Senin, 20 Juli 2015

Lamaran oh Lamaran (Resensi Film Lamaran)


Maraknya Film Indonesia karya anak bangsa sedang bergeliat, lihat saja akhir-akhir ini beberapa XXI disuguhi dengan film lokal, tidak hanya dari yang ber-genre serius dengan banyak pesan moral didalamnya, beberapa lainnya belakangan muncul  dengan genre komedi. Yang sekedar menghibur dan melepas kepenatan dari rutinitas yang ada. 

Sepertinya Film Lamaran dapatlah dijadikan sebagai referensi film ringan yang menghibur.
Suasana libur lebaran bagi sebagian kalangan dimanfaatkan untuk momen saling mengunjungi, pulang kampung dan lainnya. Selesai dengan itu semua apalagi yang bisa dilakukan. Beberapa melakukan wisata kuliner-an, beberapa lainnya tetap tinggal di rumah membereskan sisa ke-riuhan yang tertinggal. 

Sambil menunggu kembali beraktivitas normal seperti biasa, film ini masih layak kok untuk disaksikan bersama keluarga. 


Sekilas mengenai Lamaran
Mengambil latar belakang dua kebudayaan Batak dan Sunda. Batak diwakili oleh sosok Tiar Sarigar, diperankan oleh  Acha Septriasa, seorang pengacara di kantor Marudut LawFirm yang jarang mendapatkan kasus-kasus besar. Sosok Aan, diperankan oleh Reza Nangin, Resepsionis di kantor yang sama.

Diceritakanlah LawFirm Marudut mendapatkan sebuah Kasus yang melibatkan mafia besar. Tiar Lah satu-satunya yang berani dan diberikan kesempatan untuk menangani kasus ini. Hanya saja Mafia besar yang tidak mau kasusnya terungkap menyewa seseorang untuk melakukan teror terhadap Tiar.

Sementara itu, dua agen intel (jangan dipikir ini agen intel beneran ya) Sasha dan Ari ditugaskan oleh seseorang untuk melindungi Tiar. Salah satu tugas mereka membuat Aan yang bertugas sebagai Resepsionis menjadi “pacar” sementara Tiar.


Cerita pun berlanjut, Aan yang merupakan keturunan suku Sunda, memperkenalkan Tiar kepada ibundanya. Pun demikian dengan Tiar, mengenalkan Aan kepada keluarga Bataknya. Disinilah kelucuan-kelucuan dimulai.  Kalau kalian pernah menyaksikan Film kabayan Saba Kota atau Sinetron Pariban dari Bandung, sepertinya bisalah Film Lamaran terinspirasi dari ke 2 film tadi. Setidaknya itu menurut saya.

Ibunda Tiar, dengan logat Batak yang khas keras, berusaha dominan terhadap ibunda  Aan yang notabene orang Bandung dengan budaya “kalem”nya. Apapun diatur dan dikomentari-nya, mulai dari rumah Aan yang terlalu kecil, dekorasi yang berantakan dan lainnya. Aan sendiri dibantu agen Sasha dan Ari melakukan upaya agar diterima oleh keluarga Tiar.

Meskipun sarat dengan unsur komedi beberapa pesan moral tetap disampaikan didalamnya, seperti ada salah satu dialog yang mengatakan “kejarlah sesuatu yang kau cintai hingga mati sekalipun” jangan pernah meremehkan kekuatan cinta.

Dibeberapa lainnya ada humor miris juga loh “ orang Batak itu banyak yang bekerja dibidang hukum, ada Hakim, ada polisi, ada Jaksa, ada juga Pengacara, bahkan TERSANGKAnya pun orang Batak 


Lalu bagaimana kisah Tiar dan Aan yang berpura-pura berpacaran, lalu gembong Mafianya apakah tertangkap?  Lalu siapa sebenarnya yang menugaskan agen intel tadi? 

Sepertinya untuk sisanya kalian harus menyaksikan sendiri ya, ayo ramaikan kembali industri Film Indonesia dengan menyaksikannya langsung di Cinema kesayangan kalian, jangan beli bajakannya.

Berikut Yang terlibat dalam Lamaran kali ini : 
Sutradara Monty Tiwa
Produser  Gope T Samtani, Sunil Samtami
Penulis Skenario Cassandra Massardi
Pemain Acha Septriasa, Reza Nangin, Ari Kriting, Sacha Stevenson

4 komentar:

  1. Lucu banget Filmnya, pengen nonton sebagai hiburan hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ringan dan memang hanya untuk menghibur...:) #Salamkenalan ya

      Hapus
  2. Akhirnya bisa memberikan komentar juga setelah beberapa kali gak bisa-bisa. Sepertinya filmnya lucu dan menghibur. Mau dicari ah buat hiburan di rumah karena ditinggal mudik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... selamat mencari mas Timur.. :)

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih