Minggu, 30 Agustus 2015

Seminar Aku bisa (Design For Change)

Konsep yang coba ditampilkan adalah mini pameran dengan diselingi seminar singkat didalamnya. Sekaligus launching buku.

Selaku Mentri Pendidikan Anis Baswedan membuka acara ini jauh dari protokoler yang ribet, sekedar memperkenalkan diri dan bersalaman resmi sudah acara seminar dibuka.


Diawal beiau tidak lupa mengucapkan Selamat datang ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Ia bukanlah pembicara utama dalam acara kali ini. Fungsinya adalah memastikan kegiatan seperti ini berjalan dengan baik dan banyak manfaat yang dihasilkan. 

Penampilan dari salah satu sekolah pendukung gerakan aku bisa
Orangtua termasuk pegiat pendidikan 24 jam. Sambung beliau. Penghalang potensi adalah pandangan sempit dalam  mendidik anak.

Ada ungkapan yang berkesan "Markable but not remarkable". Bisa dinilai tapi tidak menarik.
Bagaimana kita selaku orang tua dituntuk membuat anak-anak remarkable, menarik. 

Ruang yang di jadikan tempat seminar ini dinamakan ruang Ki Hadjar Dewantara. Sedari awal niat beliau adalah menjadikan sekolah itu sebuah taman. Taman yang menarik yang didalamnya kita bisa bebas berkreasi melakukan hal positif.  Design for change sendiri sudah merambah 35 negara. 

Dimana anak-anak mendapatkan "senjata" baru berupa design thinking untuk membantu menyelesaikan masalah yang muncul. Kemetrian mendukung penuh hal ini. 

suasan di luar
Semua kita perduli terhadap masa depan bangsa. Orang tua yang hadir juga orangtua yang perduli terhadap perkembangan anak. 

Bukan hanya mengadopsi tetapi memunculkan ide ide baru di Indonesia. Iwan Pranoto selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di India menambahkan, Permasalahannya bukan di "bisa" tapi di "aku". Bagaimana mengajarkan anak-anak mengatakan aku bisa. Bagaimana anak menjadi seorang pahlawan. Dan tidak hanya disebuah negara tapi diseluruh dunia.

Penggagas Design For Change itu sendiri adalah Kiran Bir Sethi, berkebangsaan India yang berdasarkan pengalamannya dalam mendidik anak, secara berkesinambungan mengembangkan konsep design for change ke beberapa negara. 

Everything you see arround you is designed by man except nature. I design to make different. Not design to be diferrent.

Riverside 2001 sudah menelurkan design thinking.  Feel, imagine, do, share. FIDS = I CAN SUPER POWER.

Change is possible i can drive it.  Lesson not for a test but for a life.  Kunjungi Riverside.banyak video menarik disana. Www.dfcworld.com, moto mereka One belief every child can.

Right now Super power are honesty, kindness, openmind. Created Not by change but by design.


Penampilan anak pendukung gerakan aku bisa
Alka dan Arier murid kelas 1, mencoba menunjukan design for change mereka. Sekolah kembang.
Pahlawan super. Orang yang membantu orang yang kesusahan. Ada tanaman kekeringan. Selang rusak. Kolam renang yg kotor. Kami memutuskan untuk menyelamatkan air.
Jadi kami menyelamatkan air dengan cara memakai air secukupnya.

Profesor iwan Pranoto, Atase Indonesia di India.
Sebenarnya  "aku bisa" bukan di "bisa" tapi di "aku".  Jangan menjadi orang tua yang gagal. Sederhana caranya yaitu percayai anak kita. Biarkan anak2 memimpin kita, perbolehkan dan percayakan. 

Banyak yang memaksa anak diukur dengan alat yang tidak tepat. Kurikulum penting, tetapi tidak ada negara yang berhasil karena kurikulum seberapapun baiknya itu. Peranan anak juga sudah merupakan penting.

Terakhir adalah peluncuran buku aku bisa.

Diawal acara, Saya sempat mengunjungi Booth dari Sekolah Cikal Amri, mereka melakukan gerakan aku bisa dengan mengunjungi sebuah desa. Dimana desa tersebut menghasilkan teh yang kualitasnya tidak kalah dengan teh yang beredar di gerai-gerai teh modern. Hanya saja kemasan mereka kurang mendukung. Ikra Wiratama, salah satu siswa CIKAL AMRI menjelaskan secara gamblang konsep yang mereka tawarkan adalah mengemas teh dari penduduk lokal. Sehingga memiliki tampilan yang jauh lebih baik.
Wira dengan proyek Aku Bisa

Kemasan Teh yang berhasil mereka buat
Lain lagi cerita dari sekolah Lazuardi, berangkat dari kepedulian salah satu siswa mereka melihat warga sekitar yang masih belum lanca menggunakan bahasa inggris, maka ia memutuskan untuk membuka kelas di sekitaran tempat tinggalnya. 




Konsep AKU BISA, DESIGN FOR CHANGE sangat positif kehadirannya terutama bagi para penerus bangsa ini. Perspektif yang ditawarkan, memberikan cara memecahkan masalah tidak lagi berdasarkan teori, lebih kepada pemahaman akan Perasaan (membayangkan apa yang menjadi sebuah masalah), membayangkan (bagaimana cara terbaik memecahkannya), semangat melakukan (yang sudah dibayangkan) dan semangat untuk berbagi semuanya untuk kehidupan yang lebih baik.



2 komentar:

  1. Keren programnya, kak. Teh para petani diolah jadi lebih bagus packagingnya, bikin makin mahal harganya ya. Ini menguntungnya dari sisi penjualan. Semoga makin banyak anak muda yang berprestasi sehingga industri makin maju.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar... harapannya ke depan banyak anak muda yang berprestasi dan perduli terhadap kemajuan bangsa :)

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih