Jumat, 08 Januari 2016

Rencana dahulu atau tindakan dahulu?



Semuanya kembali kepada pilihan masing-masing. Sepertinya tidak elok untuk di perdebatkan bukan. Alih-alih berdebat terus-menerus tanpa melakukan tindakan adalah konyol. Dan melakukan tindakan tanpa perencanaan yang matang adalah “nekat”.

Rencana dahulu atau tindakan  dahulu? Membahas antara melakukan Perencanaan dahulu sebelum melakukan sebuah tindakan atau lakukan saja sebuah tindakan tanpa perencanaan sepertinya tidak akan pernah selesai-selesai. Sama seperti membahas mana yang lebih dahulu, Telur atau Ayam.

Nah untuk Telur dan Ayam sendiri saya lebih suka perkataan salah satu tokoh Stand Up Comedy, Mas Didu. Untuk mengetahui mana yang “dulu-duluan”,  letakkan ayam ditangan kiri dan telur di tangan kanan lalu lepas secara bersamaan siapa yang “sampe duluan” itu jawabannya.

Lalu kembali ke topik sebelumnya apakah perlu melakukan sebuah perencanaan atau tidak. Dalam Prinsip Manajemen sederhana di kenal adanya P O A C, Planning, Organisation, Action dan Controlling, (hehehe, ketahuan saya angkatan berapa ya,,, kalau sekarang sudah bukan POAC lagi kan) 


Artinya adalah  menempatkan perencanaan di awal sebelum melakukan sebuah tindakan.
Tapi produsen sekelas NIKE melewatkan itu dengan memberika TAG “JUST DO IT”. Lalu apakah salah melewatkan sebuah perencanaan sebelum melakukan tindakan. 

Berikut saya pernah di bagikan sebuah cerita, entah kalian menilainya lucu atau ada kebijaksanaan didalamnya. 

Biji Enau
Dikisahkan disebuah desa seorang ayah memiliki angan-angan agar suatu saat keluarganya berhasil dan menjadi kaya raya. Ia memutuskan akan membudidayakan enau, salah satu tanaman penghasil Gula Enau. Ia pun memutuskan untuk pergi ke pasar bibit membeli bibit enau bersama anak laki-lakinya yang masih kecil.

Dengan antusias sang ayah memilih setiap bibit enau yang terbaik di bantu sang anak. Saking semangatnya ia berujar kepada anaknya, “nak, nanti kalau Enau kita sudah tumbuh besar dan menghasilkan sesuatu. Ayah akan belikan kuda kecil, nanti kuda kecilnya  kita pelihara sama-sama hingga besar. Tapi sebelum besar jangan kamu naiki ya. Takutnya nanti kuda itu mati.”

Si anak yang usainya masih kecil menjawab sekenanya, “engga ah, nanti aku naiki kuda kecilnya.” 

Jangan, sambung si ayah, kudanya masih kecil nanti mati.

Engga ah, potong sianak, pokoknya akan aku naiki.

Si ayah mulai “gerah”, “di bilang jangan dinaiki kok kamu keras kepala. Kudanya masih kecil, nanti bisa mati, tau ngga.”  Jangan di naiki ya, lanjut sang ayah, mulai tidak sabar. 

Tetap sianak menjawab dengan gelengan kepala dan perkataan tidak.

Ayah sudah mulai hilang kesabaran, di tengah pasar bibit buah enau, suaranya mulai meninggi. “Dasar anak kurang ajar di bilang jangan di naiki kudanya, malah keras kepala“. Ditempelenglah si anak di tengah riuhnya pasar.  Sempat menghindar dari pukulan si ayah, semakin membuat sang ayah gusar. 

Dipukulah sang anak hingga babak belur, beruntung tidak sampai mati,  itupun baru berhenti ketika di pisahkan oleh pedagang dan pembeli-pembeli bibit lainnya. 

Lalu dibawa si anak kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan sang ayah di bawa ke kantor Polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. 

Lalu bagaimana akhir ceritanya, si ayah di hukum beberapa  bulan karena melakukan kekerasan terhadap anak. Sementara anak sudah trauma terhadap ayahnya dan memilih tinggal dengan kerabat lainnya. 

Lalu dengan rencana mereka membudidayakan Enau dan memiliki seekor kuda kucil yang akan di pelihara hingga besar. SEMUANYA GAGAL TOTAL. Tidak ada lagi cerita Enau dan Kuda di masa depan. Mampu memulihkan hubungan ayah dan anak yang sudah rusak saja sudah hebat.

Kesimpulanya.
Jadi kita masih akan terus berdebat mana yang terbaik, apakah melakukan perencanaan sebelum melakukan tindakan. Atau melakukan tindakan tanpa perencanaan. Dapat juga melakukan tindakan sekaligus merencanakan pada saat yang bersamaan.

Semuanya kembali kepada pilihan masing-masing. Sepertinya tidak elok untuk di perdebatkan bukan. Alih-alih berdebat terus-menerus tanpa melakukan tindakan adalah konyol. Dan melakukan tindakan tanpa perencanaan yang matang adalah “nekat”.

Selamat Pagi…


2 komentar:

  1. Sebenarnya lebih nyaman melakukan perencanaan matang dulu, pertimbangkan untung ruginya dulu sebelum bertindak. Tapi terkadang rencana melulu malah akhirnya nggak bertindak apa-apa. Ya, semua memang tergantung pilihan masing-masing orang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba .. semuanya di kembalikan lagi bagaimana seseorang nyaman akan keadaanya dalam melakukan sesuatu...tanpa adanya unsur paksaan baik dalam merencanakan atau melakukan,,, tapi kembali lagi nanti hasilnya bisa efesienkah atau tidak :)

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih