Minggu, 17 April 2016

Bentuk lain perang masa depan (Review Eye In The Sky)


Posternya

Kemajuan zaman yang semakin canggih tidak juga menyurutkan langkah manusia untuk saling menyakiti (baca : berperang). Pun demikian dengan terorisme tidak pernah mau hilang dari permukaan bumi.

Film yang kurang dari 2 jam ini menawarkan aksi pasukan khusus untuk menumpas terorisme di Afrika. Jangan harap ada penyerbuan taktis dengan senjata lengkap. Yang ada hanya aksi mematai dengan teknologi canggih serta diskusi panjang dalam mengambil sebuah keputusan.


Perang Intelijen 
Ceritanya seputar aksi Kolonel Catherine Powel (Hellen Miren) sebagai pemimpin aksi penangkapan teroris. Berdasarkan informasi yang ia miliki aksi teroris sedang disusun disebuah tempat sekitaran Nairobi, Kenya. Target utamanya adalah menangkap Susan Helena Danford, wanita berkebangsaan Inggris yang  semenjak usia 15 tahun sudah menjadi pejuang militant dan extremist.

Singkat cerita Danford merekrut 2 orang untuk menjalankan aksi bunuh diri dengan bom yang dipasang di seluruh tubuhnya. Semua aktivitas teroris ini terekam jelas  dan diawasi oleh Pilot Steve Watts (Aaron Paul, dia juga main di Need For Speed).  Mereka mengawasai gerak-gerik teroris ini langsung dari udara bukan dengan pesawat tempur atau pesawat komersial tapi dengan Drone yang dikendalikan Steve (sepertinya kedepan drone akan naik daun).

Powel sedang berdiskusi dengan Frank Benson
Arah cerita berubah ketika mereka (Kolonel Powel Cs) hendak memastikan apakah benar Danford benar ada didalam rumah itu dan ia menjadi otak di belakang semua kegiatan. Anak buah sang Kolonel menggunakan drone kecil berbentuk serangga yang dapat terbang. Hanya saja pengoperasiannya harus tidak jauh dari rumah para teroris. Jadi kalau kita liat ada serangga disekitaran yang bentuk dan tingkahnya aneh, hati-hati aja jangan-jangan itu drone yang sedang memata-matai kita.

Sementara di belahan lain, Letnan Frank Benson (diperankan Alm. Allan Rijman) bersama kementrian dan pihak terkait menyaksikan langsung  yang dilakukan Kolonel Powel. Ia yang berhak untuk mengambil keputusan sementara Powel  melakukan eksekusi bersama anak buahnya.

Ditengah jalan, alur cerita berubah kembali, misi yang sedari awal hanya akan melakukan pengakapan berubah menjadi misi untuk membunuh. Kenapa misinya berubah? Ya itu tadi, karena terorisnya sudah merencanakan aksi bom bunuh diri. 

Benson sendiri dalam mengambil sebuah keputusan harus berdebat keras dan alot. Bahkan untuk merubah misi menjadi membunuh, mereka yang hadir harus mencari rujukan keputusan pimpinan yang tertinggi. Bahkan menteri dalam negeri yang sedang berada di Singopore, langsung mereka hubungi terkait dengan situasi yang terjadi. Hal ini karena Danford masih berstatus kebangsaan Inggris. 

Akhir Cerita
Misi yang berubah menjadi “membunuh“ tapi harus dibuktikan dengan keputusan yang tertinggi dan dengan korban sipil seminim mungkin. Powel memerintahkan anak buahnya Steve untuk menarik pelatuk drone dan menghancurkan rumah teroris. 

Ketika pelatuk hendak ditarik,  sosok anak kecil penjual roti tiba-tiba muncul, Alia Mo’alim. Ini yang membuat Steve membatalkan aksi dan bertanya kemablai ke Powel, dan Powel betanya kepada Frank Benson pun sama Benson melanjutkan ke atasnya lagi. Sementara waktu terus berjalan.

Drone Serangga yang diletakkan di rumah  teroris sudah kehabisan baterai. Yang artinya waktu semakin sempit. Jika tidak diambil tindakan, teroris akan melakukan aksinya.

Perdebatan berlanjut, apakah tetap meluncurkan bom dari drone dengan mengorbankan Alia gadis kecil yang berjualan roti. Atau membiarkan aksi teroris berlanjut.

Pilot Steve

Pilot Steve meminta informasi ulang rencana pengeboman dengan estimasi jumlah korban, sementara yang lain Benson dan rekan berdebat apakah membatalkan aksi atau terus dengan rencana semula.

Demi menyelamatkan Alia, anak buah Powel lainnya memberanikan diri untuk membeli semua rotinya yang menyebabkan hampir sebagian aksi mereka ketahuan.


Anggota lainnya tidak setuju menyelamatkan Alia berarti membiarkan kemungkinan korban aksi teroris sekitar 80 orang. Sementara dengan melakukan pegeboman sudah pasti akan menewaskan Alia.


Powel mengambil keputusan lain, tetap melakukan pengeboman tapi dari sisi yang berbeda sehingga ada harapan Alia terkena dampak kecil tetapi tidak mematikan. Dan distujui Letnan Frank dkk.

Steve dengan berat hati menarik pelatuk mengarahkan ke sisi yang diperintahkan Powel. Benar saja, Alia ikutan terhempas akibat tumbukan bom tersebut.

Sementara Powel mengamati akibat bom yang pertama  tidak membunuh Susan Helen Danford, Wats diperintahkan untuk menembak ulang demi memastikan para teroris meninggal.

Setelah semua teroris dipastikan tidak ada yang selamat, baru misi dikatakan berhasil.

Bom yang sudah ditembakkan


Kesimpulannya.
Film ini sepertinya sengaja dibuat untuk propaganda pihak asing bahwa untuk melakukan aksi penumpasan teroris bukan hal yang mudah. Tetap saja mengedepankan bahwa yang salah adalah teroris dan harus dimusnahkan tanpa ada cerita “sebab-akibat“ aksi teror muncul.

Sebaiknya film Eye in the sky tidak ditonton bersama anak kecil.  Banyak aksi kekerasan yang ditampilkan diakhir cerita.

Selama menyaksikan  isi film memaksa saya  untuk berfikir mau kemana arahnya, keputusan politik yang dibuat, anak buah yang melakukan eksekusi dan  data-data pendukung yang harus ada.

Untuk menghabiskan akhir pekan bersama pasangan masih ok, tapi untuk bersama keluarga, sepertinya  jangan dech.



 Film lucu yang cocok untuk berakhir pekan  Get Up Stand UP





Comments
0 Comments