Senin, 10 Agustus 2015

Go Ojek yang menjadi dilema



Go ojek yang bergerak di bidang penyedia layanan antar menggunakan motor ke berbagai tujuan sedang marak sekali di Jakarta. Hingga akhirnya terjadi pertikaian antara Go ojek dengan ojek konvensional. Alasan yang terlontar sepele, rebutan lahan penghasilan. Kedatangan go ojek mengurangi penghasilan ojek yang sudah lebih dahulu beroperasi. 

Sementara dari kacamata konsumen, kehadiran Go Ojek sangat membantu setidaknya membuat pilihan moda transportasi semakin berada dalam genggaman. 

Beberapa waktu lalu saya ketika menggunakan mode transportasi kereta, saya sempat menggunakan jasa ojek konvensional. Dari stasiun pasar Minggu menuju Rumah Sakit Pondok Indah. Pak Agus nama pengendara Ojek Konvensional itu. 


Beliau menuturkan dalam sebulan penghasilan yang ia dapatkan minimal sekitaran 3 jutaan. Sudah bersih dan sudah dipotong biaya operasional sehari-hari dan biaya perawatan motor. Dengan penghasilan itu ia menghidupi seorang istri dan 3 orang anaknya. Yang paling besar sudah duduk di kelas SMA, sementara yang terkecil masih duduk di sekolah dasar. 

pak agus (dok. pri)
Beliau yang merupakan perantauan dari Surabaya dan sudah menekuni Ojek sekitaran 3 tahunan ini menceritakan sedikit keberhasilannya. Setidaknya dari hasil mengojek ia sudah mampu melunasi motor dan membiayai keluarganya. Dari ojek pula setidaknya ia mampu pulang kampung setahun sekali atau sesuai kebutuhan. Sebab sampai saat ini anaknya masih ada yang disekolahkan di kampung demi menghemat biaya. Kedepannya ia berharap mampu memboyong semua keluarganya untuk hidup di Jakarta. 

Saya beranikan untuk bertanya pendapat beliau mengenai kehadiran Go Ojek. Awalnya memang beliau sangat keberatan dengan kehadiran Go Ojek yang ditengarai akan mengurangi penghasilannya. Tapi ia mengakui belum mengerti benar arti keberadaan Go Ojek. 

Saya mencoba memahami dari sudut pandang beliau. Hingga pak Agus sedikit salah arah menuju rumah sakit pondok indah dan saya mencoba membantunya dengan menggunakan aplikasi map (peta) yang ada di smartphone. 

Ia menduga pastinya sulit menggunakan aplikasi peta dan pastinya harga teleponnya mahal. Ia langsung menanggapi bahwa ia sudah tua dan tidak mengerti dengan segala perangkat tadi. Pelan-pelan sambil menunjukkan arah sebenarnya ke tujuan, saya mencoba menjelaskan semampunya. 

Setelah sukses sampai di tujuan dengan bantuan peta dari aplikasi smartphone, sekilas dari matanya menatap kagum dengan perangkat yang saya gunakan. 

Seandainya pak, saya bertanya ke beliau, ada yang mau mengajari bapak menggunakan alat ini. Apakah pak Agus mau menggunakannya, sebenarnya ini konsep sederhana dari Go Ojek pak. Dengan bantuan alat ini bapak bisa menjumpai konsumen di manapun tanpa perlu menunggu di pangkalan lagi. 

Tetap kekhawatiran beliau jika gagal menggunakan aplikasi yang ada dan tidak mendapat penumpang bagaimana nasib ia dan keluarganya. Jika dengan menggunakan aplikasi di telp genggam akan semakin banyak mendatangkan konsumen yang menggunakan jasanya ia tidak keberatan sebenarnya.
Kesimpulan terakhir sebelum saya membayar jasa beliau yang sudah berbaik hati mengantarkan saya, ia mungkin akan mau menggunakan aplikasi di smarphone selama ada yang mendampingi dan alat pendukungnya bisa dijangkau kantongnya dan mampu mendatangkan konsumen lebih lagi. 

Lalu bagaimana jika Go Ojek mampu menyediakan atau setidaknya menjawab beberapa keraguan pak Agus, apakah pak Agus masih ragu untuk bergabung dengan Go Ojek. Ia hanya tersenyum, tidak menjawab iya ataupun tidak. Sambil menerima ongkos dari saya ia pun berlalu dan berkata sampai jumpa lagi. 

Mungkin dari percakapan sederhana dengan pak Agus, meskipun tidak mewakili keseluruhan dari ojek konvensional. Dapatlah ditarik kesimpulan, perbedaan yang terjadi bukan karena rebutan lahan penghasilan tapi lebih kepada ketidaktahuan pemanfaatan teknologi yang ada, sementara tidak ada yang mendampingi dan memberikan pengetahuan lebih. Jadilah yang satu iri akan keberadaan yang lain. 

Mungkin hasilnya akan berbeda jika diadakan sosialisasi sedari awal sebelum munculnya perbedaan sudut pandang. Memang pastinya akan selalu ada perbedaan sudut pandang, tapi setidaknya perbedaan itu tidak meruncing dan menjadi pemicu untuk memulai pertikaian yang dimanfaatkan dan diinginkan oleh segelintir pihak. 

Selamat malam.


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih