Minggu, 20 Maret 2016

Neurodermatitis, penyakit apa lagi nich?




Setidaknya dalam waktu 6 tahun dua kali sudah  berkunjung ke klinik dokter ini. Kalau tidak terpaksa benar, saya sendiri enggan untuk datang ke tempat praktek beliau. Pengalaman 3 tahun lalu koreng di kaki sembuh dibuatnya. Dokternya sendiri ramah dan bersahabat sebenarnya. Terlebih ia akan meladeni setiap pertanyaan yang diajukan pasien.

Alhasil, setelah lelah dengan luka koreng di kaki yang tidak kunjung sembuh, mau tidak mau dan suka tidak suka harus berkunjung juga.

Pastinya kalian akan bertanya kenapa saya enggan untuk berkunjung ke klinik dokter kulit? Saya masih “Jengah“ dengan namanya Dokter Kulit dan Kelamin. Dalam benak saya yang datang ke sini adalah orang-orang yang bermasalah dengan kelaminnya, padahal tidak demikian setelah berbincang panjang lebar dengan dokternya. Dr. Sasa Khairunisa, SPKK, nama lengkapnya, ia berpraktek di salah satu apotik sekitaran poltangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Neurodermatitis.
Informasi dari blognya dr. Alvianto.logspot.co.id yang saya kunjungi tanggal 20 Maret 2015 menegaskan bahwa Neurodermatitis adalah suatu peradangan menahun pada lapisan kulit paling atas yang menimbulkan rasa gatal. Penyakit ini menyebabkan bercak penebalan kulit yang kering, bersisik dan berwarna lebih gelap, dengan bentuk lonjong dan tidak beraturan, kalau menurut saya pribadi seperti koreng yang tidak segera sembuh. Disertai gejala garis kulit tampak menonjol (likenifikasi), akibat garukan atau gosokan berulang karena berbagai rangsangan pruritogenik. Karena gatalnya tidak tertahan yang menyebabkan saya menggaruk berulang-ulang dan garukan inilah yang menjadi pemicu semakin menebalnya lapisan kulit.


Penyebab neurodermatitis masih belum diketahui secara pasti. Dapat timbul akibat dari iritasi menahun dan garukan yang berulang-ulang meningkatkan terjadinya neurodermatitis. Penyakit ini biasanya berhubungan dengan : 1) Dermatitis Atopik, 2) Psoriasis, 3) Kecemasan, depresi ataupun penyakit psikis lainnya. Nah untuk saya pribadi menurut dokternya adalah karena kecemasan atau stres dengan keadaan.

“Coba pikir pelan-pelan pak, sekiranya apa yang membuat bapak stres, tanya sang dokter.“ Saya juga berfikir keras, kira-kira apa yang membuat saya stres dan memicu timbulnya  Neurodermatitis ini. Masih menurut beliau, saya termasuk beruntung, yang hanya kembali memeriksakan diri seetelah 3 tahun.

“Banyak yang diluar sana,  rutin kembali setiap enam bulannya, Lanjutnya.”

Dokter yang memang spesialisasinya Kulit dan Kelamin menegaskan penyakit Neurodermatitis sebenarnya tidak tergolong sebuah penyakit yang sulit untuk ditangani. Pencegahannya pun terbilang mudah.

beberapa hal yang disarankan dokter untuk dilakukan agar terhindar dari Neurodermatitis

  • 1.       Jauhi hal yang membuat seseorang depresi dan stres,

  • 2.       Jika sudah terkena Neurodermatits kurangi interaksi dengan tangan (menggaruk)

  • 3.       Tingkatkan kualitas daya tahan tubuh dengan menjaga asupan gizi yang seimbang dan istirahat yang cukup.

Konsultasi kesehatan yang beliau sampaikan tidak berhenti sampai disitu saja. Interaksi yang mulai mencair antara dokter dan pasien setidaknya membuat diri saya selaku pasien semakin terbuka.


Saya juga semakin tahu, bahwa dokter spesialis Kulit dan kelamin tidak melulu menangani kasus-kasus seperti yangterlintas dalam pikiran. Bahkan dokter juga sanggup menangani masalah yang berkaitan dengan estitika wajah.

Meskipun saat ini belum ditemukan teknologi kedokteran belum menemukan  Vaksin untuk mencegah timbulnya Neurodermatitis, pengobatannya terbilang mudah. Hanya meminum obat untuk mennghilangkan gatal dan peradangannya ditambah salep yang selalu dioleskan setiap pagi dan malam hari.

Hanya butuh waktu 2 hari menurunkan dan menghilangkan rasa gatal dan sekitar 1 minggu untuk menghilangkan bekas Nerodermatitisnya.


Kesimpulan
Kesehatan itu mahal harganya, pastinya akan terasa ketika sakit sudah datang mendera. Mengutip kata-kata ibu mertua “kita yang mengerti kita“. Makna yang terkandung didalamya sangat kuat. Bagaimana kita selaku pasien harus mengerti keadaan mana saja yang akan membuat kita semakin sakit atau sebaliknya mana yang membuat sembuh.

Sebagai sosok lansia yang tentunya sudah bersahabat dengan beberapa penyakit tetapi tidak menyurutkan aktivitasnya. Ia mencoba menarik kesimpulan “stres“nya saya dapat  saja karena kesal dengan keadaan jalanan Jakarta yang semakin macet ditambah beban kerja yang seperti tidak ada habisnya.

Obat yang diberikan untuk mengurangi gatal dan menyembuhkan Neurodermatitis
Hal yang  sama diamini dokter dan istri. Terkadang stres yang mengidap ditubuh dapat tersembunyi dan tidak terlihat. Tetapi dengan adanya Neurodermatitis ini menandakan saya sedang dalam keadaan itu. Meskipun saya bersikeras berkata tidak.

Dan terbukti, hanya butuh 1-2 minggu dengan melaksanakan semua saran dari dokter, Neurodermatitis hilang dan bersih dari tubuh.

Tapi saya harus ingat dan garis bawahi, bahwa kapanpun penyakit ini hadir kembali, setidaknya adalah pertanda bagi saya (alarm tubuh). Bahwa ada faktor stres yang hadir dan harus dikurangi, faktor kebersihan tubuh dan asupan gizi, jika masih terkendala dokter sudah siap menanti untuk memberikan resep yang mujarab.

#IChoosetoPrevent


http://www.inharmonyclinic.com/




17 komentar:

  1. Makasih banyak Bang. Ternyata stress bisa jadi penyebab timbulnya penyakit kulit juga ya? Nambah ilmu jadinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia mas... masih sedikit yang paham, stres awalnya menderita penyakit kulit seperti ini... kebayangkan kalau stresnya berlarut-larut dan dibiarkan... :)

      Hapus
  2. kalau penyakit gatal kulit memang rada jengah ke dokter, bang kornelius. Kalau sudah sembuh penyakit kulitnya, bisa muncul lagi kah kalau terkena stress lagi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. penyakit kulit ini akan selalu muncul mba R. Windhu.. jika stres kembali melanda :)

      Hapus
  3. kebayang deh gatalnya ya, pingin digaruk aja.
    Nggak boleh stres2 berarti nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sederhananya gitu mba.. Setidaknya menjauhi juga hal2 yg dapat memicu stress :)

      Hapus
  4. zaman sekarang nama penyakit macam" ya mas hehe jadi ngeri nih hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. Iya juga mas.. Tapi setidaknya menuntut kita untuk tetap berhati hati dan waspada serta menghargai kesehatan yg dimiliki saat ini...

      Hapus
    2. Hehehe.. Iya juga mas.. Tapi setidaknya menuntut kita untuk tetap berhati hati dan waspada serta menghargai kesehatan yg dimiliki saat ini...

      Hapus
  5. depresi dan stress ternyata bisa menjadi pemicu neurodermatitis juga yaaa..
    keep happy blogging always,,,salam dari makassar - banjarbaru :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas... stress banyak dampaknya... neurodermatitis adalah salahsatunya :) salam kembali dari jakarta

      Hapus
  6. kulit saya itu alergi dengan debu. Kalau sudah gatal bisa cukup lama sembuhnya. Dan, kalau lagi alergi memang sebaiknya juga hindari stress. Bisa makin lama smebuhnya kalau stress

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba..stress memperlambat proses penyembuhan ya

      Hapus
  7. Waduh, baru paham..

    Segitu pengaruhnya pikiran ke fisik ya.. Kirain yang berkaitan dengan pikiran cuma buat stres aja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup..pikiran mempengaruhi kualitas fisik kita mba dewi

      Hapus
  8. Kak apa jika lukanya sudah tidak menonjol tinggal berwarna gelap kadang kemerahan apa bisa hilang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau konsultasi dan berobat ke dokter kulit pasti bisa hilang mba murni

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih