertemu dengan sosok Lina, Gary disarankan agar tidak terlalu serius dengan buku “euforia” itu. Karena banyak dari isinya yang dibuat penulisnya menuntun kepada pertanyaan yang tidak bisa terjawab. Gary sedikit tidak setuju dan keberatan dengan peryataan Lina.

Pelarian Gary yang bertemu dengan Lina menjadi sebuah Euforia tersendiri. Kita akan diajak mampir menikmati kekayaan budaya Nusantara. Sebut saja ketika mampir di kota Padang, siapa sangka dulunya disana ada kerajaan yang bernama Pagaruyung, dan rumah adatnya yang dihiasi tanduk kerbau (Bagonjong).

Mampir juga ke Palembang Givary menceritakan juga kisah Pulau Kemaro, kisah cinta Siti Fatimah dengan pemuda perantauan dari Tionghoa.

Lalu bagaimana kisah mereka Lina dan Gary, apakah mereka menemukan Efuora (kebahagiaan) mereka sendiri atau berjalan sesuai buku Euforia yang dipegang oleh Gary.

Buku sebal 120 halaman ini, lumayan seru untuk menghabiskan waktu luang. Tidak perlu waktu lama untuk melahap habis EUFORIA, Givary Muhammad.

Jadi penasaran juga dengan karya lainnya dari Givany Muhammad.


Di toko buku SCOOP buku Euforia deibandero seharga Rp. 35.100,-

4 komentar:

  1. Khas gejolak jiwa muda ya Bang Lius. Perjalanan fisik ke berbagai tempat sama dengan perjalanan batin dalam mencari jati diri. Pasti dia akhirnya Gerry Darlina menemukan apa yang mereka cari ya atau setidaknya memahami mengapa mereka menempuh jalan seperti itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mba evi. Khas gejolak anak muda

      Hapus
  2. Jadi kumcer ya ini? Baru tau ada buku ini :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini novel mas, menarik untuk disimak.

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih